Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Saat Persis Solo Jalani Away ke Sleman, Mungkin Tidak Tret-tet-tet

Damianus Bram • Senin, 5 September 2022 | 14:10 WIB
RESPECT: Spanduk yang dibentangkan Garis Keras Sambernyawa dalam laga Persis Solo kontra PSIS Semarang di Stadion Manahan, Sabtu (3/9). Spanduk ini didedikasikan suporter PSS Sleman. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
RESPECT: Spanduk yang dibentangkan Garis Keras Sambernyawa dalam laga Persis Solo kontra PSIS Semarang di Stadion Manahan, Sabtu (3/9). Spanduk ini didedikasikan suporter PSS Sleman. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SOLO Persis Solo akan menjalani matchday kesembilan Liga 1 di kandang PSS Sleman. Tepatnya di Stadion Maguwoharjo, Sabtu (10/9). Namun, Laskar Sambernyawa –julukan Persis Solo– sepertinya tidak akan ditemani pemain ke-12 alias suporter.

Akhir-akhir ini, menyeruak kabar pendukung setia Persis Solo tidak akan hadir ke Maguwoharjo. Bukan karena boikot, melainkan wujud solidaritas. Publik bola Kota Bengawan ingin memberikan penghormatan kepada mendiang Aditya Eka Putranda, pendukung PSS Sleman yang meninggal dunia, Sabtu (27/8). Usai menyaksikan laga PSS kontra Persebaya Surabaya.

Garis Keras Sambernyawa dalam akun Instagram @pgk1923 menginstruksikan kepada anggotanya, supaya tidak tret-tet-tet ke Sleman. Selain solidaritas antarsuporter, juga mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan sepanjang perjalanan.

“Naik kasta yang sesungguhnya bagi kami (GK), adalah menahan diri untuk tidak nekat datang ke Sleman. Kami menghormati kawan-kawan Sleman fans yang sedang berduka,” tulis akun @pgk1923.

Bentuk dukungan juga terlihat saat Persis menjamu PSIS Semarang di Stadion Manahan, Sabtu (3/9). Garis Keras Sambernyawa membentangkan spanduk di tribun utara. Bertuliskan “Nilai Pengorbananmua Tak Terangka, Rest In Peace Adhitya Sleman Fans. Sepak Bola Tak Lebih Berharga Daripada Nyawa”.

Di tribun timur, Surakartans juga membentangkan spanduk bertuliskan “Stay Strong Sleman Fans”. Termasuk di tribun B7, dengan tulisan “Tidak Ada Sepakbola Seharga Nyawa Manusia”.

Terkait niatan tidak hadir di Maguwoharjo, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pasoepati sudah mendengar kabar tersebut. Saat ini jajaran DPP sedang berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik.

“Secara organisasi belum diputuskan. Tapi kami siap untuk tidak ke Sleman. Kami ikut berbela sungkawa atas meninggalnya rekan kami di Sleman. Semoga kasus seperti itu tidak terulang lagi,” terang Presiden DPP Pasoepati Maryadi “Gondrong” Suryadharma.

Saat dikonfirmasi terkait wacana tersebut, manajemen Persis tidak mempermasalahkan. Justru manajemen menghormati keputusan tersebut.

“Ini sikap penghormatan pendukung Persis kepada suporter PSS yang tengah berduka. Ke depan kami akan berkoordinasi dengan suporter Persis. Sepertinya akan fokus nobar (nonton bareng) saja di laga ini,” terang Media Officer Persis Solo Bryan Barcelona.

Sementara itu, pendukung PSS Sleman Brigata Curva Sud (BCS) memastikan urung hadir ke stadion. Tak hanya saat PSS menjamu Persis, namun juga laga kontra Dewa United (4/9), Persikabo 1973 (15/9), hingga Persita Tangerang (29/9).

“Dalam sebulan lalu kami kehilangan dua keluarga yang selalu setia berdiri di tribun. Banyak sekali hal yang bergejolak di benak dan pikiran kami. Terutama memberi waktu dan penghormatan bagi keduanya. Izinkan kami meresapi jauh lebih dalam, pasca rentetan peristiwa yang tak terhindarkan,” tulis akun BCS @bcsxpss.1976. (nik/fer) Editor : Damianus Bram
#surakartans #persis solo #Persis Solo vs PSS Sleman #pss sleman #Garis Keras Sambernyawa #pasoepati