Drama adu penalti itu harus dilakukan setelah kedua kesebelasan anak anak usia 11 tahun Itu imbang tanpa gol di waktu normal. Dua dari tiga penendang KFC, Jourel dan Danis tidak mampu memasukkan bola. Hanya Wahab yang sukses menjalankan tugasnya dengan baik.
Sebaliknya dari Rantai Baja, dua penendangnya mampu menjebol gawang KFC.
Kejuaraan ini sendiri digelar untuk menyambut ulang tahun IM Sragen. Diikuti 16 kesebelasan, dan ada yang berasal dari luar Sragen.
''KFC mengeluarkan dua tim, selain Garuda ada juga Rajawali. Tapi yang lolos ke final adalah tim Garuda,'' beber Sunaryo.
Perjalanan KFC Garuda, diakuinya, cukup mendapat tantangan sejak awal. Di babak penyisihan, tim ini sempat ditahan imbang Porsgi (1-1) dan GFC Miri (0-0). Kesempatan lolos terbuka setelah pesta gol ke gawang Bintang Pelajar Sragen 7-0.
''Di delapan besar yang sudah memakai sistem gugur, KFC Garuda menang 2-0 atas Persig Sragen 2-0. Pertandingan terberat selain final adalah mengalahkan tuan rumah IM dengan 1-0,'' jelas lelaki yang juga pernah membela Persema Malang di Divisi Utama itu.
Meski gagal menjadi juara, tapi Sunaryo mengapresiasi perjuangan anak asuhnya. Diharapkan kegagalan itu menjadi penambah semangat untuk bisa lebih baik di event-event berikut dan terus semangat berlatih. (nik) Editor : Damianus Bram