RADARSOLO.COM - Persis Solo memasuki Derby Mataram dalam situasi rumit. Tanpa Peter de Roo di pinggir lapangan, kursi komando sementara dipegang oleh Tithan Wulung Suryata. Beban yang dipikul pun tak main–main.
Dia harus menjaga harga diri Persis Solo dalam duel panas kontra PSIM Jogja di Stadion Manahan, Sabtu (7/11) malam. Laga ini disiarkan langsung Vidio.com pukul 19.00.
Tithan hadir dengan kondisi tim yang “compang-camping”. Persis belum meraih kemenangan dalam sembilan laga terakhir. Ditambah posisi di papan bawah klasemen, atmosfernya makin berat. Namun Tithan tetap menegaskan satu keyakinan: “Mataram is Red.”
“Sepeninggalan coach Peter, terlepas dari beberapa hasil, ini bukan hal yang kami inginkan. Tapi pemain tidak fokus ke situ. Fokus mereka adalah bagaimana memenangkan pertandingan. Pertandingan besok lebih penting dari apapun,” tegas Tithan.
Dia menambahkan, “Untuk Derby saya rasa semua warga Solo sepakat, bagaimana pun Mataram is Red.”
Tithan tahu betul pertandingan ini bukan sekadar derbi. Lawan yang dihadapi sedang penuh percaya diri. PSIM datang ke Manahan membawa modal dua kemenangan beruntun atas Dewa United dan Persik Kediri. Sebaliknya, Persis terseok dengan catatan sembilan laga tanpa kemenangan.
“Besok laga krusial. PSIM menang dua pertandingan berturut-turut, kita di situasi sebaliknya. Tapi dalam tiga hari latihan, anak-anak menunjukkan motivasi yang berbeda,” ujar Tithan.
Duel ini menjadi momentum wajib bagi Persis Solo. Tiga poin bukan hanya soal kelasemen, tetapi juga penyelamat marwah. Persis terdampar di peringkat ke-17 dengan lima poin. Sementara PSIM nyaman di posisi ke-6 dengan 18 poin.
“Anak-anak antusias untuk menang. Persiapan jauh lebih siap. Kami percaya bisa memenangkan Derby,” tegasnya.
Sementara itu, bek jangkung Cleylton Santos ikut menegaskan semangat yang sama. Meski baru pertama kali merasakan atmosfer Derby Mataram, ia ingin memberikan semuanya di lapangan.
“Motivasi kami penuh. Apalagi besok ulang tahun Persis Solo. Kami juga perlu menang di rumah sendiri di depan suporter. Saya harap kami bisa tiga poin,” ujar Cleylton.
Derby Mataram bukan pertandingan biasa. Ini duel dua kota bertetangga yang membawa sejarah panjang di sepak bola Indonesia. Terakhir kali bentrok terjadi pada Liga 2 2021.
Namun rekor pertemuan mengarah ke kubu lawan. Dari delapan pertemuan terakhir, PSIM lebih dominan dengan tiga kemenangan. Persis menang dua kali, dan tiga laga berakhir imbang.
PSIM pun datang dengan mentalitas siap tempur. Pelatih kepala Jean-Paul van Gastel menegaskan bahwa skuadnya mempersiapkan laga ini dengan cara yang sama seperti pertandingan lainnya.
“Persiapan selalu sama. Derbi selalu menyenangkan, apalagi jika lama tidak dimainkan. Orang menantikan pertandingan seperti ini,” kata Van Gastel.
“Bagi kami, ini pertandingan biasa, tapi sangat penting karena kami ingin menang,” tegasnya.
Siapapun pemenangnya, satu hal pasti: Derby Mataram selalu menjadi urusan harga diri. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy