RADARSOLO.COM - Senja belum sepenuhnya tenggelam di atas langit Lamongan ketika hiruk-pikuk di Stadion Surajaya mencapai puncaknya.
Suara genderang suporter bergemuruh, seolah memantulkan detak jantung ribuan penonton yang larut dalam tensi pertandingan.
Laga Persela Lamongan kontra PSS Sleman di ajang Pegadaian Championship 2025/2026 (Liga 2) bukan sekadar pertarungan dua tim — sore itu, ia menjelma menjadi panggung drama penuh adrenalin dan emosi.
Dari pinggir lapangan, sorotan kamera mengikuti langkah Kim Jeffrey Kurniawan.
Gelandang berpengalaman itu tampil penuh semangat, seperti biasa: cepat, cerdas, dan berani mengatur irama permainan.
Namun tanpa disadari, ada sesuatu yang hilang di dada seragamnya — badge resmi kompetisi, lambang kehormatan yang seharusnya melekat di setiap pemain.
Selama 22 menit, Kim berjuang tanpa atribut itu. Sebuah kelalaian kecil di mata sebagian orang, tapi fatal di ranah profesional.
Ketika laporan resmi diserahkan, Komite Disiplin pun tak bisa tinggal diam.
Hasilnya tegas: denda Rp 25.000.000 dijatuhkan kepada PSS Sleman.
Sebuah teguran keras bahwa dalam sepak bola modern, detail kecil bisa menjadi bayangan besar yang menodai nama klub.
Namun, badai belum reda. Setelah peluit panjang tanda akhir pertandingan berbunyi, ketegangan justru memuncak.
Di tepi lapangan, suasana berubah panas. Emosi yang menumpuk sepanjang laga meletup tanpa kendali.
Dalam momen singkat yang diselimuti amarah, seorang ofisial PSS Sleman terpancing — dan melempar botol air minuman kemasan ke arah seorang fotografer yang sedang menjalankan tugasnya. Suara botol yang jatuh di tanah menorehkan keheningan seketika.
Mata-mata menoleh, suasana membeku. Apa yang seharusnya menjadi akhir pertandingan yang berkelas, berubah menjadi adegan yang mencoreng makna sportivitas.
Pihak Komite Disiplin kembali bersidang. Kali ini, hasilnya kembali menohok: denda Rp 15.000.000 dijatuhkan atas tindakan tak terpuji tersebut.
Bagi Elang Jawa, dua denda itu bukan sekadar angka. Ia adalah cermin yang memantulkan refleksi — bahwa setiap langkah, setiap tindakan, bahkan setiap emosi yang meluap, adalah tanggung jawab besar yang harus dijaga.
Panpel persela Lamongan juga harus merogoh kocek dalam-dalam karena sanksi yang diterimanya, yakni denda Rp 15 kita.
Keputusan ini diambil karena pelanggrabln adanya keributan, sehingga terjadi pelemparan air minum jenasanbjwpada salah satu fotografer setelah berakhirnya pertandingan.
Panpel dianggap gagal membuat laga berjalan dengan lancar dan kondusif.
Malam itu, bus tim PSS Sleman juga meninggalkan Stadion Surajaya dalam keheningan. Di luar, suara suporter masih bergema.
Di dalam bus, mungkin hanya ada tatapan kosong dan pikiran yang mengembara.
Sepak bola memang selalu menyimpan kisah — tentang kemenangan dan kekalahan, tentang strategi dan emosi, tentang manusia yang kadang lupa bahwa kehormatan klub tak hanya dijaga dengan gol, tapi juga dengan sikap.
Dan di Lamongan malam itu, PSS Sleman belajar satu hal penting: bahwa kesalahan kecil bisa menjadi badai besar. (nik)
Editor : Niko auglandy