Ketika UNSA FC mengalahkan Persika Karanganyar dengan skor 2-0 di Stadion Citarum (13/12). Kala itu, kekuatan kedua kubu sejatinya hampir sama. Bahkan pelatih Unsa FC Agung Setyobudi dan Direktur Teknis Persika Aris Budi Sulistyo (ABS) sama-sama menyetujui hal tersebut.
“Secara permainan sama saja. Cuma lawan bisa memanfaatkan peluang yang ada. Ini akibat dari kekalahan kami,” beber ABS ketika dihubungi Jawa Pos Radar Solo, Rabu (14/12).
Meski begitu, kekalahan tersebut tetap menyakitkan bagi ABS. Laskar Singo Lawu –julukan Persika- tampil dengan kondisi yang kurang bagus. Persiapannya saja hanya sehari setelah istirahat selama satu setengah bulan.
“Sebetulnya lawan sama (persiapan minim). Cuma lawan masih ada latihan di Poprov (Surakarta, red),” imbuh eks pelatih Persik Kediri tersebut.
Satu lagi, faktor kekalahan Persika berasal dari kurang konsentrasinya pemain. Menurut ABS, konsentrasi berhubungan dengan kondisi dan kebugaran pemain. Imbasnya, gawang Yogik Fedona berhasil digetarkan dua kali oleh Aji Eko Sulistiono (17’, 65’).
“Sepak bola itu memerlukan kebuagran yang prima. Karena kami main 90 menit. Kebugaran tidak bisa dinomer duakan. Nah, kedua kebobolan karena kesalahan kami sendiri. Ketika penguasaan bola bisa disrobot, ditambah kiper yang tidak siap,” jelasnya.
Fasilitas di Stadion Citarum juga disoroti oleh ABS. Menurutnya, lapangan dengan rumput sintetis cukup menyulitkan. Ditambah cuaca yang begitu panas. Tentu ini bakal menguras tenaga pemain.
“Penerangan lampu kurang bagus (di Citarum). Kiper kami katanya agak silau juga. Untungnya kemarin main malam. Kalau siang sudah tidak tahu berapa yang cedera,” tambahnya.
Di pertandingan selanjutnya, Persika yakin akan mencuri poin. Bagaimanapun caranya, Kamis hingga Jum’at (15-16/12) mendatang, mereka akan mengumpulkan semua pemain untuk berlatih kembali.
Sementara itu, Pelatih Unsa Agung Setyobudi mengatakan timnya siap menghadapi siapapun lawannya. Sejatinya, pasca kompetisi distop latihan Unsa tak terlalu rutin. Hanya saja semua pemain memiliki kesadaran diri.
“Mereka sudah dewasa, sudah tahu harus bagaimana. Para pemain sadar diri, masih pengen main bola. Kalau main bola ya harus jaga diri dan kondisi. Karena yang dijual dari pemain bola itu kebugaran,” imbuh Agung.
Selama kompetisi distop, Agung membebaskan pemainnya untuk berlatih dengan berbagai cara. Termasuk mengikuti tarkam. “Ada yang ikut tarkam. Saya anggap itu latihan,” pungkasnya. (nis) Editor : Niko auglandy