Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sriwijaya FC, Malam yang Membara di Jakabaring, dan Kantong Jebol karena Denda di Liga 2

Niko auglandy • Selasa, 11 November 2025 | 04:05 WIB
Logo Sriwijaya FC
Logo Sriwijaya FC

RADARSOLO.COM - Langit Palembang tampak berwarna jingga keemasan ketika matahari tenggelam di balik atap megah Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring.

Di tribun, ribuan suara bersatu dalam satu irama: nyanyian kebanggaan untuk Sriwijaya FC membahana malam itu saat menjamu FC Bekasi City dalam laga Pegadaian Championship 2025/2026 (Liga 2), Minggu, 26 Oktober 2025.

Atmosfer begitu pekat — campuran antara cinta, gairah, dan ledakan semangat suporter yang tak pernah padam.

Namun malam yang seharusnya jadi pesta sepak bola, namun berubah menjadi adegan menegangkan yang tak akan mudah dilupakan.

Ketika peluit pertama berbunyi, riuh stadion menjelma lautan kebisingan.

Dari Tribun Selatan, paper roll dilemparkan dalam jumlah besar, menghujani udara stadion seperti hujan putih yang berputar di bawah cahaya lampu.

Indah di mata, tapi melanggar aturan ketertiban.
Tambahan sanksi pun kembali hadir: denda Rp 15.000.000.

 

Beberapa saat kemudian dari Tribun Utara, langit mendadak memerah. Enam flare menyala bersamaan, disusul tiga smoke bomb yang mengepulkan asap tebal hingga menutupi pandangan.

Tak berhenti di situ, satu flare lain menyala di Tribun Timur, lalu satu lagi di Tribun Selatan, membentuk pemandangan megah namun berbahaya.

Di tengah gemuruh lagu dukungan dan suara drum, nyala api itu menciptakan siluet para suporter yang menari di bawah cahaya merah menyala — simbol cinta yang berlebihan, yang akhirnya berujung sanksi berat.

Baca Juga: Hasil Akhir Barito Putera vs PSS Sleman dan Klasemen Sementara Liga 2: Balas Membalas Gol, Persaingan Puncak Grup 2 Makin Panas

Komite Disiplin PSSI pun menjatuhkan keputusan tegas: Sriwijaya FC didenda Rp 125.000.000 atas pelanggaran penyalaan flare dan smoke bomb. Sebuah harga mahal untuk atmosfer yang terlalu membara.

Namun tensi tak berhenti sampai di situ. Begitu peluit panjang tanda laga berakhir, tembok pembatas seolah tak lagi berarti.

Dari Tribun Utara, Selatan, dan Timur, ratusan suporter Sriwijaya FC berlari menembus garis batas menuju area lapangan. Mereka ingin mendekat, ingin merayakan, ingin menyatu dengan tim yang mereka cintai.

Tapi di mata penyelenggara, euforia itu berubah jadi pelanggaran serius. Area yang seharusnya steril dari penonton kini dipenuhi lautan manusia.

Keputusan pun kembali dijatuhkan: denda Rp 30.000.000 bagi klub kebanggaan Sumatera Selatan itu.

Dan seolah belum cukup, kejadian lain menambah daftar hitam malam itu.

Dalam satu malam, total Rp 170.000.000 melayang — bukan karena kekalahan di lapangan, melainkan karena letupan semangat yang melampaui batas.

Bagi para suporter Sriwijaya FC, malam itu mungkin menjadi lambang cinta tanpa batas.

Namun bagi pihak berwenang, itu adalah pengingat keras: gairah mendukung klub harus dibalut dengan tanggung jawab.

Ketika asap terakhir dari flare memudar dan stadion mulai sunyi, hanya tersisa pantulan merah samar di langit Palembang.

Malam itu, Sriwijaya FC bukan hanya menanggung denda, tapi juga membawa pulang pelajaran penting — bahwa cinta terhadap tim seharusnya menghangatkan, bukan membakar. (nik) 

Editor : Niko auglandy
#smoke bomb #sriwijaya fc #Flare #denda #sanksi