RADARSOLO.COM – Pertandingan antara Persis Solo melawan Arema FC yang digelar di Stadion Manahan pada Senin malam (5/5/2025) bukan sekadar laga Liga 1 biasa.
Di balik tensi persaingan di atas lapangan, laga ini menjadi panggung ekspresi solidaritas dan kritik tajam terhadap tragedi Kanjuruhan yang masih menyisakan luka mendalam bagi sepak bola Indonesia.
Secara hasil, Persis Solo harus kembali menelan kekalahan atas Arema FC dengan skor tipis 0-1.
Hasil ini menegaskan dominasi Arema dalam enam pertemuan terakhir di Liga 1 atas Laskar Sambernyawa, yang belum sekalipun mampu meraih kemenangan. Namun, sorotan utama malam itu tak hanya tertuju pada hasil akhir laga, melainkan pada suara-suara dari tribun.
Suporter Persis Solo, yang tergabung dalam Surakartans dan kelompok lainnya, memanfaatkan laga ini untuk menyuarakan kepedulian terhadap korban tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022.
Dalam tragedi kelam tersebut, sebanyak 135 nyawa melayang usai laga Arema FC kontra Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang. Peristiwa itu masih membekas kuat dalam ingatan publik sepak bola nasional.
Sejumlah spanduk kritis terbentang di berbagai sisi tribun Manahan malam itu. Di sisi timur, tepatnya di sektor B8, terbentang banner bertuliskan
"Your Empathy is Empty!!!" – sindiran pedas kepada manajemen Arema FC yang dinilai kurang menunjukkan empati terhadap tragedi tersebut.
Di sampingnya, spanduk lain bertuliskan "When Safety Protocols Kill Instead of Protect" juga terpampang jelas, menyuarakan kritik terhadap sistem keamanan stadion yang dinilai gagal total saat tragedi Kanjuruhan terjadi.
Masih di sisi timur, tepatnya di sektor B6 tempat anggota Surakartans berdiri, bentangan spanduk dimunculkan, bertuliskan: "Untuk jiwa-jiwa yang telah gugur, kami tidak akan diam". Spanduk ini ikut menggetarkan suasana.
Tak jauh dari sana, spanduk dengan pesan kuat ikut terpampang: "English football was reformed after Hillsborough, nothing has changed after Kanjuruhan" .
Kalimat ini merujuk pada tragedi Hillsborough 1989 di Inggris, di mana 97 suporter Liverpool meninggal dunia akibat desak-desakan di stadion.
Tragedi tersebut menjadi titik balik pembenahan sistem keamanan stadion di Inggris, kontras dengan situasi pasca-Kanjuruhan yang dinilai belum banyak mengalami perbaikan signifikan.
Ungkapan Nirempati kerap disematkan pada Arema FC usai tragedi Kanjuruhan, yang digaungkan suporter di Indonesia.
Label itu kembali mencuat lagi malam ini, seolah menjadi pengingat bahwa luka yang ditinggalkan belum sembuh dan keadilan belum sepenuhnya ditegakkan.
Ungkapan "Nirempati" sendiri berasal dalam bahasa Jawa berarti kurang peka atau tak berempati.
Kritik dari suporter Persis Solo malam itu bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan seruan moral agar tragedi seperti Kanjuruhan tidak lagi terulang.
Bahwa sepak bola bukan hanya tentang gol dan kemenangan, tapi juga soal kemanusiaan, empati, dan tanggung jawab.
Laga boleh selesai, skor boleh berpihak kepada Arema, tapi suara dari tribun Manahan membuktikan: ingatan dan solidaritas terhadap korban Kanjuruhan tak akan pernah padam. (nik)
Editor : Niko auglandy