RADARSOLO.COM - Bicara Soal sepak bola Kota Solo dan Jogja, ternyata sudah sejak zaman kolonial Belanda sebelum Indonesia merdeka sudah memainkan sepak bola. Bahkan kedua tim saling beradu di lapangan hijau.
Bisa dibilang hadirnya tim sepak Bola Jogja ke Kota Solo adalah sebuah kehormatan dan keistimewaan, yang tentu langsung disambut oleh masyarakat di Kota Bengawan untuk bisa melihat pertandingan tersebut secara langsung. Begitu sebaliknya kalau tim dari Solo ke Kota Jogja.
Seperti kisah yang terjadi 87 tahun yang lalu, di mana tim sepak bola dari Surakarta atau Kota Solo bertanding melawan Mataram (nama lama Kota Jogja) di Lapangan Browidjojo Jogja, pada Minggu sore, 7 Maret 1937. Dalam laga ini wakil Solo menang dengan skor akhir 3-1.
Dalam penelusuran sejarah redaktur olahraga Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy dalam project Sambernyawaklopedia yang didapat dari koran-koran lawas, diketahui skuad KotaSolo di laga ini, ternyata bukan berasal dari skuad inti Persis Solo.
Tak terselip nama-nama tenar saat itu, macam Jazid, Maladi, hingga Soemarjo "Kingkong". Pemain Solo di laga ini ternyata adalah pemain lapis kedua atau cadangannya Persis Solo, yang biasa disebut dengan nama Rest Persis Solo atau Persis Solo B.
Pemain Solo yang tanding di laga ini di laga ini adalah Moerhadi (kiper), Dono, Soekirjo, Daliman, Ratman, Abdoelsoekoer, Soesiswa, Soemarno, Zakarija, Waloejo, dan Sartomo.
Sementara skuad Mataram terdiri dari Soebowo, Drono, Wadjoeman, Soerip, Soepardi, Saebani, Poernomo, S. Hardjo, Andrijas, Tohari, dan Wargo.
Dalam laga ini aftrap (tendangan pertama) diambil oleh Prins Djojokoesoemo.
Solo unggul 1-0 lebih dulu lewat gol penalti Soemarno. Tidak puas, dua gol lagi tercipta, dan dicetak oleh Soesiswo, dan gol kedua dari Soemarno.
Sebelum pertandingan digelar, tepatnya pada pukul 2 turun hujan di Kota Jogja. Saat waktunya pertandingan akan digelar, hujan tinggal rintik-rintiknya.
Tetapi karena kejadian hujan lebat muncul sebelum laga dimulai, akhirnya lapangan sudah tergenang air dan membuat lapangan jadi licin.
Walau begitu pertandingan peresmian lapangan Browidjojo ini masih tetap digelar.
Ini yang membuat jalannya pertandingan dianggap jadi kurang memuaskan di mata penonton dan pemain. Sebab beberapa kali pemain kedua tim terpeleset karena lapangan yang licin.
Laga ini ternyata jadi rangkaian dari pembukaan lapangan sepak bola Browidjojo di Jogja. Setelah lama dibangun, akhirnya lapangan ini selesai juga dan akhirnya diresmikan.
Rangkaian pembukaan lapangan klub anggota PSIM Jogja ini digelar sejak pagi hari. Pada pukul setengah 7 pagi, lapangan sudah kebanjiran orang yang hadir dari berbagai pelosok.
Diduga yang hadir berjumlah sekitar 5.000 orang. Ki Hajar Dewantara juga hadir. Beberapa orang pangeran, bangsawan Pura Pakualaman dan Kasultanan Nyagoyakarta Hadiningrat Hadir. Termasuk bupati-bupati dan beberapa orang ambtenaar (pegawai negeri zaman Belanda) juga sengaja diundang melihat pembukaan lapangan ini.
Setelah itu pukul 7 pagi akhirnya digelar lomba atletik, baru sore harinya disemarakkan dengan pertandingan sepak bola antara Surakarta melawan Mataram.
Baru dibuka, sudah banyak klub yang meminta untuk bisa menggunakannya. (nik)
Editor : Niko auglandy