RADARSOLO.COM - Panasnya pertemuan antara Persita Tangerang dan Persis Solo kembali terjadi di Liga 1. Baik di dalam dan luar lapangan. Paling gres laga di Indomilk Arena, Minggu sore (22/10), terjadi kericuhan antara suporter di atas tribun penonton. Ledakan-ledakan kembang api juga sempat diletupkan saat laga berjalan.
Usai pertandingan, Head Coach Persis Solo Leonardo Medina melontarkan kritikan
“Saya berbicara tentang seluruh pihak. Baik penonton, staf pelatih, pemain, dan juga tim secara keseluruhan. Saya sangat sedih dengan pertandingan hari ini. Di luar (luar lapangan, tribun) penonton berantem (ricuh). Saya tidak paham kenapa," beber Leo -sapaan akrab Leonardo Medina-.
Leo juga menyebut tensi permainan di atas lapangan juga memanas. Baik dilakukan pemain Persis ataupun Persita.
“Pemain Persita menurut saya tidak fairplay. Mereka terus menghabiskan waktu. Ada pelanggaran, namun tidak dianggap oleh wasit. Wasit harusnya bisa lebih tegas, mengeluarkan kartu kuning ataupun kartu merah jika perlu. Pertandingan hari ini (22/10) jelek," tegasnya.
Juru taktik asal Meksiko tersebut menegaskan seluruh pihak perlu mengevaluasi diri. Perlu berbenah supaya sepak bola Indonesia jauh lebih berkembang.
"Semua pihak harus melakukan evaluasi agar sepak bola Indonesia harus jauh lebih berkembang. Saya berbicara tentang semuanya, pemain, staf, penonton, wasit, dan semua aspek. Menurut saya ini memalukan," paparnya.
Dia mengakui pemain harus berangkat ke stadion dengan menaiki barracuda. kendaraan ini seperti memberi kesan bahwa keamanan dalam menjalankan pertandingan di Indonesia, masih belum semuanya memberi aman kepada para pemain usai adanya tragedi Kanjuruhan.
“Kami bahkan datang ke sini dengan kendaraan barracuda. Tolong, kenapa harus seperti ini,” keluhnya.
Hal senada diutarakan bek Persis, Rian Miziar yang mewakili pemain Persis lainnya.
“Kami memang harus berangkat dengan barracuda dan menurut saya ini sangat tidak bagus untuk kita," terangnya.
Rian Miziar mengakui harusnya hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi di sepak bola Indonesia.
"Dari awal kami seperti dibikin di dalam tekanan karena kejadian masa lalu yang terus dikhawatirkan. Ini malah menjadi bentuk teror buat kami secara tim. Seluruh pemain bertanya-tanya ketika di dalam barracuda, kenapa seperti ini dan ini tidak boleh terjadi lagi. Tidak perlu ada lagi pemain datang dengan perlakuan seperti teroris,” tegasnya.
Antisipasi dari polres setempat memang sebagai langkah antisipasi. Ini sedikit berkaca kejadian ke belakang. Di mana dalam laga away Persis ke Tangerang musim lalu, bus pemain Persis dihadang suporter lawan usai keluar dari stadion.
Jengah dengan perlakuan suporter tuan rumah, para pemain Persis keluar dari bus dan mengejar oknum tersebut. Hingga akhirnya ada beberapa pelempar yang tertangkap yang langsung dijadikan bulan-bulanan pemain Persis yang emosi.
Di lain sisi dalam pertemuan pekan ke-16 Minggu kemarin, Persis kalah tipis 1-2. Dua gol Persita merupakan dua gol bunuh diri dari pemain asing Persis Alexis Messidoro. Sementara gol semata wayang Persis disumbangkan oleh Eky Taufik. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy