Tampil di Negeri Jiran, skuad asuhan Leonardo Medina ini ingin meraup hasil maksimal. Sekaligus mengukir kemenangan kedua atas tim yang sama. Sebagai catatan, Persis Solo pernah mempecundangi JDT 3-2, dalam ekshibisi di Stadion Sriwedari, 1994 silam.
Kans bond kebanggan wong Solo memenangi laga cukup tebuka lebar. Karena Medina sangat paham dapur JDT. Maklum, nakhoda impor asal Meksiko ini sempat menjadi asisten pelatih JDT selama tiga musim terakhir.
Faktor lainnya, yakni keberadaan bomber Fernando Rodriguez. Tukang gedor asal Spanyol ini juga baru saja ditarik Persis dari JDT. Dipastikan dia sangat hafal skema pertahanan yang diterapkan mantan klubnya tersebut.
Satu lagi yang menjadikan Persis lebih superior di mata JDT, yakni komposisi pemain host yang ala kadarnya. Kemungkinan besar JDT akan menurunkan banyak pemain pelapis. Termasuk centerback pemain naturalisasi Timnas Indonesia asal Spanyol Jordi Amat. Maklum, tim berjuluk Harimau Selatan ini baru saja main habis-habisan, kontra Kelantan FA di ajang Piala Malaysia.
“JDT FC adalah klub besar. Salah satu yang cukup berpengaruh di Asia. Mereka juara liga di Malaysia, dengan komposisi pemain lokal dan asing yang bagus. Sesuatu yang bisa menjadi contoh,” ungkap Medina, Jumat (11/11).
Sementara itu, TC Persis dipusatkan di training gorund JDT. Tak sekadar mengasah pemain, TC kali ini juga dimanfaatkan jajaran manajemen dan tim kepelatihan untuk menimba ilmu. Terkait pengelolaan sepak bola profesional di Negeri Jiran. Di sana, mereka menyambangi training ground JDT di Padang Seri Gelam. Termasuk kandang JDT, Stadion Sultan Ibrahim di Iskandar Puteri.
Di sela-sela kunjungan, Persis disambut Sporting Director JDT Martin Prest. Dia mengaku sudah satu dekade di klub tersebut. “Sudah 10 tahun bersama tim, baik JDT FC ataupun JDT FC II. Semua orang yang terlibat di klub sudah seperti keluarga,” ujarnya.
Diakui Martin, JDT melakukan revolusi besar-besaran terhadap wajah sepak bola di Malaysia. Di bawah kendali big bos Tunku Ismail Idris ibni Sultan Ibrahim, yang merupakan crown prince of Johor (TMJ).
“Setelah TMJ mengambil alih JDT, kami melihat perubahan besar. Di sepak bola, peran pelatih, manajemen, pemain, dan yang lainnya semua penting. Tapi tanpa pemimpin yang baik, akan sulit. TMJ berperan di setiap hal yang ada di JDT,” pujinya.
Nah, revolusi yang digeber JDT tersebut, coba diimplementasikan di Persis. Sejak diakuisisi trio Kaesang Pangarep, Aga Thohir, dan Kevin Nugroho, Laskar Sambernyawa menjelma jadi klub profesional. Termasuk aktif mengembangkan pemain muda lewat akademi, serta membangun tim wanita (Persis Women).
“Kami sudah mengunjungi training ground JDT dan stadionnya. Saya rasa ini hal yang sangat baik. Banyak aspek positif yang kami dapat. Ke depan, kami bisa belajar bagaimana menjadi first class club. Kami melihat semuanya di sini sangat rapi dan lengkap,” ujar asisten pelatih Persis Solo Rasiman.
Menurut Rasiman, sebuah klub akan mengalami perkembangan pesat, jika didukung keberadaan training ground. “Itu (training ground) paling urgensi. Sebetulnya Persis bisa memodifikasi dengan fasilitas yang ada saat ini. Contohnya mengakuisisi Stadion Sriwedari. Karena saat ini kami hanya memiliki lapangan untuk latihan saja,” urainya. (nis/nik/fer) Editor : Damianus Bram