RADARSOLO.COM– Drama akuisisi PSIS Semarang akhirnya mencapai babak baru. Saham mayoritas PT Mahesa Jenar resmi diambil alih pengusaha perempuan asal Semarang, Datu Nova Fatmawati, dengan total kepemilikan mencapai 74,2 persen.
Proses penyerahan saham itu berlangsung dalam pertemuan antara Datu dan perwakilan pemilik sebelumnya, Joni Kurnianto, Senin (17/11).
Datu, perempuan kelahiran Semarang yang kini tinggal di Lamongan bersama suaminya, mengungkapkan bahwa keputusannya membeli PSIS bukan sekadar langkah bisnis.
Ada kisah panjang tentang sang ayah yang kerap pergi ke stadion setiap kali mereka pulang kampung.
“Saya dari kecil di sini. Setiap liburan ke Semarang, ayah selalu pergi menonton sepak bola. Saya dulu penasaran, siapa sih yang ditonton? Ternyata PSIS,” kenangnya, dikutip dari Jawa Pos Radar Semarang.
Kisah itulah yang melekat kuat dalam dirinya.
“Setelah ayah meninggal, saya merasa perlu meneruskan cinta ayah kepada PSIS,” sambungnya.
Proses Akuisisi Penuh Drama: Dari Gagal ke Glenn, Berlabuh ke Datu
Akuisisi PSIS sempat memasuki babak rumit. Pada Sabtu (15/11), PT Mahesa Jenar Semarang (MJS) sebelumnya mengumumkan bahwa proses penjualan saham ke David Glenn — owner Malut United — batal di detik-detik akhir.
Tidak ada alasan gamblang, namun isu yang berkembang menyebut Glenn hampir menebus sekitar 75 persen saham.
PT MJS menyatakan saat itu tidak ada indikasi akan membuka negosiasi ulang.
Namun dua hari berselang, pada Senin malam, justru muncul kabar bahwa saham mayoritas sebesar 74,25 persen resmi jatuh ke tangan Datu Nova Fatmawati.
Hal menarik lainnya adalah status Datu sebagai istri dari Fariz Julinar Maurisal, Presiden dan Manajer Persela Lamongan.
Persela dan PSIS sama-sama bermain di Liga Championship 2025/2026, bahkan satu grup.
“Alhamdulillah komunikasi kami berjalan dengan baik. Segala diskusi dilakukan dengan penuh chemistry. Kami yakin Mbak Datu paham sepak bola dan bisa membawa PSIS bangkit,” ujar Joni Kurnianto.
Joni menambahkan, ketidakcocokan menjadi penyebab utama gagalnya kesepakatan dengan Glenn.
“Selain belum ditemuinya kesepakatan, juga belum ada koneksi yang baik. Mengelola klub perlu koneksi yang kuat,” jelasnya.
Misi Besar Datu: Selamatkan PSIS dari Jurang Degradasi
Motivasi Datu mengambil alih PSIS bukan hanya romansa masa kecil. Ia paham kondisi klub sedang berada di titik nadir.
Hingga laga kontra Persipura Jayapura pada Selasa (18/11), PSIS baru mengumpulkan dua poin dari 11 laga.
Mereka juga berada di zona degradasi Liga Championship. Situasi internal pun membutuhkan pembenahan besar-besaran.
“Saya ingin menyelamatkan dan mengembalikan klub ke jalur yang seharusnya. Misi saya yang paling dekat adalah membenahi tim, dari pemain, pelatih sampai manajemen,” tegasnya.
Dengan selesainya akuisisi ini, pemilik saham mayoritas sebelumnya, Yoyok Sukawi, resmi melepas posisinya di struktur eksekutif PSIS.
Laga kontra Persipura menjadi pertandingan pertama PSIS di bawah kepemilikan baru. Ironisnya dia PSIS Semarang kalah telak di laga ini. (JPG/nik)
Editor : Niko auglandy