RADARSOLO.COM - Bicara soal kompetitor, ternyata dalam perjalanannya, Persis Solo sempat bersaing dengan klub lain yang juga tumbuh di Kota Solo.
Persis Solo didirikan Maret 1923 dengan nama awal Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB), tiga bulan kemudian terbentuk tim bernama Solosche Voetbalbond (SVB). Tim ini bermaterikan pemain dari etnis tionghoa dan orang-orang Belanda yang tinggal di Solo.
Menariknya dua tahun kemudian (1925), IVB didirikan. Bermaterikan pemain pribumi, yang rutin bermain di lapangan Mangkunegaran.
Pada 1933 VVB ganti nama jadi Persis. Di tahun yang sama berdirilah klub bernama Voetbal Bond Soerakarta (VBS) yang jadi anggota NIVB (PSSI-nya Hindia Belanda). Tim ini bubar setelah Indonesia merdeka, dan semua klub internalnya putuskan gabung dengan Persis.
Persis Solo kembali punya kompetitor mulai 1983 setelah Arseto hijrah dari Jakarta ke Solo. Namun pada tahun 1998, tim ini dinyatakan bubar.
Dua tahun kemudian, Pelita Bakti Jakarta hijrah ke Solo dan ganti nama jadi Pelita Solo. Dua musim kemudian Pelita pindah homebase ke luar Solo.
Lalu gantian Persijatim Jakarta Timur yang memilih homebase ke Solo dan ganti nama jadi Persijatim Solo FC. Tim ini di Solo hingga 2004.
Lama jadi tim satu-satunya di Kota Solo, pada 2010 klub Solo FC berdiri dan terjun di kompetisi LPI, dan hanya eksis satu musim saja.
Pada saat ini, Persis Solo tidak lagi sendiri. Ada banyak tim yang tumbuh di Solo. Seperti Persis Gotong Royong, AT Farmasi, Putra Surakarta, hingga Universitas Surakarta (UNSA FC) yang jadi bagian dari anggota PSSI.
Bedanya empat tim tersebut terjun di Liga 3. Sedangkan mayoritas masyarakat Solo masih mendukung eksistensi Persis Solo. (nik)
Editor : Damianus Bram