Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Biaya Sewa Lapangan Latihan Pasca Piala Dunia U-17 Mahal, SSB di Kota Solo Pilih Lari ke Pinggiran

Silvester Kurniawan • Senin, 11 Desember 2023 | 14:00 WIB
MAHAL: Proses perawatan rumput di Lapangan Kota Barat, Lapangan Banyuanyar, dan Lapangan Sriwaru (searah jarum jam). Biaya sewa tiga lapangan latihan berstandar FIFA ini mahal.
MAHAL: Proses perawatan rumput di Lapangan Kota Barat, Lapangan Banyuanyar, dan Lapangan Sriwaru (searah jarum jam). Biaya sewa tiga lapangan latihan berstandar FIFA ini mahal.

RADARSOLO.COM – Kehadiran lapangan latihan berstandar FIFA satu sisi membawa kebanggaan bagi Kota Solo. Namun, sisi lain biaya sewa untuk lapangan ini bagi SSB cukup memberatkan.

Solusinya mereka kini harus mencari lapangan ke luar daerah yang terjangkau biaya sewanya, meski kondisinya tak ideal.

Ketua Umum PS STER Hersoko mengatakan, klubnya merupakan anggota klub internal Askot Kota Solo.

Sebelumnya tim biasa berlatih di Lapangan Banyuanyar sebelum direvitalisasi untuk lapangan latihan Piala Dunia U-17.  Kini mereka memilih menggunakan Lapangan Desa Sawahan, Ngemplak, Boyolali.

“Sebelumnya kami latihan di Lapangan Banyuanyar, tapi karena perbaikan untuk piala dunia (persiapan Piala Dunia U-20 2022) kami pindah ke Lapangan Sawahan,” kata dia.

Sebelum lapangan skala kelurahan itu diambil alih pemkot melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Solo, Hersoko dibantu sejumlah pemuda Banyuanyar yang mengelola lapangan tersebut.

Dia mulai terjun untuk mengelola dan merawat lapangan itu sejak 2020 hingga akhirnya direvitalisasi sejak beberapa tahun lalu.

“Kebetulan di sini kan juga ada sekolah sepak bola, namanya SSB Banyuanyar. Sekarang jadi satu dengan PS STER. Waktu itu kami masih bisa membuat sejumlah event sepak bola dan menggunakan lapangan itu untuk kegiatan olahraga warga,” jelas dia.

Klub yang beranggotakan 80-100 anggota dari berbagai kelompok usia, mulai dari SD-SMA, hingga usia senior itu berharap suatu saat bisa mendapatkan izin kembali menggunakan Lapangan Banyuanyar.

“Kualitasnya jelas bagus Lapangan Banyuanyar. Kalau di Sawahan ini sewanya Rp 4 juta per bulan. Lebih murah daripada lapangan di Solo (empat lapangan latihan Piala Dunia U-17, Red). Ya harapannya bisa balik lagi ke Banyuanyar,” jelas dia.

Dia berharap ada kebijakan baru dari pemkot agar memberikan kesempatan bagi klub internal maupun SSB di Kota Solo bisa menggunakan lapangan-lapangan itu dengan biaya sewa terjangkau.

“Sekarang kan Solo banyak lapangan bagus. Kalau disewakan tidak banyak klub dan SSB yang mampu. Semoga ada kebijakan subsidi dari pemkot agar pembinaan dini tetap jalan. Kalau fasilitasnya ada tapi tidak bisa dijangkau kan memprihatinkan,” ujar Hersoko.

Kegelisahan yang sama juga dirasakan Ketua Umum Persatuan Sepakbola Indonesia Muda (PSIM) Didik Supriyadi.

Klub internal di Kecamatan Laweyan ini semula bermarkas di Lapangan Jegon, Kelurahan Pajang.

Sejak lapangan itu dipakai untuk pasar darurat maka klubnya pindah ke Lapangan Makamhaji, Sukoharjo.

“Mau cari yang di Solo, misalnya ke Kartopuran sewanya masih Rp 400 ribu dan jadwal sudah penuh. Ya sudah pindah saja ke kabupaten sebelah,” kata dia.  

Untuk menyewa Lapangan Sriwaru yang berstandar FIFA tentu harus mengeluarkan biaya mahal juga. Kondisi ini tentu dilematis.

