Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Persis Solo, Persebaya Surabaya, hingga Persija Jakarta Lahirkan PSSI pada 1930, Ini Kisah Awal Pembentukannya di Kota Jogja Yang Penuh Drama

Niko auglandy • Sabtu, 20 April 2024 | 18:35 WIB
SANG PENDIRI: Para pengurus PSSI periode pertama. IR Soeratin (duduk tengah) ditunjuk jadi ketua umum PSSI yang pertama. (DOK. PENGELOLA STADION SRIWEDARI)
SANG PENDIRI: Para pengurus PSSI periode pertama. IR Soeratin (duduk tengah) ditunjuk jadi ketua umum PSSI yang pertama. (DOK. PENGELOLA STADION SRIWEDARI)

RADARSOLO.COM - PSSI adalah organisasi sepakbola yang jadi simbol kebangkitan warga pribumi sebekum Indonesia, di lapangan hijau. PSSI berdiri 1930 silam, dan klub seperti Persija Jakarta, Persis Solo, PSIM Jogja, PPSM Magelang, PSM Madiun, Persebaya Surabaya dan BIVB Bandung ikut membidani kelahiran organisasi ini.

Tapi tak banyak yang tahu tentu alur untuk melahirkan PSSI begitu panjang dan penuh lika-liku. Sebelum PSSI berdiri 1930, sejatinya di Indonesia sudah berdiri organisasi serupa bernama VVb yang didirikan tahun 1927.

Berdirinya IVB secara tidak langsung juga ikut menggalakkan perkembangan bond-bond lokal yang dibentuk oleh para putra bumi pertiwi. Bahkan munculnya Sumpah Pemuda pada 27-28 Oktober 1928, juga ikut membuat banyak putra bangsa berjuang melalui banyak aspek, termasuk dari lapangan hijau.

Seperti contoh Persija Jakarta yang terlahir di 28 November 1928 dengan nama awal VIJ.

Sayang umur IVB tidak panjang, karena pada 30 April 1930 IVB dipastikkan dibubarkan. Hal ini karena kedekatannya dengan sepak bola Belanda, hingga melenceng dari tujuan awal pembentukkannya.

Nikko Auglandy dalam bukunya berjudul Bangkitlah Sang Legenda, Kiprah Persis Solo di Dunia Sepak Bola mencatatkan bahwa sebelas hari sebelum IVB dibubarkan, tepat pada hari Sabtu 19 April 1930, bertepat di Gedung Societeit Hande Projo, Jalan Yudonegaran Jogjakarta, diadakan sebuah pertemuan. Terdapat 17 orang wakil dari 7 perserikatan/bonden dari berbagai kota.

PSM Jogja yang menjadi tuan rumah diwakili tiga orang, yakni Daslam Hadiwasito, Abdul Hamid, dan Muhammad Amir Notopratomo. Sementara perwakilan VVB Surakarta yang datang ke acara itu adalah Soekarno (bukan Ir Soekarno, presiden pertama Indonesia). Dari tim MVB Madiun diwakili Kartodarmoedjo, dan SIVB diwakili Pamoedji.

Perwakilan IVBM Magelang yaitu E.A Mangindaan, yang merupakan siswa dari HKS atau sekolah guru. Mangindaan juga tercatat sebagai kapten tim IVBM, yang akhirnya sejarah mencatat dirinya akhirnya pernah menjadi pelatih Timnas di tahun 1966-1970.

Selain itu pendiri PSSI lainnya adalah VIJ dan BIVB Bandung. Ada pula empat tamu khusus yang datang, diantaranya adalah Ir Soeratin Sosrosoegindo, dan Soetjipto.

Selain memang dorongan jiwa nasionalis dari para pendirinya. Ada kejadian yang menguatkan tekad tersebut adalah penghinaan yang dilakukan Belanda.

Sekitar Maret 1930, para pecinta bola akhirnya membentuk sebuah panitia kecil yang diberi nama panitia voetbalwedstrijden yang terdiri dari anggota PSM Jogja.

Rencana kejuaraan yang mengundang tim dari luar kota, ternyata langsung dirancang.
Sayang hal ini terganjal karena mereka yang diundang kebanyakan supaya minta izin kepada NIVB yang lebih dulu menaungi mereka. Sayang jawaban NIVB begitu menyakitkan, bahkan cenderung menghina:

Tidak bisa, anggota NIVB dilarang bermain dengan perkumpulan sepakbola inlander yang belum teratur baik,” tulis Eddi Elison dalam bukunya berjudul Soeratin Sosrosoegondo, Menantang Penjajahan Belanda dengan Sepakbola Kebangsaan.

Penghinaan NIVB tersebut ikut mendorong tokoh sepak bola asal Jogja seperti Soeratin, Daslam, Anwar Noto dan rekan-rekannya berkumpul membuat sebuah pergerakan lebih besar di dunia sepakbola. Soeratin bahkan bulan Maret 1930 sempat datang menemui perwakilan tim VIJ di Jakarta.

Pembahasan dalam pertemuan itu merujuk pada kenyataan IVB dianggap gagal dan perlu dibentuk sebuah kepengurusan organisasi sepak bola baru. Dalam pertemuan di Solo tak lama setelah itupun, membahas bahwa IVB dianggap gagal mempersatukan bangsa Indonesia lewat sepakbola.

Hingga akhirnya di awal April 1930 dibuat sebuah kepanitiaan, dengan H.A Hamid sebagai ketuanya. Di belakangnya ada sosok penting seperti Amir Noto yang menjadi sekretaris, sementara Soeratin bertugas menghubungi para bond di luar kota Jogja.

Seperti, Solo, Jakarta, hingga Bandung. Panitia sementara itu akhirnya mengadakan rapat di Gedung Societeit Hande Projo pada 10-11 April 1930, yang dihadiri perwakilan klub-klub se-Jogja.

Penyelenggaraan konferensi akhirnya ditetapkan pada 19 April 1930, untuk mengundang bounden dari Jawa saja karena waktu yang mendesak. Tak lama setelah pertemuan ini akhirnya diputuskan untuk membangun sebuah organisasi sepak bola khusus pribumi bernama PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) terlahir.

Pembentukan ini juga sebagai salah satu langkah, karena IVB dianggap gagal. IVB dianggap tidak bisa memberikan kemajuan untuk sepakbola pribumi karena terlalu akrab dengan NIVB.

Nama PSSI sendiri adalah gagasan dari wakil Solo yakni Soetarman. Awalnya ada tiga alternatif yang dimunculkan, yakni INVB, PVBI dan PSSI.

Dalam pertemuan ini akhirnya dipilih PSSI, karena mendapat perolehan suara terbanyak dari anggotanya. Belakangan nama PSSI akhirnya berubah menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia setelah Indonesia merdeka.

Ir Soeratin Sosrosogoendo seorang intelektual yang sempat berstudi di Jerman, menjadi ketua umum PSSI periode pertama. Tumbuhnya PSSI tentu membuat NIVB seperti tersaingi. Hadirnya PSSI juga ikut meramaikan organisasi sepak bola di Hindia Belanda kala itu.

Di mana sebelumnya etnis tionghoa juga memiliki organisasi serupa bernama HNVB. VVB sendiri menjadi salah satu pendiri didalamnya. Selain tim kebanggaan Wong Solo ini, ada juga tim lain yang ikut berperan.

Seperti BIVB Bandoeng, hingga PSM Mataram yang kini lebih akrab dengan nama PSIM Jogja saat iniKemudian hadirnya VIJ yang kini dikenal dengan nama Persija Jakarta, ataupun SIVB yang lebih beken dengan nama Persebaya Surabaya.

Adapula tim IVBM yang kini berganti nama menjadi PPSM Magelang, hingga tim terakhir yang ikut berjasa adalah PSM Madiun, yang awalnya bernama MVB.

Sementara itu, berikut jajaran keanggotaan awal PSSI di periode pertama:

Perkembangan PSSI usai dibentuk di Jogja tahun 1930 semakin pesat. Tujuh tahun setelah terbentuk, ternyata tepat di tahun 1937, jumlah anggota PSSI mencapai 18 bond. Sebagian besar memang masih melingkupi beberapa bond dari pulau Jawa. Jawa Tengah masih jadi yang terbanyak sebagai anggota resmi PSSI di tahun tersebut.

Tepat di tahun 1937 pula, ternyata PSIM Mataram memutuskan keluar dari keanggotaan PSSI karena berkonflik sejak tahun 1933. Setelah PSIM keluar, PSSI membentuk tim tandingan dengan nama Persim Mataram. PSIM baru kembali bergabung dengan PSSI pada tahun 1938, dan PSSI pun akhirnya menggabungkan PSIM Mataram dan Persim menjadi satu tim.

Di tahun 1937 anggota PSSI bertambah. Nama baru yang ikut muncul adalah PPVIM Djatinegara, Persib, Persitas Tasikmalaja, PSIT Tjirebon, Persig Tjiamis, Persip Poerwokerto, PSIW Wonosobo, PSKS Kedoe Selatan, PSIS Semarang, PESISS Salatiga, PSIK Klaten, Persim Mataram, hingga Ksatrya Sragen.

Di lain sisi pesatnya perkembangan PSSI membuat banyak bond baru di berbagai kota bermunculan, khususnya setelah Indonesia merdeka. Di tahun 1960, keanggotaan PSSI semakin membesar jumlah anggotanya.

Mereka yang bergabung seperti Persekap Pasuruan, Persipro Probolinggo, Persik Kediri, Persema Malang, ISELA Lamongan, Persibo Bojonegoro, Persatu Tuban, PSIS Sumenep, Persepon Ponorogo, Persiba Balikpapan, Persipa Pati, PSTS Cilacap, ISB Purwokerto, IST Tegal, Persma Manado, hingga PSM Makassar.

Bahkan selain itu ada juga calon anggota PSSI juga mulai tumbuh dan mendaftarkan diri untuk jadi anggota di periode tahun tersebut. Seperti Persikat Kalteng, Persib Belitung, PSK Kupang. (Nik)

 

Editor : Niko auglandy
#persib bandung #pssi #persija jakarta #psim jogja #persis solo #jogja #VVB #PSM Madiun #soeratin