Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Cerita Haru Paul Scholes Rela Tinggalkan Pekerjaan Jadi Pundit, Demi Dampingi Rutinitas Sang Anak dengan Austisme

Nur Pramudito • Jumat, 31 Oktober 2025 | 17:24 WIB

Paul Scholes memilih mundur dari sepak bola demi fokus mendampingi putranya, Aiden, yang hidup dengan autisme
Paul Scholes memilih mundur dari sepak bola demi fokus mendampingi putranya, Aiden, yang hidup dengan autisme

RADARSOLO.COM - Legenda Manchester United, Paul Scholes, berbagi kisah menyentuh tentang kehidupannya bersama sang putra, Aiden, yang mengidap autisme dan tidak dapat berbicara (non-verbal).

Di usianya yang kini 50 tahun, Scholes memilih mundur dari dunia sepak bola dan punditry agar bisa sepenuhnya fokus menemani Aiden menjalani rutinitas hariannya yang sangat teratur.

Dalam wawancara di Stick to Football Podcast, Paul Scholes mengungkap bahwa seluruh jadwal dan aktivitasnya kini disesuaikan dengan kebutuhan anaknya.

“Saya membuat keputusan tahun ini karena Aiden, mengingat kondisinya yang khusus,” tutur Scholes.

“Semua pekerjaan saya sekarang mengikuti rutinitasnya. Ia punya jadwal yang sangat ketat setiap hari, jadi saya memutuskan semuanya harus menyesuaikan Aiden," ungkapnya

Baca Juga: Eks Pelatih Manchester United Bangga Persijap Jepara Kalahkan Persis Solo di Stadion Manahan

Scholes juga bercerita bahwa ia dan mantan istrinya, Claire, berbagi tanggung jawab dalam mengasuh Aiden.

“Kami sudah tidak bersama lagi, jadi kami bergantian tiga malam masing-masing, dan ibu Claire menjaganya setiap Jumat malam,” katanya.

Menurut Scholes, rutinitas Aiden berjalan seperti jam biologis tanpa memerlukan kalender.

“Dia tidak tahu hari atau jam, tapi bisa mengenali waktu dari aktivitas yang kami lakukan,” ujarnya.

Setiap Selasa, Scholes menjemput Aiden dari daycare untuk berenang dan membeli pizza.

Baca Juga: Gagal ke Liga Champions, Rashford Tinggalkan Manchester United Demi Barcelona: Ini Mimpi yang Jadi Kenyataan

Hari Kamis mereka makan di luar, sementara setiap Minggu pergi ke Tesco untuk membeli troli penuh cokelat.

“Dari situ dia tahu hari apa sekarang,” tambahnya.

Scholes juga jujur mengakui bahwa menjadi ayah dari anak berkebutuhan khusus sempat memengaruhi kariernya di lapangan hijau.

Ia mengenang masa-masa sulit ketika Aiden pertama kali didiagnosis autisme.

“Kami tidak tahu apa yang akan terjadi,” ucapnya. “Saya tidak bicara ke siapa pun di klub karena tidak ingin dikasihani. Lagipula, cerita ke orang lain tidak akan membantu Aiden.”

Momen-momen awal terasa sangat berat bagi Scholes. Ia mengingat saat Aiden sering melampiaskan frustrasi dengan menggigit atau mencakar karena tidak mampu mengungkapkan perasaannya.

“Rasanya sulit sekali waktu itu, bahkan ketika saya masih bermain,” kenang Scholes.

Baca Juga: Klasemen Liga Inggris 2025-26 Terbaru: MU Tembus Empat Besar, Liverpool dan Chelsea Tersungkur

Diagnosis resmi datang ketika Aiden berusia 2,5 tahun, meski Scholes dan Claire sudah menyadari perbedaan sejak lebih awal.

“Saya masih ingat setelah pertandingan melawan Derby, saya hanya duduk diam tanpa bicara. Beberapa hari kemudian manajer mencadangkan saya, padahal belum tahu apa pun. Baru beberapa minggu setelahnya saya menceritakan semuanya,” ujarnya.

Kini, Paul Scholes telah menemukan keseimbangan hidupnya. Ia memilih meninggalkan sorotan dunia sepak bola demi mendedikasikan waktunya untuk Aiden — keputusan yang mencerminkan kasih sayang dan ketulusan seorang ayah di balik ketenangan sosok legenda Manchester United itu.

Editor : Nur Pramudito
#pundit #anak #legenda #autisme #Manchester United #paul scholes #pekerjaan