Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

BONGKAR ARSIP: Kapan Edisi Perdana Derby Mataram, Laga Persis Solo vs PSIM Jogja Ternyata Terjadi Hampir 100 tahun Silam, Ini Kisahnya

Niko auglandy • Sabtu, 8 November 2025 | 22:15 WIB

 

ilustrasi pertandingan sepak bola.
ilustrasi pertandingan sepak bola.

RADARSOLO.COM - Persis Solo dan PSIM Jogja kembali bersua musim ini. Derby Mataram edisi perdana di Super League 2025/2026 bakal tersaji di Stadion Manahan, 8 November 2025. Duel ini selalu menyimpan gengsi. Namun, siapa sangka, kedua tim ternyata sudah saling berhadapan hampir satu abad lalu.

Menentukan secara pasti kapan pertama kali Persis dan PSIM berjumpa memang tidak mudah. Redaktur Olahraga Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy Urdiyan, belum bisa memastikan tanggal pertemuan pertama kedua tim.

Namun penelusuran arsip koran lama—yang terbit jauh sebelum Indonesia merdeka—menemukan fakta menarik: keduanya pernah bentrok pada kompetisi resmi PSSI tahun 1931.

Kompetisi pertama PSSI saat itu bernama Stedenwedstrijden PSSI 1931. Turnamen digelar di Solo pada 1931.

Laga pembuka mempertemukan wakil Surakarta, VVB (cikal bakal Persis Solo), melawan wakil Mataram, PSIM Jogja. Pertandingan berlangsung di Alun-Alun Selatan Kota Solo, 22 Mei 1931 silam. Hasilnya menyakitkan bagi Surakarta. VVB tumbang 1–4 dari PSIM.

Wasit Soenarmo memimpin pertandingan. VVB mengenakan jersey merah-putih, sedangkan PSIM memakai seragam biru-putih.

Nama besar muncul di pertandingan tersebut. Maladi, yang kelak menjadi Menteri Olahraga RI dan Ketua PSSI, saat itu masih menjadi kiper PSIM. Di kubu Persis, nama-nama lokal seperti Soekirjo, Wisman, Pontjo, Sadiono, Giman, Soewarso, Siswanto, Widjono, Soedadio, Soharno, dan Kajat menjadi starter.

Permainan berjalan seimbang, tapi wakil Mataram tampil lebih agresif. Barisan belakang Jogja tampil solid. Maladi, Wangsa, Moeljana, dan Irsan menjadi tembok pertahanan yang sulit ditembus.

Sementara di kubu Surakarta, beberapa pemain tampil kurang maksimal. Widjana sebagai centervoor tidak menunjukkan spelverdeeling (pengatur permainan) dengan baik. Hanya Dadia dan Harna yang terlihat bekerja keras di depan.

PSIM mendapat bola pertama dari wasit. Moekan menerima umpan dari Parmadi dan membawa PSIM unggul lewat penalti setelah Giman dianggap menjatuhkan Soeharso di kotak terlarang.

Skor berubah menjadi 1–0. PSIM makin bergairah. Gol berikutnya lahir melalui Soeparmadi, membuat skor 2–0.

Di babak kedua, permainan VVB semakin menurun. Parmadi kembali mencetak gol. Skor 3–0. Tidak lama kemudian, PSIM kembali mendapat penalti. Moekan mengeksekusi dengan sempurna dan mengubah skor menjadi 4–0.

VVB sempat memperkecil keadaan lewat penalti yang dieksekusi Widjono. Namun hujan deras membuat permainan VVB semakin acak. Laga berakhir dengan kemenangan PSIM 4–1.

Panitia kompetisi, Reksohartono mencatat bahwa antusiasme masyarakat luar biasa besar. Pada hari pertama kompetisi, total 1.063 penonton hadir. Terdiri dari 1.009 pribumi dan 54 warga asing, dengan pemasukan tiket mencapai f 223,40.

Sebelum pertandingan, pada Jumat, 22 Mei 1931, Kongres PSSI hari kedua berlangsung di Gedung Habiprojo (kini areanya berubah jadi Mall Singosaren). Agenda rapat meliputi: Riwayat PSSI, Pengesahan peraturan permainan, dan anggaran dasar PSSI

Usai rapat, seluruh peserta kongres diarahkan untuk menonton laga Solo vs Mataram di Alun-Alun Selatan. Sejak hari itu, tensi antara Surakarta dan Jogja sudah terasa. Bahkan, jauh sebelum istilah Derby Mataram populer.

Kini, hampir 100 tahun berselang, duel Persis vs PSIM kembali terjadi. Sejarah berulang. Gengsi tetap sama: ini bukan sekadar sepak bola. Ini harga diri. (*)

 

Editor : Niko auglandy
#psim jogja #persis solo #Derby Mataram