RADARSOLO.COM – Membuka musim dengan kemenangan tandang 2-1 atas Madura United sempat memberi harapan besar bagi Persis Solo. Namun, tren positif itu cepat memudar. Laskar Sambernyawa justru terjebak dalam tiga laga tanpa kemenangan.
Kekalahan telak 0-3 dari Persija Jakarta di Stadion Manahan jadi pukulan menyakitkan. Hasil imbang 2-2 di markas PSBS Biak dan kekalahan 0-2 dari Bhayangkara FC kian menambah luka.
Situasi ini membuat Persis terdampar di posisi ke-14 klasemen sementara, hanya dua strip dari zona degradasi.
Dengan koleksi 4 poin, posisi Persis sejajar dengan tim-tim papan tengah seperti Persib Bandung, Bhayangkara FC, Semen Padang, Madura United, dan Persik Kediri.
Ketatnya persaingan membuat semua tim masih punya peluang yang sama.
Bahkan, empat tim terbawah juga sudah meraih poin. PSM Makassar dan Dewa United mengantongi 3 poin, sedangkan PSBS Biak dan Persita Tangerang baru memiliki 1 poin.
Artinya, setiap pertandingan bisa mengubah peta klasemen secara drastis.
Namun bagi Persis, kondisi ini menjadi alarm keras. Mereka dituntut segera bangkit.
Apalagi, lawan berikutnya adalah tim tetangga seprovinsi, Persijap Jepara, di Stadion Manahan pada 13 September mendatang. Kemenangan menjadi harga mati.
Misi tersebut tentu tak mudah. Meski berstatus promosi dari Liga 2, performa debut Persijap di Super League musim ini terbilang impresif. Tim asal Kota Ukir itu kini bertengger di peringkat ketujuh dengan 5 poin hasil sekali menang, dua kali seri, dan sekali kalah.
Bahkan, Persijap pernah menahan imbang PSM Makassar 1-1 di Parepare, 8 Agustus lalu.
Pelatih Persis Solo Peter de Roo mengakui banyak celah di skuadnya saat takluk dari Bhayangkara FC.
Menurutnya, masalah bukan semata soal penyelesaian akhir, melainkan minimnya upaya menciptakan peluang.
"Saya tidak berpikir ada masalah dengan finishing. Saya pikir tidak cukup tembakan ke gawang untuk benar-benar mengatakan itu. Kami sejujurnya melewatkan kesempatan (membuat peluang)," tutur juru taktik asal Belanda itu.
Peter juga menyoroti lemahnya kontribusi pemain pengganti. Absennya beberapa pilar seperti Fuad Sule (sanksi), Adriano Castanheira (cedera), dan Zanadin Fariz (Timnas U-23) membuat rotasi tak berjalan mulus.
"Kami berharap dan berekspektasi dari pergantian pemain, yang pada dasarnya ingin membuktikan kepada pelatih bahwa dia salah. Tapi mereka tidak cukup baik," ucapnya.
Lebih jauh, Peter menegaskan penyebab kekalahan Persis: penguasaan bola buruk, terlalu ceroboh, dan gagal meredam serangan balik.
"Kami membuang-buang umpan ke depan. Dalam pressing juga tidak cukup baik, dalam posisi bertahan juga tidak cukup baik, itulah mengapa kami kalah," pungkasnya.
Beruntung, jeda internasional FIFA Match Day memberi Persis waktu sekitar dua pekan untuk berbenah. Laga kontra Persijap Jepara di Manahan bakal jadi ujian penting, yakni momentum kebangkitan atau makin terpuruk. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy