RADARSOLO.COM-Menjelang bergulirnya Super League 2025/2026, satu tradisi khas Persis Solo kembali jadi sorotan para pendukungnya.
Selain menanti komposisi final skuad dan taktik baru pelatih Peter de Roo, publik Solo bertanya-tanya: kapan Laskar Sambernyawa akan ziarah ke makam Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I?
Sosok Mangkunegara I atau Raden Mas Said, yang masyhur dijuluki Pangeran Sambernyawa, dikenal sebagai simbol historis dan spiritual bagi klub kebanggaan wong Solo.
Sejak beberapa musim terakhir, manajemen, pelatih, dan pemain Persis Solo rutin melakukan napak tilas ke Astana Mangadeg, Karanganyar—tempat peristirahatan terakhir sang pahlawan nasional—sebagai bentuk penghormatan dan sumber semangat sebelum kompetisi dimulai.
Media Officer Persis Solo Bryan Barcelona memastikan bahwa ziarah tersebut tetap masuk dalam agenda resmi klub.
"Iya (Persis akan ziarah ke makam Pangeran Sambernyawa menjelang musim baru), dijadwalkan setelah training camp dan friendly match," ujar Bryan saat dikonfirmasi, Rabu (23/7).
Saat ini, Sho Yamamoto dan kawan-kawan masih berada di Yogyakarta untuk menjalani pemusatan latihan.
Sore ini, mereka dijadwalkan menghadapi Malut United dalam laga uji coba di Lapangan YIS, Yogyakarta. Rombongan baru akan kembali ke Solo malam harinya.
Ziarah ke makam Pangeran Sambernyawa bukan sekadar seremoni. Tradisi ini menyimpan makna filosofis yang kuat.
Pada musim 2022/2023, ziarah dilakukan tepat sebelum laga pertama musim dimulai.
Sementara musim lalu, tradisi ini baru digelar pada November 2024, bertepatan dengan ulang tahun ke-101 klub.
Pangeran Sambernyawa sendiri merupakan gelar kehormatan dari Nicolaas Hartingh, utusan Gubernur VOC, berkat kiprah RM Said yang tak pernah kalah di medan perang.
Baca Juga: Ini Misi Eks Bintang PSIM Jogja Bersama PSS Sleman di Liga 2 Musim Ini
Julukan itu kini melekat sebagai simbol perjuangan bagi Persis Solo.
“RM Said nyaris tidak pernah kalah dan selalu membawa kemenangan. Sehingga, julukan Sambernyawa itu digunakan untuk julukan nama Persis Solo," jelas pemerhati budaya Solo, Tundjung W. Sutirto.
"Tentu, dengan mengambil julukan Sambernyawa diharapkan menjadi spirit kesebelasan milik Kota Solo dalam dunia persepakbolaan di tanah air,” imbuh dia.
Tundjung menambahkan, penggunaan nama-nama historis sebagai simbol tim sangat lazim dalam budaya sepak bola.
“Sebagaimana PSIS Semarang juga menggunakan nama julukan Laskar Mahesa Jenar yang merupakan tokoh legenda mantan prajurit Kasultanan Demak dalam upaya mencari pusaka kerajaan,” sambungnya. (nis)
Editor : Tri wahyu Cahyono