“Sriwaru itu sekali pakai Rp 3 juta lebih. Duitnya dari mana kalau untuk SSB. Kalau pun ada diskon sebesar berapa? Masih lebih mahal dari lapangan biasa. Dulu kami pakai Lapangan Jegon sebulan Rp 200 ribu. Sekarang ke Lapangan Makamhaji sewanya Rp 300 ribu per latihan,” papar dia.

Akibat terbatasnya lapangan ini, Didik mengaku cukup tidak leluasa dalam menggelar event sepakbola atau sesi latihan rutin. Padahal, dulu kegiatan kompetisi antar sekolah maupun dewasa sering digelar.

“Dulu itu kami punya kompetisi rutin. Warga mengajukan izinnya itu mudah dan sangat didukung kelurahan. Sekarang prosedurnya berbeda,” terang dia.

Didik mengklaim, kegelisahaan ini juga dialami 26 klub internal di Kota Solo. Mereka terpaksa harus keluar Solo karena tak mendapat tempat di kota.

Dia pun meminta agar Askot bisa lebih vokal dalam memberikan masukan kepada pemerintah.

“Semua SSB itu kan anggota Askot. Semuanya mengeluhkan soal fasilitas lapangan. Tapi askotnya kurang respons. Buat apa lapangan bagus, stadion mewah kalau kita sendiri tidak berpartisipasi. Bagaimana kebanggaannya bisa muncul kalau kita sendiri sudah terkedala sarana. Sama sekali tidak ada manfaatnya di segi pembinaan atlet dari dini,” tegas dia.

Dia juga mengkritik Persis Solo juga jarang memunculkan bibit-bibit lokal. Termasuk regulasi penjaringan atlet.

Misalnya pemain junior didikan klub internal yang diambil Persis Solo untuk ikut kompetisi tingkat junior setelah juara dilirik klub lain.

“Tolong ini jadi perhatian. Aturan mainnya seperti apa agar SSB yang membina atlet berprestasi itu juga bisa mengembangkan SSB itu sendiri. Jangan seperti sekarang ini, hanya ucapan terima kasih. Kalau bantuan dari askot itu paling-paling hanya dibantu bola. Minimal askot itu bisa memberi pelatihan gratis dan lainnya,” tegas Didik.

Ketua Askot PSSI Kota Solo Rio Arya Surenda membenarkan, biaya menjadi salah satu alasan SSB memilih untuk geser ke lapangan latihan yang lebih murah. Contohnya ke Boyolali atau sekitar lainnya.

Rio mengatakan, secara geografis Kota Solo adalah kota yang padat penduduk dengan luas wilayah yang tidak besar. Ini secara natural memberikan dorongan kepada pola penyebaran masyarakat atau anglomerasi Solo Raya.

"Selain aglomerasi, geografi juga mempunyai sembilan konsep lain yakni jarak, keterjangkauan, morfologi, pola, diferensiasi area, lokasi, interaksi dan interdependensi, serta nilai guna," jelas Rio.

Soal industri sepakbola khususnya SSB atau akademi, Rio mengatakan, sangat terkait akan hal tersebut. Kantong-kantong penduduk semakin banyak berada di luar Kota Solo memengaruhi pergeseran nilai.

Rio mengakui, kualitas lapangan yang sudah dibangun dengan standarisasi akan berpengaruh pada latihan. Sehingga atlet bisa berlatih dan bermain dengan ideal serta maksimal.

"Jika tetap di Kota Solo dengan menggunakan fasilitas milik pemkot, maka perlu adanya sinergi kebijakan antara eksekutif, legislatif dan kelompok masyarakat. Sehingga terciptanya equilibrium kebijakan sebagai win-win solution bagi seluruh pihak, terutama dalam hal akses biaya," imbuh dia.

Solusi lain adalah mendorong adanya privatisasi lapangan-lapangan existing di Kota Solo.

Yakni, memberikan akses kepada investor swasta khususnya untuk pengembangan lapangan olahraga, selama tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

"Semakin banyak opsi lapangan, semakin kompetitif pula akses nilai biayanya. Tergantung grade kualitas lapangan juga," imbuhnya. (nis/ves/bun)

Editor : Damianus Bram
#biaya sewa lapangan #Lapangan Kottabarat #lapangan banyuanyar #Lapangan Sriwaru #ssb #Lapangan Standar FIFA #Askot Kota Solo