Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ulah Oknum Penonton, PSMS Medan Kena Sanksi dari PSSI

Niko auglandy • Selasa, 11 November 2025 | 05:05 WIB
Logo PSMS Medan
Logo PSMS Medan

RADARSOLO.COM - Sabtu sore, 25 Oktober 2025. Langit Kota Medan mulai menguning keemasan saat ribuan pasang kaki melangkah menuju Stadion Utama Sumatera Utara.

Suara terompet, nyanyian, dan genderang menggema di udara — tanda bahwa pertandingan besar akan segera dimulai.

PSMS Medan, sang Ayam Kinantan, bersiap menjamu Persiraja Banda Aceh dalam lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026.

Rivalitas dua tim Sumatera ini memang selalu sarat gengsi, bukan sekadar laga biasa — tapi duel harga diri, kebanggaan daerah, dan loyalitas yang berakar kuat.

Begitu peluit pertama dibunyikan, suasana stadion langsung menggelegar.

Nyanyian suporter membentuk dinding suara, mendorong para pemain berlari lebih cepat, menendang lebih keras. Namun di balik sorak-sorai itu, muncul momen yang mengubah euforia menjadi catatan kelam.

Dari arah tribun, gulungan-gulungan kertas tiba-tiba melayang ke udara — indah sesaat, tapi berujung pelanggaran.

Potongan kertas putih berjatuhan ke lapangan seperti salju tipis di tengah malam tropis.

Namun bagi pihak pengawas pertandingan, itu bukan pemandangan indah — itu pelanggaran ketertiban.

Beberapa hari kemudian, PSSI mengumumkan kalah situasi ini berbuah sanksi.

PSMS Medan dijatuhi denda Rp 15.000.000 atas tindakan tersebut.

Sejatinya ketegangan kala itu tak berhenti di situ. Di balik gawang Selatan, tiga orang suporter PSMS tak mampu menahan dorongan adrenalin.

Mereka menyeberangi pagar pembatas dan memasuki area sisi lapangan — momen yang seketika membuat petugas keamanan berlari cepat, mencoba menenangkan situasi.

Sorak penonton berganti dengan desahan tegang.
Meski situasi segera terkendali, insiden itu tetap tercatat sebagai pelanggaran berat.

Hasilnya: denda tambahan Rp 30.000.000 bagi klub kebanggaan Kota Medan tersebut.

Dan seolah emosi di tribun belum cukup, dari arah penonton terdengar nyanyian yang berubah nada.

Suara semangat yang awalnya penuh dukungan berubah menjadi yell-yell provokatif, menyerang tim tamu Persiraja Banda Aceh dan bahkan perangkat pertandingan.

Suasana yang seharusnya jadi perayaan sportivitas, perlahan bergeser menjadi arena emosi.

Komite Disiplin pun menutup malam itu dengan keputusan ketiga: denda Rp 15.000.000 dijatuhkan untuk chant bernada hinaan yang menggema di stadion.

Tiga pelanggaran, tiga denda. Total Rp 60.000.000 melayang dari kas PSMS Medan — bukan karena kalah di lapangan, tapi karena letupan emosi di luar garis permainan.

Yang panas tak hanya kubu PSMS, pihak Persiraja sebagai tamu dengan terpacu. 

Official tim Persiraja yakni Muhammad Yasir Syamsudin melakukan pelemparan air minum kemasan kepada penonton di sisi atas tribun VIP Barat. Tak ayal setelah sudah komdis dilakukan, tim Persiraja didenda Rp 15 juta. 

Namun uang bukanlah inti persoalannya. Malam itu, Stadion Utama Sumatera Utara menyimpan pelajaran penting: bahwa cinta terhadap tim kebanggaan tak harus diwujudkan dengan amarah.

Bahwa kebanggaan sejati bukanlah tentang seberapa keras kita berteriak, tapi seberapa dalam kita menjaga kehormatan klub.

Baca Juga: Hasil Akhir Deltras FC vs Persiba Balikpapan, Klasemen Sementara Liga 2: Laga yang Mendebarkan

Ketika lampu stadion mulai padam dan tribun perlahan kosong, angin malam Medan berhembus membawa sisa nyanyian suporter yang kini terdengar lebih tenang.

Dan di antara keheningan itu, mungkin PSMS dan para pendukungnya belajar satu hal — bahwa dalam sepak bola, cinta yang membara tetap harus punya batas, agar semangat tak berubah menjadi bara. (nik) 

Editor : Niko auglandy
#sanksi #psms medan #komdis pssi