RADARSOLO.COM – Persiapan Persebi Boyolali menyongsong Liga 4 Jawa Tengah kian serius. Menjelang kick-off yang dijadwalkan bergulir pada pertengahan Desember mendatang, manajemen akhirnya memutuskan nakhoda baru untuk mengomandoi Laskar Pandan Arang.
Sri Widadi Raharjo, pelatih berlisensi B AFC, resmi ditunjuk sebagai juru taktik Persebi Boyolali untuk Liga 4 Jateng musim ini.
Penunjukan Sri Widadi menjadi sinyal kuat bahwa Persebi tak sekadar ingin berpartisipasi, tetapi benar-benar menargetkan kiprah optimal di kompetisi.
Pengalaman serta rekam jejak sang pelatih diyakini mampu mengangkat performa tim yang dihuni kombinasi pemain senior dan talenta lokal Boyolali.
Manajemen berharap musim ini menjadi momentum kebangkitan Persebi setelah beberapa tahun terakhir tak mampu menembus level nasional.
Nama Sri Widadi bukan wajah baru di dunia sepak bola Solo Raya. Publik sepak bola masih mengenangnya sebagai winger lincah yang berkarakter agresif dan kreatif.
Di masa jayanya, Sri Widadi sempat memperkuat Timnas Junior periode 1981–1983 dan tampil dalam berbagai laga persahabatan di Arab Saudi, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Hong Kong.
Sepak terjang gemilangnya berlanjut ketika ia menjadi bintang Arseto Solo pada 1987–1992. Ketika itu, pergerakannya di sisi sayap benar-benar menjadi momok bagi pemain bertahan lawan.
Momen terbaik dalam kariernya tercatat pada musim 1991/1992 saat mengantar Arseto Solo meraih gelar juara Galatama.
Setelah itu, ia hijrah ke Persis Solo dan kembali menorehkan kisah manis. Bersama Laskar Sambernyawa, Sri Widadi ikut membawa Persis juara Divisi II Nasional 1994—kasta ketiga Liga Indonesia kala itu—dan mengantar klub promosi ke Liga Utama (Liga 1) pada 1995.
Kakak Kandung Kashartadi
Menariknya, sepak bola benar-benar mengalir kuat dalam darah keluarga Sri Widadi.
Ia merupakan kakak kandung dari pelatih nasional Kashartadi, sosok yang membawa Sriwijaya FC menjuarai Indonesia Super League (ISL).
Dengan latar keluarga sepak bola yang kuat, kiprah Sri Widadi di dunia kepelatihan pun berjalan panjang dan konsisten.
Sempat Latih PSIK hingga Persitema
Pria yang akrab disapa Dadit tersebut memulai karier kepelatihan dengan menangani Diklat Salatiga pada 2000–2005. Setelah itu, ia dipercaya menahkodai APAC Inti senior, kemudian Persis Solo U-23.
Pada 2009, Sri Widadi naik ke level lebih tinggi saat ditunjuk menjadi pelatih kepala PSISra Sragen.
Empat tahun berselang, tepatnya musim 2013, ia kembali ke Solo sebagai asisten pelatih Persis Solo versi LPIS di Divisi Utama, mendampingi pelatih kepala Widyantoro kala itu.
Baca Juga: Liga 3 Siap Bergulir, Pelatih Persibo Bojonegoro Kirim Peringatan Keras untuk Para Kontestan
Momentum emas berikutnya hadir pada musim 2014–2015 ketika ia dipercaya sebagai head coach Persitema Temanggung di Divisi Utama.
Pengalaman kepelatihannya terus bertambah. Pada 2022, Sri Widadi sempat ditunjuk sebagai pelatih kepala tim Popda Kota Solo, sebelum akhirnya menangani Persipur Purwodadi di Liga 3.
Musim berikutnya, 2023, ia kembali dipercaya memimpin klub Jawa Tengah dengan menjabat pelatih kepala PSIK Klaten.
Musim lalu, ia juga tetap aktif mengarsiteki tim dan melanjutkan kiprahnya dalam pembinaan serta kompetisi sepak bola elite daerah.
Baca Juga: Perkiraan Pemain Persis Solo vs PSM Makassar: Usung Misi Besar Kemenangan Perdana di Manahan
Dengan rekam jejak panjang baik sebagai pemain maupun pelatih, kehadiran Sri Widadi di Persebi Boyolali bukan sekadar perekrutan pelatih baru—melainkan investasi pengalaman dan karakter.
Persebi berharap pengalaman Dadit dalam membangun tim, menghadapi tekanan kompetisi, dan membina talenta lokal dapat menjadi fondasi kuat untuk bersaing di Liga 4 Jawa Tengah musim ini. (nik)