RADARSOLO.COM - Nama Junaidi atau Bang Jun tentu masih cukup harum oleh para pecinta sepak bola di Kota Solo. Mantan pelatih Persis Solo versi LPIS musim 2011/2012 ini memang gagal membawa prestasi di Divisi Utama versi LPIS 2011/2012, tapi sumbangsihnya kala itu begitu besar untuk membangun bond kebanggaan Wong Solo ini.
Tepat 11 tahun yang lalu, yakni pada 15 Juli 2012 silam, suporter pendukung Persis Solo tengah berduka. Bang Jun menghembuskan napas terakhirnya.
Bang Jun menghembuskan nafas terakhirnya di lapangan hijau, tepatnya saat bermain dengan Balikpapan Allstar di Stadion Sempaja Samarinda, 15 Juli 2012 sore. Bang Jun meninggal dunia karena terkena serangan jantung. Usai kejadian jasad Bang Jun langsung dibawa ke Balikpapan.
Kabar kematiannya, terdengar hingga ke Kota Solo. Ribuan anggota Pasoepati langsung memadati Monumen Kebangkitan Nasional dan juga mess Persis LPIS yang saling berhadapan. Ribuan lilin dinyalakan di monumen tersebut. Para suporter memanjatkan doa. Isak tangis pun pecah di dua kota tersebut, baik Samarinda maupun Solo.
Junaidi ternyata tidak begitu saja meninggalkan dunia ini. Kewajiban sebagai seorang ayah masih sempat ditunaikannya. Itu dilakukan sebelum menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Sehari berselang (16/7/2021), Junaidi tetap menjadi saksi pernikahan putri sulungnya, Juana Marshellyta, dengan Yogi Alfian. Yogi adalah bek andalan Bang Jun di tim Persis LPIS musim 2011/2012. Rencana awalnya, Yogi dan Juana akan menikah pada 9 September 2012. Souvenir pernikahan juga sudah dibuat, dan saat kejadian duka itu muncul, souvenir pernikahan Yogi-Juana masih disimpan di rumah kitman Persis di Kota Solo, yakni Yuni. Karena Bang Jun tutup usia, akhirnya diputuskan prosesi pernikahan dipercepat dan digelar dadakan.
Yogi dan Juana putuskan menikah di depan jasad Bang Jun. Pandangan mata Juana saat pembacaan ijab, penuh dengan lirih air mata. Sorot pandangnya tak pernah lepas dari serabut kain batik yang membungkus jenazah sang Ayah yang tepat berada di hadapannya.
Tanpa riasan wajah yang berlebihan, Juana begitu sederhana dengan pakaian dan jilbab serba putih yang dikenakannya. Di sisi kirinya, sang ibunda, Fedianarti tanpa ekspresi di sepanjang momen acara penuh sendu itu dia perlihatkan.
Mempelai pria, yakni Yogi pun berpakaian serba sederhana. Dia mengenakan kemeja putih, dan peci hitam. Prosesi dadakan tersebut sempat sedikit ditunda karena menunggu kedatangan adik lelaki Juana, yakni Reza. Dia seharusnya menjadi wali nikah, namun belum juga tiba.
Reza masih berada di Bandara Sepinggan, Balikpapan dan tengah menuju ke Samarinda melalui jalan udara saat prosesi pernikahan tersebut akan digelar. Akhirnya melalui sambungan telepon, Reza memberikan izin agar akad nikah kakaknya bisa segera dimulai.
Dengan lancar, penggawa Persis bernomor punggung 22 tersebut mengucapkan janji sucinya sebagai seorang suami, di depan sang istri, keluarga, dan juga tentunya jasad Bang Jun. Gelaran ijab kabul begitu sederhana, sesederhana mas kawin yang diberikan Yogi pada istrinya, yakni uang tunai sebesar Rp 50.000.
Entah apa yang ada di benak Juana-Yogi lantaran harus merasakan kesedihan dan kebahagiaan di waktu bersamaan. Setelah kata “sah” terucap, sontak tangis berlinang air mata kedua mempelai pecah. Usai akad nikah dilangsungkan, tak ada prosesi foto-foto pengantin seperti momen pernikahan biasanya. Jenazah Bang Jun langsung dibawa ke pemakaman untuk dikebumikan.
Perjalanan sumbangsih Bang Jun dengan Persis Solo memang sangat singkat. Dia hanya semusim membesut tim ini. Namun dia langsung dicintai oleh para suporter dan masyarakat Solo karena sikapnya yang humble dan friendly. Walau belum bisa membawa prestasi untuk Laskar Sambernyawa, dia tetap menunjukkan dedikasi tingginya untuk bisa memberikan yang terbaik di lapangan. Akhirnya cukup wajar jika hingga saat ini namanya tetap harum dan dikenang oleh para pecinta Persis Solo. Terima Kasih untuk dedikasinya coach. (nik)
Editor : Niko auglandy