RADARSOLO.COM - Ada kisah menarik dari dunia sepak bola dan pendidikan di Solo Raya yang layak untuk dibagikan.
Namanya Joko Rusmanto — mantan pemain profesional yang pernah mengenakan seragam kebanggaan Persis Solo, dan kini menjalani profesi mulia sebagai guru di sekolah menengah.
Joko dikenal sebagai bek kiri atau sayap kiri yang memperkuat Persis Solo pada periode 2009 hingga 2013.
Tusukan cepat serta umpan akurat dari sisi kiri selalu menjadi ciri khasnya saat masih aktif bermain.
Musim 2013 menjadi penutup kariernya bersama Persis, pada saat tim menjalani kompetisi di bawah format Liga Indonesia (LI).
Baca Juga: PSS Sleman Diberi Libur Panjang! Ada Apa dengan Super Elja?
Setelah perjalanan panjang di dunia sepak bola, Joko mengambil keputusan besar: meninggalkan lapangan hijau demi fokus pada dunia pendidikan.
Ia memilih mengabdi sebagai pendidik, mencurahkan pengalaman dan ilmu untuk mencetak generasi muda yang berprestasi — baik dalam akademik maupun kehidupan.
Sempat Dilatih Jamado hingga Agung Setyobudi
Joko Rusmanto — atau yang akrab disapa Jokorus — menjadi satu dari sedikit mantan pemain Persis Solo era 2000-an yang kini meniti jalan hidup berbeda.
Setelah bertahun-tahun mengejar mimpi di lapangan hijau, ia memilih mengabdikan diri sebagai pendidik di sekolah menengah.
Jokorus memperkuat Persis Solo pada musim 2009/2010 hingga 2013.
Ia menjadi bagian dari Laskar Sambernyawa pada masa yang penuh dinamika, bersaing di kompetisi Divisi Utama ketika dualisme sepak bola Indonesia terjadi.
Namun, musim 2013 menjadi tahun terakhirnya bersama Persis.
“Saya main di zamannya Inyong Lolombulan, Sukisno, Jamado, sampai Agung Setyabudi. Tahun 2013 hanya main setengah musim, lalu pindah ke PSISra Sragen bersama Puji Widodo di Divisi Satu. Setelah itu saya memilih pensiun,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Solo ditemui saat roadshow Honda DBL di SMAN 7 Solo (tempatnya mengajar) , 2014 silam
Baca Juga: Hasil Akhir FC Bekasi City vs Persekat Tegal
Persaingan ketat untuk menembus skuad utama Persis membuatnya mempertimbangkan masa depan.
Hingga akhirnya, pria kelahiran 10 Juni 1981 tersebut memantapkan langkah: menanggalkan sepatu bola, lalu menggantinya dengan kapur dan papan tulis.
Dengan ijazah Pendidikan Matematika dari UNS, ia kini mengajar di SMAN 7 Surakarta.
“Saya guru Matematika, bukan guru olahraga seperti kebanyakan mantan pemain. Saya memang suka Matematika, dan ini sesuai latar belakang pendidikan saya,” jelasnya.
Jika dulu ia akrab dengan tackling dan sprint di atas rumput Manahan, kini kesehariannya lebih formal: berpakaian rapi di depan kelas, mendampingi enam rombongan belajar setiap pekan.
Meski dua profesi itu berbeda, baginya keduanya memberi kebahagiaan.
“Bermain bola itu hobi dan kebanggaan. Mengajar adalah tuntutan untuk ikut mencerdaskan bangsa,” ucapnya mantap.
Baca Juga: Performa Cahya Supriadi Bersama PSIM Jogja Banjir Apresiasi
Ingatan publik Persis mungkin masih lekat pada satu momen ikonik miliknya: gol penyeimbang ke gawang Persiram Raja Ampat pada 23 November 2010.
Gol di menit akhir itu menyelamatkan Persis dari kekalahan pertama di kandang sendiri — sebuah kenangan yang tak akan hilang dalam sejarah Laskar Sambernyawa.
Kini, Jokorus membuktikan bahwa karier atlet tidak berhenti pada peluit panjang terakhir. Ada panggilan lain yang tak kalah mulia: membentuk karakter generasi penerus — lewat Matematika dan nilai-nilai yang ia pelajari di lapangan.
Keputusan Tidak Mudah, tapi Sangat Berarti
Di era ketika banyak atlet muda masih bertanya, “Setelah pensiun, apa yang bisa aku lakukan?” — Joko memberikan jawaban melalui tindakan.
Ia menunjukkan bahwa karier di sepak bola bukan garis finish, melainkan awal perjalanan baru.
Kini ia berdiri di depan kelas, bukan lagi sebagai pahlawan pertahanan, melainkan sebagai sosok yang membentuk masa depan para siswa.
Cerita Joko Rusmanto mengingatkan kita bahwa keberhasilan tidak hanya dihitung dari jumlah tekel sempurna, gol, atau kemenangan.
Ada kemenangan lain yang lebih panjang usianya: memberi dampak, membentuk karakter, dan menginspirasi generasi.
Lapangan hijau pernah menjadi tempat ia berjuang. Kini, ruang kelas menjadi arena baru perjuangannya. (nik)