Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tak Hanya Irfan Jauhari, Deretan Pemain Persis Solo Ini Pernah Alami ACL: Jadi Sebuah Momok

Mannisa Elfira • Sabtu, 2 September 2023 | 17:45 WIB
Winger Persis Solo Irfan Jauhari saat bermain dengan tim di Liga 1 musim ini.
Winger Persis Solo Irfan Jauhari saat bermain dengan tim di Liga 1 musim ini.

RADARSOLO.COM – Irfan Jauhari harus menepi selama 6-9 bulan dari lapangan hijau karena mengalami cedera. Ini dialaminya saat membela Timnas Indonesia U-23 melawan Malaysia di ajang AFF U-23 Championship di Thailand, Jumat (18/8) lalu.

Setelah menjalani proses MRI, Jauhari didiagnosa menderita total tear ACL (anterior cruciate ligament) dan meniscus lateral tear. Langkah selanjutnya akan dilakukan tindakan operasi padanya.

Sebelumnya, cedera yang sama juga dialami pemain Persis Solo lainnya, mulai dari Alfath Fathier (Agustus 2022), Zanadin Fariz (Maret 2023), dan Muhammad Riyandi (Mei 2023). Semua nama-nama ini belum sembuh dan masih menepi.

Bagi pemain sepak bola, ACL memang jadi momok. Karena tak sedikit pemain yang harus gantung sepatu karena cedera ini. Tapi masih banyak yang masih bisa tertolong dengan langkah-langkah yang tepat. Selain mereka harus naik ke meja operasi, terapi dan proses pemulihan panjang, membuat para pemain harus bersabar untuk bisa kembali bermain. Apalagi, pascasembuh mereka pun harus mengembalikan psikis agar bisa kembali ke top performance.

Dosen Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Bambang Wijanarko menjelaskan cedera ACL merupakan kerusakan pada ligamen lutut anterior.

“Ligamen adalah sambungan tulang dengan tulang. Di lutut, ligamen yang samping luar itu LCL (lateral collateral ligament). Kalau di dalam itu MCL (medial collateral ligament). Kemudian tengah menyilang itu ada ACL yang depan, yang belakang PCL (posterior cruciate ligament),” jelas Bambang, Jumat (1/9).

Cedera ini bisa diakibatkan oleh trauma (benturan) atau overuse (digunakan terus menerus). Sehingga menyebabkan ligamen itu bisa terulur, sobek, atau bahkan putus.

Andai ligament terulur, itu termasuk cedera ringan. Meski dikatakan ringan, sakitnya juga terasa. Kemudian cedera sedang, ukuran sobeknya mungkin 1/3 dari ligamen. Sementara cedera berat itu sampai 2/3 atau lebih.

“Atau malah putus. Itu perlu operasi atau dibuatkan ligamen lagi. Karena ligamen yang sobek, yang putus tidak bisa nyambung sendiri. Itu berbahaya sekali,” tutur Bambang.

Semisal cederanya terulur tidak sampai operasi, atlet harus tetap mengikuti latihan pascacedera. Sehingga belum bisa langsung ikut dalam kompetisi. Harus ada latihan-latihan dulu untuk menguatkan otot-otot disekitar sendi.

"Misalnya lutut, yang dikuatkan paha atas, depan, belakang, hingga hamstring. Otot betisnya juga harus dikuatkan, supaya bisa melindungi sendi yang cedera itu," bebernya.

Selain itu, ada sejumlah hal yang perlu dipulihkan. Contohnya kelenturan hingga kelincahan. Baru masuk ke program latihan seperti biasa. Jangan sampai dipaksa hingga berakibat cedera permanen.

"Nah untuk mengetahui ringan atau beratnya, harus mengetahui sobeknya. Setidaknya harus MRI (magnetic resonance imaging) dulu. Kalau rontgen saja tidak kelihatan," tambahnya.

Lantas bagaimana untuk menghindari cedera ini? Bambang mengatakan, otot-otot harus diperkuat terlebih dahulu. Karenanya dalam program pelatihan, yang dilakukan pertama adalah strengthen.

"Selain strength juga daya tahannya dilatih dulu. Setelah itu baru melatih power," tambahnya. (nis/nik/ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#persis solo #ACL #Irfan Jauhari #cedera