RADARSOLO.COM - Persis Solo tidak hanya melahirkan pemain yang mengharumkan nama Kota Bengawan di lapangan hijau.
Beberapa di antara mereka memilih melanjutkan perjuangan di arena berbeda setelah peluit panjang karier sepak bola berbunyi: dunia pendidikan.
Bagi mereka, kemenangan bukan lagi semata soal gol dan trofi. Tetapi tentang mencetak karakter, membimbing masa depan, dan memastikan semangat Sambernyawa tetap menyala pada generasi berikutnya.
1-Joko Rusmanto – Dari Sayap Kiri Persis ke Guru Matematika
Nama Joko Rusmanto atau Jokorus begitu dikenal pendukung Persis di era 2009–2013. Tusukan dan umpan akurat dari sisi kiri menjadi ciri khasnya.
Namun persaingan ketat dan cinta pada dunia pendidikan membuatnya mengambil keputusan besar: menjadi guru.
Kini ia mengajar Matematika di SMAN 7 Solo, jauh dari stigma bahwa mantan pemain hanya cocok menjadi guru olahraga.
Gol terkenangnya? Sundulan penyeimbang ke gawang Persiram Raja Ampat pada 23 November 2010 yang menyelamatkan Persis dari kekalahan.
Jika dulu ia mendistribusikan bola, kini ia mendistribusikan ilmu — dan itu sama berharganya.
2-Villol Vebrian Nugrahendy – Pelatih Masa Depan dari Ruang Kelas
Villol pernah memperkuat Persis pada musim 2010. Kariernya di sepak bola profesional memang tak panjang, tapi semangatnya tak pernah padam. Ia memilih fokus menata generasi muda:
Kini dia menjadi guru olahraga SMA Batik 2 Surakarta. Sempat menjadi pelatih sepak bola pelajar berprestasi.
Namanya juga sempat ditunjuk menjadi pelatih utama PSIK Klaten di Liga 3 sejak 2022
Villol membuktikan bahwa mantan pemain bisa menjadi arsitek masa depan.
Ia menanamkan nilai disiplin dan kebersamaan — nilai yang ia bawa dari lapangan rumput ke ruang kelas dan tim binaannya.
3-Riyanto – Kapten Persis Junior yang Kini Membentuk Juara Baru
Bersinar di Piala Soeratin 2010–2012, Riyanto pernah memimpin Persis Solo Junior sebagai kapten dan kemudian naik ke tim senior versi LI pada 2013.
Namun ia mengambil jalan berbeda: melanjutkan pendidikan.
Kini ia mendidik sekaligus melatih di SKO Solo, serta menjadi pelatih dan manajer Tim Solo di ajang Pra Porprov 2026 yang sukses lolos ke Porprov Jateng 2026.
Ia memahami keseimbangan antara prestasi akademik dan olahraga, sebuah fondasi yang tak bisa dipisahkan untuk membentuk atlet berkarakter.
4-Rohmat Sabani – Dari Benteng Persis ke Penggerak Pendidikan
Masih lekat dalam ingatan, duet Rohmat Sabani bersama Nnana Onana di lini belakang Persis pada Divisi Utama 2014.
Ia termasuk pemain yang setia bersama Persis dalam dinamika dualisme klub hingga nyaris promosi ke ISL.
Cedera dan situasi kompetisi membuatnya mengalihkan haluan. Kini Rohmat mengabdi sebagai guru Penjas di SMP Muhammadiyah 8 Surakarta.
Dari menjaga gawang Persis tetap aman, kini ia menjaga moral dan kesehatan generasi muda tetap kokoh.
Mengajar: Panggilan Jiwa
Keempat mantan punggawa Persis Solo ini mengalami fase yang hampir serupa: Yakni dari euforia stadion ke ketenangan ruang kelas.
Dari sorak penonton ke hormat murid. Dari jersey bertuliskan nama ke panggilan “Pak Guru”
Mereka membuktikan bahwa karier seorang atlet tidak selesai saat pensiun, melainkan berubah menjadi bentuk pengabdian baru.
Semangat Sambernyawa kini mereka wariskan lewat pendidikan: membangun karakter, menyalakan mimpi, dan menjaga api perjuangan tetap menyala.
Selamat Hari Guru Nasional. (nik)
Editor : Niko auglandy