MANNISA ELFIRA, Solo, Radar Solo
Saat masih jadi balita berusia empat tahun, Habil Akbar dibelikan bola balon bergambar buah-buahan oleh kakeknya. Tak ragu, dia yang kala itu masih memasuki bangku playgroup tersebut mulai senang menendang bola tersebut. Hatinya terpikat seketika dan sejak saat itulah dia suka bermain bola di rumah.
Seiring berjalannya waktu, seperti tidak ada hari tanpa bola. Ketika duduk di bangku SD, Habil tidak melewatkan momen untuk main bola bersama teman-teman sekampungnya.
Sepak bola bukan hanya sebatas hobi bagi anak kelahiran Sragen tersebut. Mulai kelas IV SD, dia memberanikan diri masuk sekolah sepak bola di PSB Bonansa Solo. Keseriusannya di dunia sepak bola mulai tumbuh, namun jalannya tak langsung mulus. Jarak rumahnya di Gemolong Sragen ke Solo menjadi tantangan. Terutama bagi orang tuanya, yang harus mengantar jemput Habil.
“Setiap Senin, Rabu, dan Jumat, habis pulang sekolah ibu langsung jemput. Sekitar pukul 14.00 siang berangkat ke Lapangan Sumber, kalau tidak di lapangan Banyuanyar. Kalau Minggu, saya berangkat pagi,” ungkap dara kelahiran 25 Mei 2006 tersebut kepada Jawa Pos Radar Solo.
Habil dan ibunya Meiana Surya Ningsih harus bolak-balik Sragen-Solo empat kali seminggu. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih satu jam. Apalagi kala itu kondisi jalan Sragen-Solo bisa dibilang parah.
“Sebenarnya pengaruh di fisik saya karena perjalanannya jauh. Apalagi saya masih kecil saat itu. Tapi namanya sudah senang, orang tua mendukung. Jadi capeknya tidak terasa,” bebernya.
Tak hanya berlatih, Habil mulai ikuti audisi juga. Yakni saat duduk di bangku kelas III-IV SD, dia ikut Lotte Kids FC Indonesia. Itu semacam audisi reality show. Awalnya dia mengirim video untuk seleksi tim. Seleksi berjalan ketat. Syukurnya, Habil masuk dalam deretan nama peserta yang lolos.
“Terus ditandingkan dengan akademi di Indonesia. Sempat ke Korea Selatan juga kurang lebih seminggu. Dulu liburan plus tanding melawan akademi yang dibuat sama legend Korea Selatan, Park Ji-sung. Banyak pengalamannya, karena itu pertama kalinya bagi saya,” bebernya.
Kiprahnya di sepakbola juga membuat dia akhirnya bisa masuk Kelas Khusus Olahraga (KKO) SMPN 1 Surakarta.
“Waktu saya dengar ada KKO di Solo, saya langsung niatkan sepak bola menjadi tujuan hidup. Karena dulu sempat mikir, kalau masuk KKO latihannya ketat pagi hingga sore,” bebernya.
Selama bergabung ke KKO, Habil merasakan perubahan di fisiknya. Mengingat, latihan KKO digeberkan dua kali sehari. Banyak tantangan yang berada di depan mata Habil. Salah satunya ketika pelatih menginstruksikannya untuk latihan menggunakan sepatu running.
“Dulu kemampuan saya masih di bawah yang lainnya. Baik dari segi teknik maupun fisik. Jadi kelas VII di setiap latihan pagi, saya dilatih terpisah. Teman-teman pada latihan di lapangan pakai sepatu bola, sedangkan saya pakai sepatu running lari keliling Manahan. Kala itu, saya jarang dipasang sebagai starter,” katanya.
Setelah itu jalur pendidikannya sempat masuk ke KKO di SMAN 4 Surakarta, namun dia akhirnya memutuskan untuk pindah ke SMA PPLP Semarang.
“Di KKO latihannya hanya di sore hari saja. Jadi saya pindah,” katanya.
Saat ini Habil juga ikut klub junior Bhayangkara FC. Dia termasuk jajaran pemain yang ikut Elite Pro Academy (EPA) sejak 2021. Dari tim ini dia bisa mendapatkan panggilan timnas.
Hal yang tentu tak akan dilupakannya ialah saat membawa Timnas U-16 menjadi juara Piala AFF U16 2022. Dimana di partai final Garuda Muda menang 1-0 atas Vietnam dalam laga di Stadion Maguwoharjo, Sleman (12/8).
Namun karirnya tak selamanya mulus. Ketika laga kualifikasi Piala Asia U17 2023, Habil sempat menyumbangkan gol bagi Indonesia. Sayang dalam laga di Prince Mohamed Bin Fahd Stadium Arab Saudi tersebut, langkah Garuda Nusantara terhenti dan gagal lolos ke Piala Asia U-17 2023.
“Sedih, semuanya tidak pengen seperti itu sebenarnya. Namun memang belum rezekinya,” terangnya.
Setelah melewati lika-liku tersebut, Habil tak mau puas diri. Dia terus menempa diri, karena dia sadar langkahnya masih Panjang. Terlebih dia punya impian untuk bisa jadi pemain profesional di tim senior kedepannya.
“Tantangan terberat menjadi bek yakni soal fisik. Selain menjadi pemain bertahan, saya harus bisa membantu penyerangan. Karena ini era sepak bola modern, saya harus siap maju dan mundur,” bebernya. (*/nik) Editor : Damianus Bram