RADARSOLO.COM - Jersey sangat penting bagi sebuah klub. Sebab, menjadi sebuah identitas. Nah, sejumlah klub-klub Liga Indonesia. Mulai dari Liga 1 hingga 3 banyak yang memilih menggandel apparel lokal.
Ambil contoh kontestan Liga 1 Persik Kediri. Dua periode lalu, klub berjuluk Macan Putih itu menggandeng apparel lokal asal Sragen, DJ Sport. Mereka mempercayai apparel tersebut untuk membuatkan seragam perang Persik. Tapi musim ini, kontrak mereka sudah berakhir.
"Memang kontraknya berakhir. Dan musim ini ada beberapa penawaran dari beberapa apparel lagi. Tapi setahu saya, bisa dicek di sana, DJ masih jualan jersey Persik (musim) kemarin. Sepertinya ada (fans) yang masih cari-cari juga," kata Media Officer Persik Kediri Haryanto kepada Jawa Pos Radar Solo.
Alasan Persik memilih DJ, kata Haryanto, karena saat itu kerja sama antara Persik dan apparel sebelumnya telah berakhir. Kemudian ada beberapa apparel yang memberikan penawaran. Nah, dari sejumlah penawaran itu pihak DJ yang cocok dengan kebutuhan tim.
“Kami cukup puas dan mengapresiasi. Apalagi DJ punya beberapa pilihan. Seperti supporter version hingga player issue. Tidak hanya untuk tim, tapi bagaimana fans juga tidak kesulitan untuk membeli. Saat itu penjualan jersey juga naik," kata Anto.
Tak hanya tim dari Liga 1, sejumlah tim Liga 3 juga memilih memaksimalkan apparel lokal. Salah satunya Putra Surakarta FC. Klub ini bekerja sama dengan brand asli Kota Bengawan, Oliver Apparel.
"Misi kami membantu UMKM lokal Solo. Bagus kok kualitasnya, teknologinya berkembang," kata founder Putra Surakarta FC Muhammad.
Hal ini juga dikatakan oleh Manager Putra Surakarta FC Revellino Rinaldo. "Kalau pemilihan brand, kami support local brand. Khususnya produk asli Solo," ujarnya.
Putra Surakarta telah mempercayai Oliver sejak Liga 3 terakhir. Desain-desain ini ternyata dibuat oleh owner klub ini.
"Design dari kami (klub). Untuk pemilihan design, itu dari owner kami. Karena kebetulan owner kami suka mendesain jersey," tambahnya.
Kontestan Liga 3 lainnya UNSA FC juga menggenakan produk lokal asli Solo. Mereka menggandeng Gold Apparel. Soal alasan pemilihan, Manajer UNSA FC Arsela Vano mengatakan, tim memiliki hubungan yang baik dengan sang owner.
"Memang dari awal kerja sama kami ingin sama-sama sukses bareng. Kami juga ingin memaksimalkan local pride. Brand-brand lokal Solo harus maju. Tidak cuma kalangan fun football saja. Tapi kami dorong juga agar mereka bisa masuk ke kompetisi resmi Liga 3 atau Liga 2. Syukur-syukur bisa ke Liga 1," kata Vano.
Soal kualitas, Vano tak meragukan. Menurut dia, kualitas apparel di Gold bagus. Selain itu, Gold juga mampu memenuhi desain yang diinginkan oleh manajemen tim.
"Jersey kami unik. Yang jersey warna putih itu peta eks Karesidenan Surakarta. Bahkan banyak yang pre-order. Sampai ada komunitas pecinta jersey dari Jakarta dan Bandung juga pesan," kata Vano.
Berbeda dengan Persis. Di era kepemimpinan Kaesang Pangarep, manajemen Laskar Sambernyawa ini memilih memproduksi jersey sendiri. Tapi hingga saat ini tidak dipublis brand yang dipakai. Ini berbeda dengan era sebelumnya, yang menggandeng apparel lokal.
Media Officer Persis Solo Bryan Barcelona mengungkapkan, tim mempertimbangkan banyak aspek. Salah satunya terkait efektivitas untuk produksi.
"Karena kami punya standar kualitas yang ingin kami jaga. Kami punya kualitas mutu sesuai standar kami. Nah, setelah (Persis) kami take over mungkin belum ada pabrikan yang sesuai dengan standar kami," beber Bryan.
Bryan menambahkan produksi sendiri masih menjadi opsi terbaik hingga saat ini. Bukan hanya dilihat dari pertimbangan produksi. Manajemen Persis juga melihat dari segi ekonomi dan cost. (nis/bun)
Editor : Damianus Bram