RADARSOLO.COM - Tepat lima tahun yang lalu, mantan pemain Persis Solo Ferryanto Eko Saputro hilang terseret ombak di Pantai Baru, Poncosari, Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis pagi, 20 Juni 2019.
Dia terseret ombak bersama putrinya, Freya Fajrina Dwi Saputri yang masih berusia tujuh tahun saat sedang berjalan-jalan di tepi pantai.
Kejadian pilu itu terjadi awalnya saat Ferryanto berjalan-jalan di tepi pantai bersama dua putrinya, Freya Fajrina Dwi Saputri (7 tahun) dan Felicia Safira Eka Saputri (12 tahun), serta keponakannya.
Anggota SAR sempat mengingatkan para pengunjung agar tidak terlalu dekat dengan air laut yang sedang pasang. Ferryanto beserta dua putri dan keponakannya lalu pindah ke tempat lain. Nahas, sekira pukul 08.30 WIB, gelombang tinggi tiba-tiba datang dan menyapu tubuh mereka.
Saat kejadian, Ferry masih sempat melemparkan Felicia ke tepi pantai, sehingga putri sulungnya itu selamat dari sapuan gelombang. Keponakan Ferry juga dapat diselamatkan oleh tim SAR.
Namun mantan kapten Persis itu dan anak bungsunya Freya tak mampu menyelamatkan diri dari terjangan gelombang. Mereka pun dinyatakan hilang.
Proses pencarian dilakukan, hingga akhirnya Fajrina ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di Pantai Trisik, Kulon Progo dua hari setelah kejadian, tepatnya Sabtu 22 Juni 2019.
Hingga proses pencarian dihentikan oleh tim gabungan sepekan sepekan setelah kejadian, tubuh Ferryanto tak juga ditemukan. Hingga saat ini pun belum ada kepastian kemana tubuhnya terbawa arus.
Tentu duka mendalam itu muncul dari banyak pihak. Namanya pun akan selalu dikenang oleh pecinta sepakbola di Kota Solo selamanya. Cukup wajar mengingat Ferryanto ikut berjasa dalam perjalanan Persis Solo di lapangan hijau.
Karirnya di Persis Solo berawal di tim junior pada musim 2001-2002, baru pada musim 2003-2004 Ferry Anto dipromosikan ke tim senior Laskar Sambernyawa.
Setelah itu Ferryanto memutuskan pindah ke klub lain di luar Solo. Mulai dari Persebi Boyolali, Persiharjo Sukoharjo, PS Palembang, hingga Persibat Batang. Baru pada kompetisi Divisi Utama musim 2009, dia diminta kembali oleh manajemen Persis Solo.
Di musim 2009, Pemilik nomor punggung 17 tersebut main 22 kali, dan sukses mencetak empat gol. Musim berikutnya pemain asal Kartasura tersebut memutuskan pindah ke PSS Sleman di kompetisi Divisi Utama 2010/2011.
Saat persis mengalami dualisme, Ferryanto kembali ke kota bengawan dan memutuskan bergabung dengan Persis versi PT. LPIS. Di kompetisi Divisi Utama versi LPIS 2011/2012, Ferryanto main 16 kali dan sukses mencetak 5 gol dan 2 kartu kuning.
Musim berikutnya, dia makin moncer dengan raihan 9 gol dari 12 laga yang dijalani Persis versi LPIS. Sayang di musim tersebut, Persis LPIS terkena diskualifikasi oleh PSSI karena dianggap tak menjalani pertandingan tandang. Hingga akhirnya langkah Persis LPIS terhenti di tengah kompetisi.
Saat dualisme berakhir dan ada penggabungan Persis LI dan Persis LPIS, Ferryanto tetap loyal bersama Persis Solo. Di kompetisi DIvisi Utama 2014 dia bermain 20 kali dan sukses mencetak 9 gol.
Di musim tersebut dia hampir membawa Persis promosi ke kasta tertinggi kala itu, yakni ISL. Sayang langkah Persis terhenti di babak 8 besar.
Musim 2015 Ferryanto tetap bersama Persis. Di musim tersebut, kompetisi resmi Divisi Utama batal digelar karena PSSI dibekukan oleh menpora. Persis tetap eksis, karena ada beberapa turnamen pramusim digelar dan diikuti.
Ferryanto ikut menyumbang dua piala buat Persis. Yakni runner up Piala Polda Jateng 2015, dan juara Plumbon Cup 2015. Di turnamen Piala Kemerdekaan, langkah Persis terhenti di babak penyisihan.
Sayang awal 2016 sebelum turnamen ISC-B 2016 digelar, Ferryanto mengumumkan kalau dia ingin gantung sepatu. Dia pensiun di usia 31 tahun.
Untuk menghormati dedikasi dan loyalitasnya buat Persis Solo, manajemen menggelar pertandingan uji coba yang dikhususkan seperti laga perpisahan untuknya. Yakni laga persahabatan antara Persis melawan Persinga Ngawi di Stadion Manahan, Minggu, 28 Februari 2016. Laga ini berakhir imbang 1-1.
Di babak kedua saat Ferryanto digantikan oleh Johan Yoga, seluruh penonton memberikan tepuk tangan kencang sebagai penghormatan untuknya.
Di akhir laga ada sebuah hal yang istimewa, di mana sebuah jersey Persis Solo berukuran raksasa bernomor punggung 17 dibentangkan di tribun selatan Manahan.
Ferryanto datang ke tribun tersebut, dan memberi salam hormat atas aksi tersebut. Usai pensiun, Ferry memutuskan menjadi wiraswasta dan tinggal di Grobogan. Sesekali dia ikut bertanding dalam sebuah laga ekshibisi di Kota Solo.
Karena tragedi yang menimpanya, sejak musim 2019 manajemen Persis Solo memutuskan untuk mempensiunkan nomor punggung 17 yang melekat dengan Ferryanto.
Ini adalah nomer ketiga yang dipensiunkan Persis Solo. Sebelumnya sudah ada nomor 12 yang tak akan dipakai tim, sebagai perlambangan untuk suporter, lalu nomor punggung 33 yang sempat digunakan (alm) Diego Mendieta, striker Persis versi LI di musim 2011/2012. (nik)
Editor : Niko auglandy