RADARSOLO.COM - Teknologi video assistant referee (VAR) bakal diterapkan mulai championship series Liga 1 musim ini hingga edisi selanjutnya.
Stadion Manahan menjadi salah satu venue yang siap untuk menjalankan teknologi ini. Lantas bagaimana dengan stadion yang tak memungkinkan untuk penerapan VAR?
Direktur Operasional PT Liga Indonesia Baru Asep Saputra menjelaskan sepanjang stadion itu pernah punya pengalaman disiarkan secara langsung. Itu bisa diterapkan dan tinggal bagaimana menyambungkan antara jaringan TV dengan VAR room.
Namun ketika stadion benar-benar tak memungkinkan pihaknya sudah menyiapkan 12 VAR dalam truck atau van yang bisa bergerak (mobile). Tinggal bagaimana nanti truck tersebut menuju stadion.
"Tentu ada instalasi di sana. Disatukan dengan kamera broadcast yang ada di sana. Dan tinggal menyambungkan ke review area di pinggir lapangan. Maka sebetulnya itu hal yang mungkin dilakukan," bebernya saat di Kota Solo.
Sebelumnya Asep juga menjelaskan untuk penerapan teknologi ini yang perlu disiapkan betul adalah alat VAR dari Hawk-Eye. Kedua, wasit yang sudah terlisensi. Ketiga adalah replay operator yang sudah terlatih.
"Berikutnya adalah bagaimana mengimplementasikan di dalam stadion. Nah, inputan VAR juga sangat bergantung pada TV produksi. Jadi kamera yang digunakan untuk broadcast itulah inputan yang masuk dalam ruang VAR," tambahnya.
Sementara itu, VAR dijajal pertama kali dalam kompetisi resmi Indonesia yakni final Elite Pro Academy (EPA) U-20. Dimana mempertemukan Persis Solo U-20 dan Persita Tangerang U-20, 7 Maret lalu.
Direktur PT. LIB Ferry Paulus turut hadir dalam pertandingan tersebut. Melihat trial tersebut, dia mengaku puas.
"Ya kalau melihat trial hari ini puas. Apalagi mulai tadi persiapan kebetulan saya ada bersama sama dengan tim, baik dari Hawk-eye, termasuk juga dari FIFA. Hari ini (7/3/2024) bisa dibilang langkah pertama dalam proses penerapan VAR ini sukses," bebernya.
Di laga tersebut, VAR dipergunakan sekira menit ke-81. Persita Tangerang hampir saja diberi hadiah penalti oleh Thoriq. Usai Reza Alfariz dianggap melanggar Kaka Reda di kotak 16.
Namun, pengadil lapangan memutuskan menganulir penalti yang didapat Persita Tangerang usai melihat VAR.
"Ada momen yang bisa diambil, ada pelajaran yang baik yang awalnya dinyatakan penalti namun setelah melihat VAR tidak penalti, kemudian dianulir. Itu artinya manfaat dari VAR itu nyata dan berhasil," tambah Ferry.
Secara terpisah, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir menyambut baik uji coba di final EPA yang merupakan kompetisi usia muda.
Di ajang yang diharapkan menjadi salah satu fondasi membangun timnas Indonesia secara berkelanjutan, Erick ingin try out ini memberikan pengalaman banyak bagi semua unsur yang terlibat dalam kompetisi.
"Seperti kita tahu, VAR menjadi salah satu standar kompetisi sepak bola profesional yang baik. Jika saat ini bisa diuji coba di kompetisi, meski untuk usia muda, ini menandakan kita sudah mulai melangkah ke peningkatan standar kompetisi yang lebih baik," jelas Erick dikutip dari laman PSSI.
"Saya harap mulai dari pemain, ofisial, terutama perangkat pertandingan yakni para wasit bisa belajar banyak dari kesempatan besar ini agar sepakbola kita makin profesional dan bersih," Imbuhnya.
Uji coba VAR kali ini merupakan angkatan pertama dan direncanakan berlangsung hingga April dalam jumlah 13-16 pertandingan.
"Atas masukan dari FIFA melalui instruktur VAR, maka PSSI menugaskan wasit VAR dengan peringkat teratas setelah mendapatkan pelatihan selama 6 bulan terakhir," jelas Ketum PSSI.
"Karena itu, saya minta para wasit yang bertugas dan berkesempatan uji coba VAR bisa menerapkan ilmu pelatihan sebaik-baiknya. Apalagi selama uji coba ini, FIFA akan melakukan assessment/penilaian untuk VAR batch 1," imbuhnya. (nis)
Editor : Damianus Bram