RADARSOLO.COM – Usai sempat diliburkan beberapa hari setelah menghadapi PSM Makassar, Persis Solo kembali memacu mesin.
Laskar Sambernyawa tak ingin larut dalam kekecewaan, melainkan menjadikan kekalahan sebagai bensin untuk bangkit.
Jelang dua laga akhir tahun, Sho Yamamoto dkk mulai menggeber persiapan dengan ritme yang jauh lebih serius.
Sebelum masuk sesi latihan intensitas tinggi, seluruh pemain menjalani rangkaian tes fisik untuk memantau kebugaran usai masa istirahat.
Langkah ini menjadi alarm awal agar kesiapan fisik berada pada level ideal saat memasuki fase latihan berat.
Sabtu (6/12) latihan berpacu dalam tempo tinggi. Penguatan aspek taktikal dan penguasaan bola menjadi fokus utama.
Bukan hanya membangun skema menyerang, tetapi juga kesiapan bertahan hingga transisi yang selama ini kerap memunculkan celah.
“Fokus kita lebih kepada pembenahan secara fisik serta organisasi secara tim baik saat menyerang, bertahan maupun transisi,” ujar Karteker Persis Solo, Tithan Wulung Suryata.
Evaluasi dari laga kontra PSM Makassar masih menjadi referensi utama. Kekalahan menyakitkan tersebut menjadi pelajaran besar bahwa pertandingan tidak berakhir hingga peluit terakhir berbunyi.
Persis tidak ingin lagi kehilangan poin akibat menurunnya konsentrasi di fase krusial.
“Konsentrasi dan fokus pemain harus kuat, terutama bagaimana kita menjaga permainan di saat kita unggul,” tegas Tithan.
Akhir tahun bukan sekadar penutup kalender kompetisi, tetapi justru titik krusial bagi Persis. Dua laga menantang sudah menunggu.
Pertama, bentrok kontra Dewa United di Banten International Stadium pada 20 Desember mendatang.
Dewa baru saja memutus puasa kemenangan setelah membekuk Persita Tangerang 1-0, sehingga momentum kebangkitan tim Jan Olde mesti benar-benar diwaspadai.
Sepekan berselang, giliran Persik Kediri menjadi tuan rumah di Stadion Brawijaya (27/12).
Macan Putih di bawah komando pelatih baru dikenal berani menekan sejak menit awal—sebuah karakter yang wajib diantisipasi Laskar Sambernyawa.
Bagi Persis, Desember bukan bulan santai. Dua laga tandang, dua tantangan besar, dan satu benang merah: menjaga fokus dan kedisiplinan hingga detik terakhir. Jika itu bisa dijalankan, kebangkitan bukan sekadar wacana. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy