RADARSOLO.COM - Nama Riyanto mulai mencuri perhatian sejak membela Persis Solo di level usia muda.
Riyanto pernah mengemban ban kapten Persis Solo Junior pada ajang Piala Soeratin 2010–2012 — sebuah tanda bahwa ia dipandang sebagai pemimpin masa depan.
Potensinya membuat ia dipromosikan ke skuad Persis Solo versi Liga Indonesia (LI) yang berlaga di Divisi Utama 2013.
Sekadar mengingatkan, periode 2011–2013 merupakan masa yang penuh gejolak dalam sepak bola nasional.
Terjadi dualisme tim Persis Solo: versi LI dan versi LPIS, mengikuti dualisme kompetisi saat itu. Riyanto menjadi bagian dari Persis versi LI.
Debutnya di tim senior hadir saat Persis bertandang ke markas Persik Kediri di Stadion Brawijaya pada tahun 2013.
Kekalahan mungkin dirasa pahit, namun bagi Riyanto, laga itu menjadi tonggak penting perjalanan kariernya.
Namun kariernya di Persis tidak berlangsung lama. Ketika banyak pemain muda mengejar ketenaran dan kontrak profesional, Riyanto justru mengambil jalan berbeda: ia memilih fokus melanjutkan pendidikan.
Keputusan yang tidak mudah — tetapi ia menjalaninya dengan penuh keyakinan.
Kini, Riyanto tidak lagi berdiri sebagai bek tangguh di lapangan hijau profesional.
Ia mengabdi sebagai guru di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Solo, sambil tetap menekuni dunia sepak bola sebagai pembina dan pelatih.
Ia dipercaya menjadi pelatih sekaligus manajer Tim Solo untuk Pra Porprov Jawa Tengah 2026.
Hasilnya? Tim tersebut sukses melaju ke Porprov Jateng 2026 — sebuah pembuktian bahwa kepemimpinannya masih solid.
Pengalaman bermain di level profesional ia bawa ke ranah pendidikan.
Ia mengajarkan mental bertarung, disiplin, serta kerja sama — nilai-nilai yang membentuk karakter pesepakbola sejati.
Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara prestasi akademik dan olahraga, hal yang semakin jarang ditemui.
Kisah Riyanto menegaskan bahwa hidup tidak berhenti di peluit akhir pertandingan.
Selama masih ada semangat untuk berbagi dan menginspirasi, lapangan pengabdian akan selalu tersedia — bahkan lebih luas dari arena sepak bola itu sendiri. (nik)
Editor : Niko auglandy