RADARSOLO.COM - Laskar Sambernyawa Muda —julukan Persis Youth— mengirim satu amunisinya di Timnas U-16, dalam gelaran ASEAN U-16 Boys Championship 2024 di Kota Solo. Dia tak lain Dafa Zaidan El-Fikri, bocah asli Balikpapan, Kalimantan Timur yang punya semangat dan dedikasi tinggi.
Getarakan permainan Dava begitu gesit. Cukup lihai mengawal barisan penyerang lawan, untuk mempertahankan gawang Timnas U-16 Indonesia dari kebobolan. Tak jarang dia juga rajin merangsek naik, membantu lini depan saat menggempur pertahanan lawan dari sisi sayap kanan.
Inilah gambaran sosok Dafa Zaidan El-Fikri, fullback andalan Indonesia di ajang ASEAN U-16 Boys Championship 2024. Ajang ini berlangsung di Stadion Manahan dan Stadion Sriwedari, 21 Juni hingga 4 Juli.
Di turnamen tersebut, Dafa ikut andil membawa Indonesia juara ketiga. Setelah membekuk Vietnam 5 gol tanpa balas, Rabu sore (3/7).
“Melihat persaingan di timnas, saya harus tetap semangat untuk menambah motivasi supaya bisa diberi kepercayaan bermain. Agustus nanti akan ada seleksi lagi, untuk Kualifikasi Piala Asia U-17 di Kuwait,” kata Dafa kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (4/7).
Bukan kebetulan Dafa bisa menembus skuad Garuda Muda. Mengingat perjalanan karirnya harus dilalui dengan “berdarah-darah”. Diawali dari menimba ilmu di sekolah sepak bola (SSB) Satria Kurma Balikpapan.
Hingga akhirnya bakat Dafa tercium eks pemain kawakan Dwi Joko Prihatin, yang tak lain Manajer Pandawa Football Academy (PFA) Sukoharjo. Kebetulan SSB Satria Kurma berafiliasi dengan PFA. Dafa pun terbang ke tanah Jawa untuk menimba ilmu di PFA. Saat itu, dia masih duduk di bangku kelas 1 SMP.
Di awal-awal menginjakkan kaki di Kota Makmur (julukan Kabupaten Sukoharjo), segala hal berjalan cukup berat bagi Dafa. Terutama mendapat kepercayaan dari tim kepelatihan. Alhasil dia masih kesulitan menembus tim utama waktu itu.
Namun, bukan Dafa namanya jika menyerah pada keadaan. Mentalitas dan etos kerjanya luar biasa. Jika mayoritas anak seusianya performa drop atau goyah saat jarang diberi kesempatan bermain, tidak demikian dengan Dafa.
Justru kegagalan itu ditelaah lewat cara positif. Instrospeksi diri dengan diimbangi kerja keras dan mentalitas kuat. Inilah yang membuatnya mulai mudah beradaptasi. Selain itu, performanya perlahan kian mengkilap.
Hingga akhirnya Dafa mulai mendapat kepercayaan sebagai starter di PFA. Kesempatan ini tidak disia-siakan. Sampai pada titik dia bisa bergabung dengan skuad Persis Youth, pada 1 Agustus 2023.
“Saya merantau dulu di akademi PFA sejak 2020, baru kemudian ikut ke Persis Youth. Cepat belajar dan cepat menyerap apa yang diinginkan pelatih, itu kunci supaya bisa bersaing,” beber Dafa.
Bergabung dengan Persis Youth, artinya jenjang karir dafa menuju pemain pro kian terbuka lebar. Maklum, saat ini Laskar Sambernyawa —julukan Persis Solo— tampil di kompetisi kasta tertinggi: Liga 1. Di mana kontestas Liga 1 wajib menyertakan akademinya, berlaga dalam Elite Pro Adacemy (EPA) U-16, U-18, dan U-20.
Sepak terjang Dafa sebagai fullback, cukup menonjol di EPA U-16 musim lalu. Alhasil namanya masuk daftar skuad Timnas U-16, proyeksi ASEAN U-16 Boys Championship 2024 di Kota Solo. Di ajang tersebut, Indonesia bergabung di Grup A. Bersama Singapura, Filipina, dan Laos.
Di laga pembuka, 21 Juni lalu, Indonesia bersua Singapura. Sayangnya, Dafa tidak masuk daftar starting eleven pilihan head coach Nova Arianto. Dia baru mencicipi rumput Manahan jelang akhir pertandingan. Tepatnya pada menit ke-88, menggantikan Nazriel.
Dafa baru diberi kepercayaan di dua laga berikutnya. Tepatnya saat Indonesia melawan Filipina (24/6) dan Laos (27/6). Seluruh laga penyidihan grup dilalui Indonesia dengan kemenangan. Hingga akhirnya tuan rumah keluar sebagai juara grup, dan harus bersua Australia di semifinal, Senin (1/7).
Sayangnya, Dafa harus bersabar di fase semifinal ini. Dia kembali jadi penghangat bench pemain cadangan. Bocah kelahiran 27 Oktober 2008 ini baru dimasukkan pada menit ke-87. Kala itu Indonesia babak belur. Bermain dengan 10 pemain, Indonesia menyerah dengan skro 3-5.
Barulah pada perebutan tempat ketiga, Dafa kembali dipercaya sebagai starter. Tepatnya saat Indonesia meladeni Vietnam. Istimewanya lagi, pemain berusia 15 tahun ini menyumbang gol kedua bagi Indonesia.
Dia mencatatkan namanya di papan skor pada masa injury time babak pertama (45+4). Gol tercipta lewat kerja sama ciamik antara Muhamad Zahaby Gholy dan Josh Holong, lalu dituntaskan Dafa lewat tendangan keras dari luar kota penalti. Hingga menggetarkan gawang Vietnam yang dikawal Hoa Xuan Tin.
“Itu gol pertama saya di timnas. Saya sangat bahagia dan bersyukur atas gol tersebut,” ujar Dafa.
Setelah ini, Dafa harus berlatih lebih keras lagi. Supaya bisa menembus skuad timnas di Kualifikasi Piala Asia U-17 di Kuwait, Oktober mendatang.
“Kans Dafa masuk Timnas U-17 tetap terbuka, meskipun kompetitornya di U-16 bagus-bagus. Intinya Dafa harus bisa mengambil pelajaran di AFF kemarin. Syukuri hasil kemarin, tapi jangan cepat puas,” pesan Manajer PFA Sukoharjo Dwi Joko Prihatin.
Rasa bangga juga dirasakan Dwi Joko atas capaian Dafa saat ini. “Dafa bisa menjadi contoh buat anak seusianya. Bahwa bakat seorang anak itu modal awal. Tapi kalau tidak ada etos kerja, semangat belajar, dan berlatih, pasti akan sulit. Mentalitas dan etos kerjanya sangat menonjol,” beber Dwi Joko. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy