RADARSOLO.COM – Desas-desus mengenai masa depan kepemilikan PSIS Semarang akhirnya terjawab. Saham mayoritas PT Mahesa Jenar resmi diakuisisi oleh pengusaha perempuan asal Semarang, Datu Nova Fatmawati, dengan total kepemilikan mencapai 74,2 persen.
Proses peresmian akuisisi tersebut ditandai melalui pertemuan antara Datu dan perwakilan keluarga pemilik saham sebelumnya, Joni Kurnianto, pada Senin (17/11).
Datu, perempuan asli Semarang yang kini berdomisili bersama suaminya di Lamongan ini mengungkapkan, langkahnya terjun ke dunia sepak bola bukanlah keputusan mendadak. Ada alasan emosional yang mengikatnya dengan PSIS Semarang sejak kecil.
Dia tumbuh dengan cerita tentang sang ayah yang selalu menyempatkan diri pergi ke stadion untuk menyaksikan pertandingan Laskar Mahesa Jenar.
“Saya dari kecil di sini. Setiap liburan ke Semarang, ayah selalu pergi menonton sepak bola. Saya dulu penasaran, siapa sih yang ditonton? Ternyata PSIS,” kenangnya dilansir dari Jawa Pos Radar Semarang.
“Setelah ayah meninggal, saya merasa perlu meneruskan cinta ayah kepada PSIS,” sambungnya.
Meski memiliki kedekatan emosional, Datu menyadari bahwa kondisi klub saat ini tengah berada dalam masa sulit. PSIS masih tertahan di papan bawah, dan situasi internal juga membutuhkan pembenahan serius. Karena itu, ia datang dengan misi besar.
“Saya melihat kondisi PSIS sedang berada di bawah. Saya ingin menyelamatkan PSIS agar kembali ke jalurnya,” ujarnya.
Dia menegaskan akan melakukan perombakan besar-besaran di tengah musim, mencakup pemain, pelatih, hingga manajemen. Langkah-langkah ini diambil sebagai fondasi untuk mengembalikan kejayaan klub kebanggaan Kota Semarang tersebut.
Di sisi lain, pihak keluarga pemilik saham sebelumnya menyambut baik akuisisi ini. Joni Kurnianto menilai hadirnya Datu didukung komunikasi yang baik dan keseriusan nyata.
“Kami yakin Mbak Datu paham sepak bola dan bisa membawa PSIS bangkit,” ujarnya.
Namun, proses menuju akuisisi ini tidaklah mulus. Sebelum Datu mengambil alih, PSIS sempat hampir diakusisi oleh Malut United. Proses negosiasi bahkan sudah mendekati tahap final, namun kandas tanpa tanda-tanda jelas.
Asisten Manajer Malut United Asghar Saleh mengaku terkejut karena pembatalan disampaikan secara mendadak.
“Aspek legalnya tinggal menunggu penandatanganan di notaris. Tiba-tiba diberi tahu proses itu batal,” ungkapnya.
Dia menyebut komunikasi dengan PT MJS mulai tersendat tiga hari sebelum pembatalan, hingga kemudian muncul pengumuman resmi di media sosial.
Padahal, menurut Asgar, kedua pihak telah mencapai kesepakatan prinsip terkait harga saham. Hanya mekanisme pembayaran yang belum final.
“Itu hal teknis, seharusnya masih bisa dibicarakan,” tegasnya.
Lebih jauh, dia menegaskan bahwa niat Malut United bukan untuk kepentingan bisnis atau politik, melainkan bagian dari hubungan baik yang terjalin selama ini.
Pembatalan secara mendadak itu membuat kubu Malut United merasa kecewa. Mereka bahkan belum menerima surat resmi pembatalan hingga kini. “Secara manusiawi kami merasa ditipu. Ketemu baik-baik, negosiasi berjalan, kesepakatan harga sudah oke, tapi tiba-tiba batal,” ujarnya.
Asgar mengaku pihaknya masih terpukul, dan dalam kondisi seperti ini, mereka tidak mungkin kembali ke meja negosiasi untuk mengelola PSIS.
Dengan resminya akuisisi oleh Datu Nova Fatmawati, perjalanan baru PSIS Semarang dimulai. Harapan besar kini disematkan kepada sosok pemilik baru ini untuk mengembalikan Laskar Mahesa Jenar ke jalur persaingan yang semestinya. (mha/JPG/nik)
Editor : Niko auglandy