Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jegal Juara Piala Dunia Memang Berat, Timnas CP Indonesia Dapat Pembelajaran Berharga

Mannisa Elfira • Senin, 24 November 2025 | 02:53 WIB

 

Pemain Indonesia Hafthah Hans Linduadi Wicaksono (bawah) dalam pertandingan final IFCPF Asia-Oceania Cup 2025 di Stadion Sriwedari, Solo, Sabtu (22/11/2025). Indonesia harus puas menjadi runner up setelah kalah 2-0 dari Iran.
Pemain Indonesia Hafthah Hans Linduadi Wicaksono (bawah) dalam pertandingan final IFCPF Asia-Oceania Cup 2025 di Stadion Sriwedari, Solo, Sabtu (22/11/2025). Indonesia harus puas menjadi runner up setelah kalah 2-0 dari Iran.
 

RADARSOLO.COM – Timnas CP Football Indonesia harus legawa finis sebagai runner up IFCPF Men's Asia Oceania Cup 2025. Melawan juara Piala Dunia CP 2024, Indonesia harus puas kalah 0-2 dari Iran di partai final yang digelar di Stadion Sriwedari, Sabtu malam (22/11).

Pada fase pamungkas, Iran tampil impresif. Amirhossein Ghorbani membuka keran keunggulan pada menit ke-15. Dominasi Iran berlanjut hingga Alireza Ahmadimoghadam menggandakan skor di babak kedua, sekaligus mengunci kemenangan atas Indonesia.

Bukan tanpa peluang, Indonesia juga coba menggebrak pertahanan Iran. Beberapa sepakan juga sempat membahayakan tembok Iran, termasuk saat Kapten Tim Diky Hendrawan melesatkan tendangan keras pada menit ke-27 yang sayangnya masih meleset.

Usai laga, Head Coach Timnas CP Football Indonesia Yanuar Dhuma Ardiyanto mengapresiasi perjuangan anak asuhnya hingga mampu menapaki partai final. Menurutnya, permainan kedua kubu sangat luar biasa malam ini.

"Permaianan yang luar biasa ya. Jadi, teman-teman sudah maksimal. Kami hanya terkendala di pergantian pemain. Karena beberapa pemain itu naik kelas. Jadi, klasifikasinya di FT3 dan itu hanya bisa dimainkan satu pemain di lapangan. Jadi, pergantian kita terbatas di situ," jelas Dhuma.

"Tapi, semangat juang teman-teman sudah luar biasa," lanjutnya.

Walau piala juara gagal digapai, tapi perjuangan sang Garuda di ajang ini patut diapresiasi. Mengingat Indonesia walau berstatus tuan rumah, namun datang dengan label sebagai kuda hitam.

Bukan unggulan, seperti negara besar lainnya yang sudah jadi langganan piala dunia di ajang ini. Tapi kemenangan atas Jepang (1-0) dan Australia (2-1) di babak penyisihan, ditambah unggul 3-1 atas Thailand adalah sebuah pencapaian yang sangat mengejutkan.

Target empat besar sukses digapai. Menjadi runner-up sekaligus melenggang ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat sudah kebanggaan buat Indonesia.

 Dhuma mengakui kualitas permainan Iran memang kelas dunia.

"Mereka dari serangan, dari bertahan sangat kuat ya. Jadi, kami sudah coba beberapa pola A, B, C dan sebagainya untuk menembus mereka. Tapi, memang ya itu kualitas dunia ya. Jadi, kita punya tolak ukur sekarang," ucap Dhuma.

Menurut Dhuma, kekalahan 0-2 dari juara dunia bisa menjadi tambahan semangat untuk persiapan menuju Piala Dunia di Amerika Serikat. Dia menegaskan timnya akan meningkatkan kematangan skema, terutama dalam penempatan posisi dan pola pergerakan pemain untuk menghadapi tim-tim kuat.

"Nah, kemungkinan kita akan tingkatkan lagi untuk di Amerika Serikat. Menambah semangat sekali ya. Ditambah teman-teman suporter yang hadir memerahkan Stadion Sriwedari. Itu sangat memacu semangat dari teman-teman yang tanpa lelah bermain luar biasa," tuturnya.

Setali tiga uang, kapten Timnas CP Football Indonesia, Yahya Hernanda mengaku Indonesia sudah cukup berhasil dalam merepotkan langganan finalis IFCPF World Cup ini

"Bagi saya ini pertandingan yang luar biasa. Saya merasa kami mampu memberikan perlawanan kepada Iran. Saat ini level mereka memang berada di atas kami. Semoga kedepannya kami bisa berada di level yang sama dengan Iran," kata Yahya.

Tak lupa dia memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada para suporter yang telah memadati Stadion Sriwedari Solo dari fase grup hingga partai final.

"Tanpa dukungan suporter, tidak mungkin kami bisa melangkah sejauh ini, karena turnamen ini adalah turnamen pertama kami di level Asia Oseania. Kami sudah melampaui target meski di partai final belum bisa menjadi juara," ungkap Yahya.

Di sisi lain, permainan Indonesia diapresiasi oleh kapten Timnas Iran, Hassan Safari. Menurutnya, Indonesia memberi perlawanan yang cukup ketat kepada Iran di lapangan hijau.

"Kami senang bisa mempertahankan gelar juara yang dua tahun lalu juga kami raih di Melbourne. Final ini benar-benar pertandingan yang sangat sulit. Indonesia memiliki organisasi permainan yang sangat bagus," jelas Hassan Safari. (nis/nik)

 

Editor : Niko auglandy
#iran #indonesia #IFCPF Asia Oceania Cup #CP