RADARSOLO.COM - Kota Solo bisa dibilang sebagai salah satu kota yang jadi pelopor pengembangan olahraga sepak bola di Indonesia.
Sepak bola di Solo sudah dimainkan jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya sekira 1900an. Bukti nyatanya, lihat saja bagaimana dihampir setiap titik di kota ini bermunculan lapangan sepak bola yang masih rutin digunakan oleh masyarakat.
Nah, bicara soal lapangan sepak bola, ternyata ada beberapa lokasi yang cukup legendaris yang ada di Kota Solo. Bahkan eksistensinya tercatat dalam tinta emas persepakbolaan di Indonesia.
Baca Juga: Lapangan Pamedan Yang Tinggal cerita
Sayang beberapa lapangan diantaranya kini sudah tidak eksis lagi. Ini karena sudah tidak difungsikan lagi sebagai lokasi pertandingan sepak bola karena kebijakan pemerintah atau raja setempat. Ini daftar lengkapnya:
1. Stadion Sriwedari
Stadion Sriwedari tercatat jadi stadion tertua di Indonesia yang dibangun oleh bangsa pribumi. Stadion ini mulai digarap pada tahun 1932 dan diresmikan setahun kemudian, tepatnya pada 1933.
Stadion ini dibangun oleh Kasunanan Surakarta. Lahan dulu dikenal bernama bonrojo, yang secara administratif berada di daerah Sriwedari.
Stadion ini jadi markas Persis Solo dan jadi bukti eksistensi Laskar Sambernyawa di kompetisi PSSI. Beberapa kali titel juara yang diraih Persis Solo diraih dari stadion ini.
Beberapa klub juga klub dari luar negeri bertanding di Stadion Sriwedari. Mulai dari tim dari Singapura, Malaysia, Austria, Australia, Inggris, hingga Uni Soviet.
Selain Persis Solo, Arseto Solo juga pernah menjadikan stadion ini sebagai home base-nya. Stadion Sriwedari juga dijadikan monumen PON, mengingat PON pertama yang digelar tahun 1948 dipusatkan di stadion ini.
Di luar dunia olahraga, Stadion Sriwedari juga jadi salah satu simbol dari perjuangan bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada 7 hingga 10 Agustus 1949, pertempuran besar terjadi di Solo. Ratusan warga mengorbankan nyawa untuk mempertahankan Merah Putih di Solo. Beberapa tokoh terlibat dalam pertempuran, salah satunya Letkol Slamet Riyadi yang saat itu masih berusia sangat muda.
Serangan umum empat hari di Kota Solo terbukti membuat Belanda terdesak. Belanda akhirnya menyerah. Secara simbolis penyerahan Kota Solo dilakukan di Stadion Sriwedari, 12 November 1949.
2. Stadion Manahan
Stadion ini bisa dibilang sebagai simbol megahnya venue olahraga yang ada di Kota Solo. Jika Stadion Sriwedari kaitan erat dalam sejarah sepak bola Indonesia di masa lampau, Stadion Manahan lebih ke era masa kini.
Hal ini lantaran stasion ini sering digunakan untuk menggelar beberapa pertandingan internasional hingga event nasional.
Baca Juga: Uji Coba VAR di Laga Final EPA antara Persis Solo U-20 vs Persita Tangerang U-20 di Stadion Manahan
Ide pembuatan stadion ini sudah muncul pada tahun 1980-an, namun baru selesai dan akhirnya bisa diresmikan pada tahun 1998. Awalnya Stadion ini diharapkan bisa jadi venue utama dari klub Arseto Solo, namun ternyata saat stadion ini resmi bisa digunakan, Arseto malah sudah harus bubar.
Bicara jauh lebih ke belakang, ternyata ide pembangunan lapangan sepak bola di kawasan Manahan sudah muncul di tahun 1932. Namun saat itu selain pembangunan lapangan sepak bola, di kawasan ini juga dibangun venue untuk pertandingan pacuan kuda.
Era sebelum Indonesia merdeka, Manahan lebih dikenal sebagai pusat permainan pacuan kuda yang berdiri cukup megah di eranya.
3. Lapangan Alun-Alun Selatan
Tak ada catatan yang pasti kapan lapangan alun-alun selatan di Kota Solo dijadikan lokasi pertandingan sepak bola, namun di zaman dulu di lokasi ini pernah berdiri sebuah klub bernama Romeo. Romeo identik dengan Kasunanan Surakarta. Klub ini berdiri sejak 1908 dan memutuskan berlatih di lapangan alun-alun selatan.
Tak hanya Romeo klub Mars yang berdiri pada tahun 1916 juga diketahui berlatih di lapangan alun-alun selatan tersebut.
Bicara historis Jauh sebelum Stadion Sriwedari jadi Icon kota Solo, lapangan alun-alun selatan sudah jadi pusat pertandingan internal tim-tim Persis Solo. Hal menarik dari lokasi ini adalah kompetisi pertama PSSI yang digelar tahun 1931 ternyata dipusatkan di lapangan ini.
