Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Brutal di Lapangan, Deretan Pemain Ini Dihukum Larangan Main Beruntun: Ada Klub Didenda Rp 100 Juta

Niko auglandy • Minggu, 2 November 2025 | 00:39 WIB
Logo Liga 2
Logo Liga 2

RADARSOLO.COM– Panasnya kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 (Liga 2) bukan cuma terasa di atas rumput. Komite Disiplin (Komdis) PSSI kembali mengeluarkan sederet keputusan tegas pada 21 Oktober 2025, buntut dari berbagai pelanggaran yang terjadi di pekan sebelumnya.

Dari aksi brutal pemain, emosi suporter yang meledak, hingga tamu VIP tanpa izin di area terlarang—semuanya tak luput dari sanksi.

Pertama, Eros Dermawan, pemain Sriwijaya FC, harus menerima konsekuensi atas tindakannya yang dinilai berlebihan saat menghadapi Persekat pada 17 Oktober 2025.

Eros terbukti melakukan pelanggaran serius dengan bertindak kasar menggunakan tubuhnya secara berlebihan terhadap pemain lawan. Komdis menjatuhkan tambahan larangan bermain dua pertandingan serta denda Rp 5 juta.

Tak berhenti di situ, klubnya pun kena getah. Sriwijaya FC didenda Rp 25 juta karena ulah penontonnya yang melempar botol air minum kemasan ke arah perangkat pertandingan pada menit 90+4 dan setelah laga berakhir. Emosi di tribun jelas berujung mahal.

Kasus serupa juga menimpa Persiku Kudus. Laga melawan Persipal FC di tanggal yang sama diwarnai aksi kasar dari Bhima Wibnu Fiki Ramadhan, yang melakukan pelanggaran serius hingga diganjar kartu merah langsung.

Dia pun dijatuhi larangan bermain dua pertandingan tambahan dan denda Rp5 juta.

Tak kalah panas, suporter Persiku ikut membuat catatan hitam setelah terjadi pelemparan air minum dari tribun timur. Klub pun dihukum denda Rp15 juta.

Dari laga lain, Kushedya Hari Yudo yang membela Kendal Tornado FC juga harus gigit jari.

Dia terbukti melakukan pelanggaran serius dengan tindakan kasar terhadap pemain Deltras FC dan langsung dikartu merah.

Komdis menambah larangan bermain dua pertandingan serta denda Rp5 juta.

Sementara itu, pertandingan antara Barito Putera vs Persela Lamongan pada 18 Oktober 2025 menjadi salah satu laga paling panas.

Pemain naturalisasi senior Esteban Gabriel Vizcarra harus rela absen panjang setelah terbukti memukul pemain lawan. Komdis menjatuhkan tambahan larangan bermain tiga pertandingan plus denda Rp5 juta.

Tak hanya Vizcarra, klub Persela Lamongan pun ikut kena sanksi karena lima pemainnya diganjar kartu kuning dalam satu pertandingan—pelanggaran disiplin tim yang berbuah denda Rp 25 juta.

Lebih parah lagi, rekan setimnya, Rafiud Djarat, ternyata juga melakukan tindakan kasar terhadap pemain lawan yang luput dari perhatian wasit.

Komdis menghukum larangan bermain empat pertandingan dan denda Rp 25 juta—menjadi sanksi paling berat di antara pemain pekan ini.

Tak kalah keras, Muhammad Rio Saputro dari PSPS Pekanbaru dijatuhi larangan bermain dua laga tambahan dan denda Rp 5 juta setelah menyikut pemain Sumsel United dalam laga pada 18 Oktober.

Di laga lain, PSMS Medan juga tak luput dari bidikan Komdis.

Dalam pertandingan melawan Adhyaksa FC Banten, lima pemain mereka menerima kartu kuning. Akibat akumulasi pelanggaran disiplin tim, PSMS dihukum denda Rp25 juta.

Yang paling mengejutkan datang dari tim besar Persipura Jayapura.

Klub Mutiara Hitam dijatuhi denda Rp100 juta akibat adanya rombongan tamu VIP tanpa ID Card yang memasuki area official setelah laga kontra Persiba Balikpapan berakhir.

Kejadian itu terjadi 8 menit setelah pertandingan usai, dan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap regulasi keamanan pertandingan.

Terakhir, pemain Persiraja Banda Aceh, Wahyu Rahmat Illahi, ikut tercatat dalam daftar hukuman.

Dia terbukti memukul pemain lawan dalam duel panas melawan Persikad pada 19 Oktober 2025, dan dijatuhi tambahan larangan bermain tiga pertandingan serta denda Rp5 juta.

Satu per satu keputusan itu menegaskan komitmen Komdis PSSI dalam menegakkan disiplin di lapangan hijau.

Bagi para pemain dan klub, ini jadi alarm keras bahwa emosi yang tak terkendali dan pelanggaran sekecil apa pun bisa berujung pada harga mahal—baik dalam bentuk uang maupun kehilangan kesempatan bermain. (nik) 

Editor : Niko auglandy
#liga 1 indonesia #persipura #championship #liga 2 #persela