RADARSOLO.COM – Laga Persik Kediri vs Persis Solo dalam lanjutan pekan ke-23 Liga 1 2024/2025, Jumat (14/2/2025), menyisakan kontroversi besar setelah gol yang dicetak Majed Osman dianulir oleh wasit.
Keputusan ini menjadi perdebatan karena Ousmane Fane dianggap dalam posisi offside aktif, meskipun tidak menyentuh bola. Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pemain, pelatih, dan suporter.
Kenapa Gol Persik Dianulir?
Gol Majed Osman dianulir karena wasit menilai Fane berada dalam posisi offside aktif, meskipun tidak melakukan sentuhan terhadap bola.
Berdasarkan aturan IFAB (International Football Association Board), seorang pemain dapat dinyatakan offside jika ia memengaruhi permainan, termasuk:
- Mempengaruhi pandangan kiper terhadap bola.
- Mengganggu gerakan kiper, meskipun tanpa menyentuh bola secara langsung.
Dalam insiden ini, wasit menilai Fane menghalangi pandangan kiper Persis Solo, meskipun tidak menyentuh bola.
Namun, karena keterbatasan kamera belakang gawang, sulit untuk memastikan apakah Fane benar-benar memengaruhi situasi atau tidak.
Saat itu, Majed Osman melepaskan tembakan yang mengarah ke posisi Fane, yang terlihat melakukan gerakan menghindar agar bola tetap melaju. Bola pun masuk ke gawang di tiang dekat tanpa bisa diantisipasi oleh kiper.
Jika Fane tidak menghindar, bola kemungkinan akan membentur tubuhnya dan offside langsung diberikan.
Namun, keputusan tetap menuai tanda tanya karena ada kasus serupa yang justru disahkan wasit dalam pertandingan lain.
Kasus Serupa di Sepak Bola Eropa
Keputusan ini bukan kali pertama terjadi. Di kompetisi Eropa, situasi serupa pernah menjadi kontroversi, di antaranya:
Celtic vs Bayern Munich – Gol Celtic dianulir karena seorang pemain berada dalam posisi offside meskipun tidak menyentuh bola.
Belanda vs Prancis (EURO 2024) – Gol Xavi Simons dianulir setelah Denzel Dumfries dianggap mengganggu kiper lawan, meskipun Dumfries tidak menyentuh bola dan kiper tidak bereaksi.
Ironi: Gol Serupa Pernah Disahkan di Liga 1
Menariknya, dalam beberapa pertandingan Liga 1 Indonesia, gol serupa justru disahkan oleh wasit.
Salah satu contohnya adalah gol yang dicetak Gustavo Almeida, di mana pemain dalam posisi offside tetapi tetap dinyatakan sah setelah tinjauan VAR.
Keputusan ini kembali menegaskan pentingnya teknologi tambahan, seperti kamera belakang gawang atau VAR yang lebih komprehensif, guna memastikan keadilan dan transparansi dalam pengambilan keputusan wasit.
Publik sepak bola Tanah Air tentu menunggu respons dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI terkait standar keputusan wasit di kompetisi kasta tertinggi Indonesia. (dam)
Editor : Damianus Bram