RADARSOLO.COM - Dalam beberapa hari ini, nama Nathan Tjoe A On kerap menjadi perbincangan para netizen dan penggemar Timnas Indonesia.
Ya, punggawa Timnas Indonesia U-23 ini dinilai sangat berperan keberhasilan skuad Garuda Muda dalam beberapa laga di Piala Asia U-23.
Dia yang sedia bermain sebagai bek, namun oleh Coach Shin Tae Yong posisinya dirubah menjadi gelandang.
Namun siapa sangka, dalam posisi baru tersebut, Nathan justru bermain apik dan sangat membantu Garuda Muda dalam melangsungkan serangan dan berhasil menjadi benteng saat harus bertahan.
Usai Timnas Indonesia membantai Yordania dalam laga fase grup Piala Asia U-23, Nathan diketahui kembali ke Belanda lantaran ia hanya diberi izin oleh klubnya SC Heerenveen untuk bermain selama fase grup di turnamen tersebut.
Melihat begitu berperannya sosok Nathan di Timnas Indonesia, netizen dan fans timnas ramai-ramai memberondong akun media sosial SC Heerenveen dan meminta dengan hormat agar Nathan diperbolehkan kembali ke Timnas.
Aksi negosiasi juga dilakukan Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Dan akhirnya klubnya kembali memberikan izin kepada Nathan.
Hari ini, usai mengalahkan Korea Selatan (Korsel) pada laga perempat Final Piala Asia U-23 lewat drama adu penalti, ada pertanyaan dari netizen, kenapa Nathan Tjoe A On tidak ikut menendang penalti?
Seperti diketahui, Nathan tampil penuh dalam pertandingan yang berjalan selama 120 menit tersebut.
Dari 11 pemain yang masih aktif terlibat dalam permainan di lapangan, hanya Nathan yang absen di babak adu penalti tersebut.
Dan ternyata ada alasan teknis di balik ketidakterlibatan Nathan. Alasan ini berkaitan dengan Laws of the Game International Association Football Board (IFAB) Pasal 10 Poin 10.3.
Dilansir dari akun Instagram @forumwasitindonesia, Jumat (26/4), Pasal 10 Poin 10.3 ini menjelaskan bahwa jika sebelum babak adu penalti salah satu tim punya jumlah pemain yang lebih banyak dari tim lawan, maka tim tersebut harus mengurangi jumlah pemainnya menjadi sama dengan jumlah pemain lawan.
"Jika pada akhir pertandingan dan sebelum atau selama tendangan penalti, suatu tim mempunyai jumlah pemain yang lebih banyak dari lawannya, maka tim tersebut harus mengurangi jumlah pemainnya menjadi sama dengan jumlah lawannya," begitu bunyi dari Poin 10.3 bagian pembuka.
"Wasit harus diberitahu nama dan nomor panggung dari tim tersebut atau masing-masing tim untuk pemain yang dikecualikan. Pemain mana pun yang dikecualikan tidak berhak mengambil bagian dalam tendangan penalti."
Seperti diketahui, pada babak kedua Korsel harus bermain dengan 10 pemain lantaran salah satu pemain mereka kena kartu merah.
Maka dari itu, sebelum babak adu penalti dimulai, Timnas Indonesia yang unggul jumlah pemain harus mencoret satu nama agar jumlahnya menjadi imbang dengan pemain korsel.
Di sini, Shin Tae yong (STY) sebagai pelatih kepala beserta para staf dan pemain bisa disimpulkan telah sepakat untuk "mengorbankan" nama Nathan Tjoe-A-On dari daftar penendang penalti.
Sebagai informasi, Nathan Tjoe A On merupakan pemain SC Heerenveen yang menjadi warga negara Indonesia (WNI) dan bergabung dengan Timnas Indonesia
Nathan Tjoe A On merupakan keturunan alias diaspora yang lahir di Rotterdam, Belanda. Nathan memulai karirnya di sepak bola dengan bergabung bersama tim utama Excelsior sejak 2019 silam.
Kemudian pada jendela transfer musim panas 2023, Nathan bergabung dengan Swansea City. Untuk mendatangkan dia dibutuhkan biaya transfer senilai 348 ribu euro atau setara dengan lebih kurang 5,2 miliar rupiah.
Di Swansea, ia terus berkembang dan menjadi bagian integral dari tim. Namun, pada musim 2023/2024, Nathan dipinjamkan ke SC Heerenveen dengan biaya pinjaman sebesar €350k atau Rp 6,09 miliar.
Meskipun hanya sebagai pemain pinjaman, Nathan terus menunjukkan kualitasnya di lapangan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi SC Heerenveen.
Nathan Tjoe-A-On diketahui memiliki garis keturunan Indonesia dari sang kakek. Ayah dari ibu Nathan berasal dari Semarang, Jawa Tengah. (dam)
Editor : Damianus Bram