RADARSOLO.COM - Pada 18 Juni lalu, Persebaya Surabaya resmi merayakan hari jadinya yang ke-98.
Tak ada selebrasi besar-besaran dari manajemen klub, namun masyarakat Kota Surabaya tetap menyambut momen ini dengan antusiasme tinggi, termasuk melakukan konvoi di sejumlah titik jalan.
Namun di balik perayaan sederhana ini, muncul kembali perdebatan lama soal tanggal kelahiran Persebaya Surabaya.
Klub yang kini identik dengan warna hijau dan julukan Green Force itu diketahui awalnya bernama Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB).
Menurut berbagai literatur, SIVB didirikan oleh M. Pamoedji dan resmi berdiri pada 17 Juni 1927.
Namun, jejak historis klub sepak bola bumiputera di Surabaya ternyata jauh lebih tua dari yang selama ini dikenal publik.
Dalam buku SIVB, Pasang Surut Sepak Bola Bumiputera di Surabaya 1926-1942 karya Fery Widyatama, disebutkan bahwa pada 1913, surat kabar De Express sudah memuat laporan pertandingan antara tim Soerabaja XI melawan KPVC (klub bumiputera asal Bandung).
Pertandingan itu digelar atas inisiatif Boedi Oetomo cabang Bandung untuk mempopulerkan sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa.
Masuk ke dekade 1920-an, klub-klub sepak bola bumiputera mulai tumbuh.
Pada November 1923, koran Sport Hindia memuat keberadaan SIVB yang dipimpin oleh Bakri, dan disebutkan bahwa klub IVC (Inlandsche Voetbal Club) menjadi juara kompetisi yang diselenggarakan oleh SIVB tahun itu.
Kala itu, SIVB beranggotakan klub-klub seperti BEO, Hercules, SHVC, Sinar Hindia, Riboet, dan lainnya.
Sayangnya, SIVB bukan satu-satunya bond bumiputera di Surabaya. Ada pula PIVB (Pantjar Keling Inlandsch Voetbal Bond) dan SVB - SK (Soerabaiasche Voetbal Bond — Sinar Kota). Banyaknya bond ini menimbulkan persoalan kubu-kubuan yang menghambat perkembangan sepak bola bumiputera.
Hingga akhirnya muncul inisiatif untuk menyatukan bond-bond bumiputera di Surabaya. Pada 10 Agustus 1925, diadakan pertemuan antara Soeroto (pegawai layanan telepon Surabaya) dan pengurus SIVB.
Pertemuan itu memutuskan pembubaran SIVB versi awal dan membentuk "Comite Verbetering" atau komite perbaikan, yang bertugas menyatukan kekuatan bond bumiputera dalam satu organisasi baru.
Hasilnya, pada 16 Agustus 1925, Comite Verbetering bertemu dengan pengurus SIVB di Gedung Taman Kamulyan, Surabaya.
Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan kembali SIVB dengan format baru.
Ketua sebelumnya diganti, dan Soeroto ditunjuk sebagai ketua baru. Inilah yang disebut sebagai SIVB jilid kedua.
Namun, realisasi organisasi baru ini baru benar-benar berjalan pada Oktober 1926, ketika berbagai program mulai disusun dan dijalankan.
Melihat catatan sejarah tersebut, maka muncul pertanyaan besar: Kapan sebenarnya SIVB—yang menjadi embrio Persebaya Surabaya—lahir? Ada empat versi tahun yang disebutkan.
Pertama 1923, ketika SIVB awal disebut eksis dan menggelar kompetisi dengan IVC sebagai juara.
1925, ketika Comite Verbetering dibentuk dan rencana reorganisasi dimulai. 1926, ketika SIVB "jilid kedua" mulai aktif secara administratif.
Dan tentunya 1927, yang selama ini diperingati secara resmi sebagai hari kelahiran Persebaya.
Meski begitu, hingga saat ini, Persebaya tetap merujuk pada 17 Juni 1927 sebagai tanggal berdirinya klub, mengikuti akta formal yang dicatat dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Namun bagi penggemar sejarah, kisah panjang perjuangan SIVB menjadi catatan penting tentang perlawanan dan identitas bangsa melalui sepak bola. (nik)
Editor : Niko auglandy