RADARSOLO.COM - Stadion Manahan Solo kini identik sebagai kandang Persis Solo. Namun anggapan bahwa stadion megah itu sejak awal dibangun khusus untuk Laskar Sambernyawa tidak sepenuhnya tepat.
Sejarahnya justru tak bisa dilepaskan dari eksistensi klub biru langit asal Solo, Arseto.
Gagasan pembangunan Stadion Manahan muncul pada akhir 1980-an melalui prakarsa Yayasan Ibu Tien Soeharto.
Proyek ini digarap di atas lahan bekas pacuan kuda Mangkunegaran seluas 170 ribu meter persegi.
Pembangunan dimulai pada 1989 dan berlangsung nyaris sembilan tahun sebelum akhirnya diresmikan Presiden Soeharto pada 21 Februari 1998.
Saat stadion berdiri megah dengan tribun besar mengelilingi lapangan, Arseto langsung berencana pindah dari Stadion Sriwedari.
Klub yang didirikan Sigid Harjojudanto—putra Presiden Soeharto—itu begitu bersemangat menjadikan Manahan sebagai markas baru mereka di Liga Indonesia.
Namun takdir berkata lain. Hanya tiga bulan setelah peresmian, situasi politik nasional berubah drastis. