RADARSOLO.COM - Kota Solo memang tumbuh menjadi pelopor perkembangan sepak bola di tahun 1920an. Bahkan inisiatif dan ide langsung muncul di tahun pertama tim VVB terbentuk. VVB adalah nama awal Persis Solo yang sudah berdiri sejak Maret 1923.
Dalam penelusuran sejarah yqng dibuat Jawa Pos Radar Solo dari koran-koran lawas yang terbit sebelum Indonesia merdeka, akhirnya diketahui bahwa pada tahun 1924 ada pergerakan dari pengurus Persis solo, yakni Dr Wediodiningrat, Djaksadipuro, dan Wongsonagoro untuk mendirikan perkumpulan sepakbola seluruh Jawa. Organisasi bernama Javasche Voetbal Bond (JVB) akhirnya didirikan dengan bertujuan untuk menampung bond-bond daerah di pulau Jawa.
Pengurus JVB terdiri dari Widiodiningrat, Djaksanagoro, Wongsonagoro, Jendral Mayor Suhardjo, Imam Mursidi, Reksodipuro dan Sastrosaksono. Tapi sayang usaha tersebut kandas di tengah jalan, karena terkendala terbentuknya bond-bond sepak bola bentukan pribumi di luar Solo.
Sebenarnya sebelum JVB diwacanakan oleh petinggi VVB, sudah ada langkah maju untuk memajukan sepak bola di Indonesia. Beberapa waktu sebelum JVB dibentuk di Kota Solo, ternyata di kota ini juga telah dibentuk organisasi bernama Midle Javasche Voetbal Bond (MJVB) yang menampung bond-bond asal Jawa Tengah.
MJVB ataupun JVB gagal berkiprah panjang, kendalanya tentu karena belum seluruh tim di Jawa memiliki bond. Persebaya Surabaya akhirnya terbentuk di tahun 1927, dengan nama awal SIVB. Seiring berjalannya waktu, semangat besar pribumi untuk menyatukan semangat berjuang melalui jalur sepak bola, ternyata muncul tiga tahun kemudian.
Pada 1-2 Oktober 1927 di Solo yang bertepat digedung Studie Club berlangsung sebuah pertemuan. Empat perwakilan hadir, mulai dari VVB, SIVB Surabaya, BIVB Bandung, dan PS Hizboel Wathan Jogja. Inti dari pertemuan itu adalah kesepakatan untuk mendirikan sebuah organisasi bernama Indonesische Voetbal Bond (IVB).
Walau dalam masa penjajahan Belanda, ternyata istilah “Indonesische” mulai diperkenalkan, bahkan dimulai pada periode tahun 1922. Awalnya adalah Indische Vereniging, yang merupakan perhimpunan pelajar pribumi di Belanda pada tahun 1908. Pada September 1922, nama Indische Vereniging berubah menjadi Indonesische Vereniging. Sejak saat itu istilah “Indonesier” atau “Indonesich” tenar digunakan.
Hasil pertemuan ini akhirnya membubuhkan beberapa pengurus didalamnya. Pengurus IVB antara lain adalah A Soeroto yang ditunjuk sebagai ketua, selain itu ada pula sosok Dr M Soerjatin (wakil ketua), RT Tjindarboemi (sekretaris), RM Bintarti dan Maskan (komisaris), hingga R Ng Sastrohardjendro (komisaris wilayah Jawa Tengah), sementara itu kantor IVB diputuskan berkedudukan di Surabaya.
Penggunaan logo pun sudah mulai digunakan di era itu. IVB menggunakan lambang gula kepala yang melambangkan warna merah dan putih sebagai dasar lambang tersebut. Selain itu untuk kostum akhirnya ditentukkan, mulai dari perwakilan Bandung dengan seragam merah-putih, Solo dengan putih-merah, Jogja putih-hitam dan juga Surabaya hijau-putih.
Sayang umur IVB tidak panjang, karena pada 30 April 1930 IVB dipastikkan dibubarkan. Hal ini karena kedekatannya dengan sepak bola Belanda, hingga melenceng dari tujuan awal pembentukkannya.
Sebelas hari sebelum IVB dibubarkan, tepat pada hari Sabtu 19 April 1930, bertepat di Gedung Societeit Hande Projo Jalan Yudonegaran Jogjakarta, diadakan sebuah pertemuan. Terdapat 17 orang wakil dari 7 perserikatan/bonden dari berbagai kota. (Nik)
Editor : Niko auglandy