RADARSOLO.COM - Indonesia pernah melahirkan kiper legendaris yang disegani di tingkat Asia. Namanya Yudo Hadianto. Pria yang kini tinggal di Laweyan, Solo, ini masih ingat momen-momen penting saat dia berjaya.
Di sebuah rumah sederhana di kawasan Laweyan, Solo, senyum hangat Yudo Hadianto, 82, menyambut kedatangan kami. Di usianya yang kini mencapai kepala delapan, legenda sepak bola Indonesia ini masih terlihat bugar, mengenakan jersey Timnas Indonesia dengan penuh kebanggaan.
Sejumlah foto terpampang rapi di ruang tamunya. Salah satunya adalah foto hitam putih Yudo yang sedang berjabat tangan dengan Presiden Soekarno di Istana Negara. Foto itu diambil jelang keberangkatan Yudo bersama Timnas Junior Indonesia ke Kejuaraan Asia Junior 1961.
“Foto ini salah satu kenangan paling berharga dalam hidup saya,” ujar Yudo sambil tersenyum.
Kisah Yudo dimulai dari halaman rumahnya di Solo, tempat ia kecil bermain bola dari gombalan kain yang diikat.
“Dulu belum ada bola beneran, kami bikin sendiri dari kain,” kenang pria kelahiran Solo, 19 September 1941.
Bakatnya terus terasah hingga bergabung dengan komunitas Persatuan Pelita Pemuda (P3) dan masuk kompetisi Persis Solo pada era 1960-an.
Karier profesional Yudo dimulai bersama klub Medan pada 1969. Namun, momen besar terjadi ketika ia dipanggil ke Timnas Junior Indonesia pada 1960-an. Pertandingan pertamanya bersama Timnas berlangsung di Bangkok pada Kejuaraan Asia.
“Saat itu AFF belum ada, kami bermain di tingkat Asia,” ujarnya.
Berkat kemampuan refleks dan insting yang tajam, Yudo disebut sebagai salah satu kiper terbaik Asia pada masanya. Bahkan, Perdana Menteri pertama Malaysia mengakui kehebatannya.
Selama memperkuat Timnas, Yudo melawan tim-tim dari negara besar seperti Perancis, Inggris, dan Jerman. Ia juga memegang rekor sebagai pemain terlama di PSSI, memperkuat Timnas dari 1961 hingga 1976.
“Bagi saya, kiper harus punya kepribadian kuat. Kita adalah benteng terakhir. Tidak boleh ada ruang untuk kebobolan,” tegasnya.
Kini, Yudo tetap aktif di dunia sepak bola melalui Komunitas Football Forever di Jakarta. Ia berbagi ilmu kepada generasi muda, berharap tradisi kejayaan sepak bola Indonesia dapat terus berlanjut.
“Sepak bola itu bukan hanya olahraga, tapi juga cara membangun karakter dan bangsa,” tutupnya penuh semangat. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy