Pelatih muda bertalenta asal Kota Bengawan ini melatih beberapa tim. Paling gres adalah Jakarta United FC yang dilatihnya. Jalan karirnya tak mudah untuk dilalui.
Masih lekat diingatan Hasnan, saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu muncul, itu jadi momen menyakitkan yang tidak akan pernah dilupakannya.
Saat itu namanya masuk dalam daftar pelatih SSB Mutiara Primavera (sekarang bernama Bintang Primavera), namun karena pandemi dia harus diberhentikan. Pandemi memaksa seluruh sektor melakukan perampingan, termasuk SSB.
"Saya kalah senior dengan pelatih lain, jadi terpaksa saya yang harus dikeluarkan. Itu saya sakit hati sekali. Kecewa pastinya. Saya sempat vakum 6 bulan setelah kejadian itu," ungkap alumni SDN Bumi Surakarta ini.
Enggan larut dalam kekecewaan, dia bangkit. Enam bulan tak melatih, dimanfaatkannya untuk menambah khazanah ilmunya sebagai pelatih. Puluhan buku tentang sepak bola dilahap habis sebagai obat stresnya.
"Saya ingin seperti coach Aji Jaya Bintara, coach Nursaelan, coach Dimas Agung, dan coach Supriyono Prima yang jadi idola saya. Beliau-beliau ini layaknya dijadikan seperti perpustakaan berjalan (menimba ilmu, Red),” sambung alumni MTs Al Burhan Bandung ini.
Setelah melewati masa sulit, Hasnan kembali bangkit. Dia mengambil tawaran melatih di SSJ Arcamanik. Di sana, Hasnan melatih grassroot dan pemain usia dini.
Kesempatan emas datang kepadanya, coach Aji Jaya Bintara, idolanya sejak remaja, tiba-tiba mengirim sebuah pesan di direct message (DM) Instagram. Meminta nomor teleponnya untuk bisa dihubungi. Kaget bukan kepalang tentunya.
"Saya ingat betul itu hari Jumat, saya masih persiapan mau Jumatan. Coach Aji ini idola saya sejak SMA. Karena saya sangat kagum dengan kecerdasannya. Beliau membawa Jakarta United juara pada 2018-2019. Dulu saya pernah berucap, suatu hari saya ingin melatih Jakarta United. Siapa sangka, kesempatan itu datang kepada saya," ujar alumni SMA PGII 2 Bandung ini.
Masuk menjadi staf kepelatihan salah satu klub Liga 3 di Asprov DKI Jakarta tersebut tentu sangat berharga baginya.
"Everyone mengatakan bahwa semua mimpi saya impossible, tapi saya mempunyai keyakinan yang luar biasa terhadap diri saya sendiri. Saya yakin dengan dedikasi dan komitmen. Saya ingin bisa menjadi apapun yang saya inginkan. I've done it before, and I'll do it again. Saya sudah membuktikan sebelumnya, dan akan saya buktikan lagi sekarang," sambungnya.
Saat ini, Hasnan sudah tidak lagi ikut menukangi Jakarta United FC, namun Hasnan masih jadi tangan kanan coach Aji Jaya Bintara di berbagai kesempatan. Bahkan saat coach Aji Jaya Bintara didapuk menjadi ketua umum Liga Bola Rakyat (LIBRA). Hasnan juga dipercaya meng-handle Soloraya Premier League sebagai rangkaian event-nya.
"Saya banyak berkembang setelah empat tahun ikut beliau. Kebetulan kami sama-sama hard worker. Jadi saya bisa mengikuti ritme kerja coach Aji. Saya selalu totalitas. Karena ibaratnya, ini adalah mimpi yang saya idam-idamkan sejak dulu. Dan tidak mungkin saya di titik ini kalau tidak melewati sakit hati yang saya rasakan kemarin," imbuhnya.
Tak hanya bergelut di dunia sepak bola, Hasnan ternyata terlibat aktif di dunia modeling. Bahkan dia sering membawa pulang piagam juara sebagai foto model dan fashion show.
"Saya sering juga di-endorse untuk brand olahraga Muslim," tandasnya. (nik) Editor : Damianus Bram