PSSI yang saat itu baru berusia 1 tahun memutuskan menggelar kompetisi perdananya di lokasi ini karena dianggap berada di tengah-tengah Pulau Jawa. Kompetisi PSSI tahun 1931 diikuti oleh Persis Solo, PSIM Jogja, dan Persija Jakarta.
Persija Jakarta yang saat itu masih bernama VIJ keluar sebagai juara. Karena euforia masyarakat Kota Solo melihat pertandingan di kompetisi ini akhirnya terlecut ide dari petinggi Kasunanan Surakarta untuk membangun sebuah stadion yang lebih representatif.
Dibangun dengan tujuan untuk dijadikan lokasi pertandingan sepak bola kaum pribumi, akhirnya diputuskan lokasi pembangunannya berada di Sriwedari.
Saat ini lapangan alun-alun selatan tengah direnovasi total oleh Pemkot Surakarta.
Dalam rancangannya lapangan ini kedepannya hanya akan difungsikan sebagai kawasan hijau dan juga area wisata masyarakat. Sayangnya lokasi lapangan sepak bola tidak masuk rancangan itu artinya kedepannya lapangan sepak bola alun-alun selatan hanya tinggal cerita.
Baca Juga: Revitalisasi Alun-Alun Selatan, Tak Ada Pasar Darurat: Lantas Bagaimana Nasib PKL di Alkid?
Padahal sebelum direvitalisasi beberapa SSB banyak yang berlatih di lokasi ini termasuk tim Mars yang masih eksis hingga hari ini. Dengan adanya kebijakan tersebut, otomatis Mars harus pindah berlatih di luar lapangan alun-alun selatan ke depannya.
4. Lapangan Alun-Alun Utara
Lapangan sepak bola di alun-alun utara kini hanya tinggal cerita. Tak ada catatan jelas kapan lapangan sepak bola di lokasi ini pernah eksis. Dalam beberapa literasi dan foto yang dibuat oleh Belanda diketahui pada tahun 1930 an lapangan di alun-alun utara sudah muncul.
Baca Juga: Penataan Alun-Alun Utara dan Selatan Keraton Surakarta Paling Cepat Dikerjakan Usai Sekaten
Bahkan dalam beberapa tulisan di koran lawas menceritakan bahwa saat digelar acara sekaten yang dipusatkan di lapangan alun-alun utara, ternyata digelar juga pertandingan sepak bola hingga tinju di lokasi tersebut untuk jadi hiburan masyarakat.
Pemain Persis Solo era 1960 an juga bercerita bahwa pada tahun tersebut lapangan alun-alun utara masih sering digunakan untuk pertandingan sepak bola.
5. Lapangan Kadipolo
Lapangan ini berada di Kadipolo, Kota Solo. Masuk sebagai lapangan legendaris, karena lapangan ini jadi tempat latihan mantan klub raksasa era 1980 an hingga 1990 an, Arseto Solo. Lapangan ini bahkan berada tepat di samping mess Arseto.
Bisa dibilang lapangan Kadipolo jadi saksi masa kejayaan Arseto yang sempat jadi idola masyarakat Kota Solo.
Baca Juga: Menelusuri BCB Milik Pribadi di Kota Bangawan (1): Eks RS Kadipolo Tak Terurus
Arseto Solo terbentuk di Jakarta 1980. Tim ini akhirnya memutuskan pindah home base ke Stadion Sriwedari pada 1983 setelah stadion ini direnovasi.
Klub milik anak Presiden RI Soeharto, yakni Sigit Harjojudanto tersebut bubar pada 1998, tak lama setelah Soeharto lengser dari singgasananya.
Mes Arseto kini terbengkalai layaknya rumah hantu, untuk lapangan kadipolo masih digunakan masyarakat di Kota Solo untuk bermain sepak bola hingga hari ini.
6. Lapangan Pamedan Mangkunegaran
Lapangan Pamedan berada tepat di halaman Pura Mangkunegaran.
Lapangan ini saat ini hanya digunakan untuk areal parkir dan beberapa kegiatan seperti konser ataupun pameran UMKM.
Zaman dulu ternyata lapangan ini pernah dijadikan sebuah lapangan sepak bola. Hampir setiap sore digelar pertandingan sepak bola yang mempertemukan tim yang beranggotakan pemain pribumi hingga pemain dari etnis Tionghoa maupun Belanda.
Zaman sebelum Indonesia merdeka sering digunakan pertandingan yang diinisiasi oleh organisasi SVB hingga VBS. Organisasi PBB atau Persis Solo lebih banyak bermain di lapangan alun-alun selatan ataupun lapangan alun-alun utara.
Baca Juga: Lapangan Pamedan Yang Tinggal cerita
Walau begitu beberapa klub anggota Persis Solo sempat bermain di lapangan pamedan. Dulunya di lapangan ini sempat berdiri klub bernama Legion, sayang klub ini sudah lama bubar.
Setelah Indonesia merdeka Lapangan Pamedan masih sering digunakan untuk pertandingan sepak bola namun sekira tahun 1970 an lapangan ini tidak difungsikan kembali untuk berolahraga hingga hari ini.