RADARSOLO.COM - Sebelas tahun silam, tepatnya 22 Oktober 2014, Stadion Manahan Solo menjadi saksi salah satu laga paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Pertandingan Persis Solo vs Martapura FC di babak 8 besar Divisi Utama berakhir dengan kerusuhan besar yang menelan korban jiwa.
Suasana panas di tribun berubah menjadi amarah setelah keputusan wasit Ahmad Jafri asal Makassar dianggap merugikan tim tuan rumah.
Ribuan Pasoepati, suporter fanatik Persis Solo, yang tak puas dengan kinerja sang pengadil lapangan, merangsek turun ke lapangan.
Kericuhan pun pecah. Aparat kepolisian yang berjaga di pinggir lapangan terpaksa menembakkan gas air mata dan tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan massa.
Petugas gabungan Polisi dan TNI bergerak cepat mengamankan tim ofisial dari amukan suporter dengan bantuan anjing pelacak. Namun, situasi tetap tak terkendali.
Botol-botol mineral beterbangan. Bus tim tamu Martapura FC dan sejumlah sepeda motor petugas ikut jadi sasaran kemarahan.
Laga yang berakhir 1-1 itu pun menutup perjalanan Persis di kompetisi, karena gagal lolos ke babak selanjutnya. Namun, malam itu menyisakan luka mendalam bagi Pasoepati dan keluarga besar sepak bola Solo.
Di tengah kekacauan itu, seorang suporter bernama Joko Riyanto alias Precil, 39, meregang nyawa. Tubuhnya ditemukan tergeletak lemah di sekitar kawasan Manahan.
Dia sempat dilarikan ke RS Panti Waluyo Solo, namun nyawanya tak tertolong.
Hasil autopsi menunjukkan, tubuh Joko tertembus benda tajam sedalam 8 sentimeter hingga mengenai paru-paru.
Keesokan harinya, Kamis (23/10/2014), Joko dimakamkan di pemakaman umum Karang Wetan, Desa Pelem, Kecamatan Simo, Boyolali. Tangis mengiringi kepergian ayah dua anak itu.
Sehari-hari, Joko dikenal sebagai pengusaha kecil yang mengelola rental PlayStation di rumahnya. Ia merupakan anggota Pasoepati Distrik Simo, yang tak pernah absen mendukung Persis di setiap laga kandang.
Bagi teman-temannya, Joko bukan sekadar suporter, tapi simbol kecintaan tulus kepada Laskar Sambernyawa.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa fanatisme berlebihan di sepak bola dapat memakan korban, bahkan di kandang sendiri. (nik)
Editor : Niko auglandy