Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Eks Dirut Olahraga Persis Solo Asal Belanda Akui Indonesia Punya 100 Juta Anak Pecinta Sepak Bola, Tapi Belum Punya Fondasi Kokoh untuk Bakat Muda

Niko auglandy • Kamis, 23 Oktober 2025 | 21:25 WIB
PEMBINAAN: Persis Youth saat melawan PSM Makassar di ajang Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 di Lapangan Banyuanyar.
PEMBINAAN: Persis Youth saat melawan PSM Makassar di ajang Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 di Lapangan Banyuanyar.

RADARSOLO.COM – Ketika Frenkie de Jong berusia 12 tahun, ia sudah berlatih di bawah bimbingan pelatih muda profesional setiap hari. Namun di usia yang sama, pemain muda internasional Indonesia, Andi Faith, hanya ditemani sang kakek bermain bola di lapangan kampungnya di Jakarta.

Kisah Faith menjadi gambaran nyata kondisi pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia. Negara dengan kecintaan luar biasa terhadap sepak bola ini masih berjuang membangun sistem yang solid untuk menemukan dan mengembangkan bakat muda.

“Beberapa akademi muda di sini hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial,” ungkap Edwin Klok, eks Direktur Olahraga Persis Solo yang dilansir dari media Belanda, NOS. 

Sosok asal Belanda ini telah lama berkecimpung di dunia sepak bola Indonesia.  Edwin Klok mengakui sepak bola Indonesia memiliki beberapa catatan. 

Bicara soal sepak bola usia dini, ternyata belum lama ini dia mendengar kabar yang cukup mengejutkan. 

“Ada klub profesional yang justru meminta orang tua membayar agar anak-anak mereka bisa ikut program latihan. Itu menjadi cara mereka menutupi biaya operasional,” terangnya. 

Fenomena ini sempat jadi sorotan publik ketika keluarga seorang anak yang diterima di akademi Madura United tak sanggup membayar biaya pendaftaran.

Klok menjelaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia adalah struktur dan skala wilayahnya.

“Kita tidak bisa membandingkan Indonesia dengan negara seperti Belanda. Di sini, sepak bola amatir yang terorganisir hampir tidak ada. Ada turnamen-turnamen kecil, tapi belum ada piramida pembinaan yang jelas dan berjenjang,” terangnya.

Akibatnya, banyak pemain muda Indonesia tumbuh dengan teknik individu yang bagus namun miskin pemahaman taktik.

“Banyak anak-anak Indonesia sangat piawai menggiring bola, tapi tidak memahami posisi, pergerakan tim, atau garis permainan,” lanjut Klok.

Menurutnya, fondasi usia dini adalah kunci yang belum dimiliki Indonesia.

“Pemain harus ditemukan sejak muda dan dikembangkan dalam klub dengan visi yang jelas. Kalau itu bisa diwujudkan, Indonesia punya peluang emas—karena ada seratus juta anak yang mencintai sepak bola.”

Meski sejumlah investasi telah digelontorkan ke bidang pendidikan dan pembinaan usia muda dalam beberapa tahun terakhir, Klok menilai perubahan struktural membutuhkan waktu dan komitmen jangka panjang.

“Ini bukan proyek instan. Tapi kalau dikerjakan dengan serius, Indonesia punya potensi luar biasa untuk jadi kekuatan sepak bola Asia di masa depan,” tutup Klok optimistis. (nik) 

Editor : Niko auglandy
#persis solo #Edwin Klok