RADARSOLO.COM – Setelah sempat berhenti, Sekolah Sepak Bola (SSB) PS Adidas Surakarta kembali di-launching pada Minggu (25/2/2024).
Tim ini bersiap kembali mencetak pesepak bola potensial di Kota Solo.
"Karena Covid-19 kami sempat terhenti. Estafet kepemimpinan cukup kesulitan. Kemudian ini kebetulan yang dedikasinya tinggi dalam Adidas, mau menyatukan pendapat," ujar Penasehat SSB PS Adidas Surakarta Maladi kepada Jawa Pos Radar Solo.
Maladi menyebutkan sebelumnya ada tiga tim pembinaan Adidas yang latihan di tiga lokasi berbeda, yakni Makamhaji, Lapangan Duwet, dan Lapangan Teras. Jadi masing-masing alumni mendirikan SSB tersendiri, dengan nama embel-embel Adidas.
"Ketika mereka tahu Adidas akan disatukan mereka mendukung sekali, sehingga kami mengadakan launching," sambungnya.
Dalam launching tersebut, banyak pihak yang berkumpul. Termasuk alumni, sesepuh, donatur, jajaran pelatih, orang tua siswa, dan siswa itu sendiri.
"Kami kumpulkan, kami bina," tambahnya.
Setelah ini, Maladi mengatakan mereka diberikan kebebasan untuk berlatih di lapangan masing-masing.
Namun setiap tiga bulan sekali ada semacam seleksi untuk dibawa tryout keluar. Hal ini guna memacu anak didik untuk berlatih secara keras.
"Setiap dua kali sebulan ada semacam rapor. Untuk mengetahui apakah ilmu yang kami berikan diserap atau tidak sama mereka. Contohnya masalah passing, kontrol, dan lainnya," jelasnya.
Di lain sisi, Adidas adalah akronim dari Anak Didik Surakarta. Tim ini jadi salah satu dari 26 klub internal binaan Askot PSSI Solo.
Adidas didirikan awalnya pada 1972, di bawah pimpinan Raden Siswanto. Raden Siswanto awalnya mengajarkan anak didiknya tak sekadar bisa bermain bola semata, namun mengajarkan masalah etika yang baik selama di lapangan.
"Di lapangan tidak boleh menunjukkan sikap yang tidak baik. Contohnya tidak boleh protes kepada wasit, sehabis pertandingan harus memberikan salam hormat kepada wasit, kemudian tidak boleh mencederai lawan. Kalau lawan mencederai kita diamkan. Jadi bermain sportif, baik, dan tidak emosional. Itulah yang diajarkan Bapak Siswanto," ungkap Maladi. (nis/nik)
Editor : Damianus Bram