Andaikata kompetisi tetap berlanjut pun, maka pertandingan dipastikan tak akan ada penonton. Opsi ini sebenarnya juga membuat cemas para pemain Persis Solo, terutama kaitannya dengan sisi finansial klub. Para pemain menyadari, situasi Persis saat ini memang cukup sulit. Mengingat untuk menggaji pemain Persis saja mesti dicicil.
Bulan lalu, pemain Persis menerima transferan tiga kali. Mulai dari 10 persen di awal Mei, lalu 15 persen di pertengahan bulan, dan 10 persen di akhir bulan. Namun angka tersebut belum angka 100 persen sesuai gaji mereka yang biasa diterima tiap bulannya.
”Soal mekanisme pembayaran gaji, kami kurang jelas. Ini gaji buat bulan apa? dan persentase ini itungannya gimana. Nggak jelas. Kalau dari saya pribadi sih memaklumi, karena ini situasinya serba sulit. Tapi tentu inginnya ada komunikasi terkait hal ini. Tapi sudah cair saja sih Alhamdulillah sekali,” ujar salah satu pemain Persis Solo yang enggan namanya disebutkan.
Selama diliburkan karena pandemi Covd-19, keuangan Persis memang jadi perbincangan. Karena gaji pemain selalu telat. ”Kalau kompetisi dilanjutkan, saya yakin akan memberatkan manajemen. Apalagi manajemen tak mendapatkan pemasukan dari tiket penonton,” tuturnya.
Namun, terlepas dari sisi finansial, bagaimana pun para pemain sudah merasakan kerinduan yang amat sangat untuk bisa merumput lagi. Sehingga keinginan agar kompetisi tetap lanjut tentu tetap ada. Tapi, tentu dengan protokol kesehatan yang mesti ketat diterapkan. Baik itu dari pemain, pelatih, official, dan stakeholder lainnya.
”Harapan kami tentu inginnya jalan terus. Tapi cek kesehatannya bisa benar-benar ketat kalau dilanjutkan. Tak hanya saat mau pertandingan, namun saat latihan juga harus diberlakukan,” terang salah seorang penggawa Persis itu. (nik/ria)
Editor : Perdana Bayu Saputra