Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Fanatisme Tanpa Batas: Suporter Persis Solo Jadi Nyawa Kedua Laskar Sambernyawa, Ong Kim Swee dan Eky Taufik Ucapkan Terimakasih

Mannisa Elfira • Senin, 19 Mei 2025 | 15:13 WIB

Aksi kpreografi Ultras 1923 saat laga Persis Solo melawan Dewa United di Stadion Manahan, Sabtu malam (17/5/2025)
Aksi kpreografi Ultras 1923 saat laga Persis Solo melawan Dewa United di Stadion Manahan, Sabtu malam (17/5/2025)

RADARSOLO.COM – Musim 2024/2025 menjadi salah satu musim paling penuh tantangan bagi Persis Solo.

Namun di tengah gelombang kesulitan, satu hal tetap berdiri kokoh: fanatisme dan loyalitas tanpa batas dari para suporter.

Mereka tak pernah lelah mendampingi Laskar Sambernyawa, dari pekan ke pekan, dari titik terendah hingga akhirnya memastikan diri bertahan di Liga 1.

Sorakan, yel-yel, doa, hingga koreografi megah di Stadion Manahan menjadi saksi nyata cinta suporter kepada klub kebanggaannya.

Di laga terakhir kandang musim ini, Sabtu (17/5), atmosfer Manahan terasa magis. Tak sekadar menyemangati, suporter turut menjadi pemain ke-12 yang tak tergantikan.

“Suporter malam ini luar biasa. Terima kasih saya ucapkan untuk semua yang membersamai kami dari awal musim, dari saat kami susah,” ucap Eky Taufik.

Baca Juga: Eky Taufik Menangis Haru, Persis Solo Akhirnya Selamat dari Jurang Degradasi Liga 1

Bek senior Persis Solo asal Sragen ini juga mengakui fanatisme suporter untuk Persis Solo begitu tak ternilai.

“Mereka punya inisiatif untuk doa bersama, mengadakan pertemuan dengan para pemain, ngobrol santai. Itu sangat penting bagi kami,” lanjutnya dengan nada haru.

Hubungan emosional antara tim dan suporter semakin terasa ketika tribun Manahan dipenuhi koreografi dan spanduk yang penuh makna. Kalimat-kalimat seperti “You’ve played with heart, bled with pride, and carried our dream still alive”, hingga “Berawal dari hati, Persis sampai mati” terpampang besar di tribun.

Baca Juga: Last Dance in Manahan, Pertanda Sananta Pamitan ke Persis Solo?

Suasana ini tak hanya membakar semangat pemain, tapi juga mengikat batin mereka dalam satu tekad  yakminiertahan bersama.

Salah satu momen paling menyentuh adalah saat Ultras 1923 menyuguhkan koreografi unik di pertengahan babak pertama.

Terlihat gambar suporter berbaju hitam menggenggam tangan pemain.

Simbol sederhana itu menjadi pesan kuat: mereka ingin bangkit bersama, melewati keterpurukan dengan kekuatan kolektif.

Tak bisa dipungkiri, musim ini Laskar Sambernyawa sempat berada di jurang degradasi.

Pergantian pelatih hingga inkonsistensi performa sempat membuat harapan mengabur.

Namun, kehadiran para suporter—baik di kandang maupun tandang—selalu menjadi dorongan moral yang nyata bagi skuad asuhan Ong Kim Swee.

Pelatih asal Malaysia itu pun tak lupa mengapresiasi peran suporter.

“Mereka memainkan peranan yang cukup besar. Dukungan suporter bukan hanya di stadion, tapi juga membentuk atmosfer positif bagi tim. Salah satu alasan kami tetap bertahan di Liga 1 adalah karena mereka,” kata OKS.

Baca Juga: Kaesang Isyaratkan Pamit dari Persis Solo, Publik Bertanya: Serius atau Sekadar Prank Lagi?

Kini, setelah memastikan diri bertahan di kasta tertinggi, rasa syukur dan kebanggaan tertulis jelas di wajah para pemain Persis Solo.

Bagi mereka, laga melawan Dewa United bukan hanya soal satu poin. Tapi tentang momen ketika cinta, harapan, dan perjuangan bersatu dalam satu tribun, satu nyanyian, dan satu kota, yakni Solo. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#persis solo #ong kim swee #liga 1 #Eky Taufik #loyalitas #Fanatisme #suporter