Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Lapangan Sepak Bola di Pura Mangkunegaran Kini Tinggal Cerita, Legenda Persis Solo Bocorkan Penggambaran Suasananya Zaman Dulu

Niko auglandy • Senin, 18 Desember 2023 | 23:00 WIB

 

Kondisi kompleks Keraton Pura Mangkunegaran sekira 1930-an. Keraton ini dibangun oleh Pangeran Sambernyawa.
Kondisi kompleks Keraton Pura Mangkunegaran sekira 1930-an. Keraton ini dibangun oleh Pangeran Sambernyawa.

RADARSOLO.COM - Kota Solo dan sepak bola sepertinya tak bisa dipisahkan. Hal ini ditandai dengan banyaknya event sepak bola yang digelar di kota ini.

Bahkan bicara soal sepak bola kerakyatan, bisa dibilang antusiasme masyarakat untuk memainkan olahraga ini cukup besar.

Hal ini ditandai dengan menyebarnya lapangan sepak bola yang ada di kota ini.

Jelas diluar nama Stadion Manahan atau Stadion Sriwedari, hampir di setiap kecamatan ada lapangan representatif yang bisa digunakan masyarakat untuk berolahraga.

Mulai dari lapangan Kartopuran, Kampung Sewu, UNS, Kota Barat, Banyuanyar, alun-alun selatan, Sriwaru, Stadion Mini Surakarta di daerah Cengklik, hingga beberapa lapangan lainnya.

Namun tentu tak banyak yang tahu bahwa di Pura Mangkunegaran, dulunya ada sebuah lapangan sepak bola berdiri disana.

Dalam penelusuran Jawa Pos Radar Solo, akhirnya diketahui pada 1920an, lapangan Pamedan di Pura Mangkunegaran sudah digunakan sebagai venue pertandingan sepak bola.

Sebelum Stadion Sriwedari berdiri (1933), pada zaman sebelumnya Lapangan di alun-alun selatan dan Pura Mangkunegaran jadi titik masyarakat pribumi dan kaum Belanda bermain sepak bola.

Menariknya pada zaman dulu pada 1925, selain VVB di Kota Solo juga berdiri dua organisasi lainnya. Yakni IVB yang juga anggotanya kaum pribumi, dan SVB yang anggotanya adalah etnis tionghoa dan orang-orang Belanda.

VVB dan SVB biasanya bertanding di alun-alun selatan, sementara IVB bertanding di lapangan Mangkunegaran.

Beberapa tim dari luar kota seperti dari Surabaya, Jakarta, hingga Semarang sempat bertanding di lapangan Pamedan.

Saat pertandingan digelar, para anggota Legiun Mangkunegaran pasti berjaga-jaga di setiap sudut. Mereka mengantisipasi andai kata ada kericuhan yang terjadi antar penonton, atau pemain yang bertanding.

Legiun Mangkunegaran adalah korps angkatan bersenjata Kadipaten Mangkunegaran.

Hampir setiap sore lapangan Pamedan rutin menggelar pertandingan sepak bola.

Sayang lapangan itu kini sudah hilang dan berganti wajah. Kini lokasinya sudah berubah jadi areal parkiran dan juga lokasi yang biasanya digunakan masyarakat umum untuk menggelar acara kesenian, hingga kebudayaan.

“Dulu di Pura Mangkunegaran memang ada lapangan sepak bola. Lapangan di Mangkunegaran tidak ada rumputnya, tapi kalau main disana yang nonton banyak sekali. Mereka duduk di pinggir lapangan. Bisa dibilang jadi hiburan warga Solo di sore hari kala itu,” ucap Hong Widodo, legenda Persis Solo di era 1960 an hingga 1970an.

Hal tersebut diamini mantan pemain Persis era 1960 an-1977 lainnya, yakni Frans Setiabudi. Pria yang akrab disapa Wewek tersebut mengakui bahwa Lapangan Pamedan hanya berupa pasir dan tandus.

Walau begitu di zaman dulu lapangan ini jadi rujukan utama pemain-pemain potensial untuk berlatih.  

“Zaman saya masih jadi pemain Persis, lapangan Pamedan sering sekali saya gunakan. Kalau Persis latihannya selalu di Sriwedari, namun saat saya main dengan tim TNH yang sebagian besar pemainnya tionghoa, kami main di lapangan ini. Seminggu dua kali seingat saya,” terang Wewek.

Dia mengakui bahwa lapangan Pamedan mulai hilang sekitar pertengahan 1970 an. Saat dia pensiun di dari Persis tahun 1977, lapangan ini sudah sepi dari aktivitas olahraga.

“Lapangan tidak digunakan lagi karena dibangun hotel Mangkunegaran. Hotelnya akhirnya bubar dan jadi lahan mangkrak juga setelah itu. Sampai akhirnya kini dimanfaatkan jadi lahan parkir,” ujarnya yang ikut membawa Persis menjadi juara perserikatan zona Jateng musim 1968/1969 tersebut.

Wewek mengakui TNH kala itu tak hanya menggunakan lapangan di Pamedan, beberapa lapangan lainnya digunakan. Ini lantaran di zaman dulu satu tim internal Solo sudah banyak, jadi penggunaan lapangan harus bergantian.

 “Kalau tidak salah TNH kala itu main di Pamedan setiap hari Senin dan Rabu. Hari lainnya digunakan klub lokal lainnya. Kalau tidak salah HWM juga ikut latihan di Pamedan. Selain di Pamedan, kami (TNH) juga latihan di lapangan lain, seperti di Kartopuran, Cengklik (sekarang jadi Stadion Mini Surakarta) dan Sriwaru. Setelah Pamedan gak bisa digunakan lagi, akhirnya TNH pindah ke lapangan di timur Solo Square, yang kini lapangan itu juga sudah tidak ada,” ujarnya

Wewek mengakui tak hanya Pamedan dan lapangan di timur Solo Square yang kini hanya tinggal cerita. Ada beberapa lapangan lainnya juga yang kini sudah berpindah wajah.

”Yang sekarang jadi bangunan Korem dulunya adalah lapangan bola. Di Penumping, tepatnya di belakang kantor kecamatan (Laweyan) dulu juga sempat ada lapangan sepak bolanya, tapi semua lapangan itu, tahun 1970 an sudah gak ada lagi,” terangnya. (nik)

Editor : Niko auglandy
#sepak bola #VVB #pamedan #mangkunegaran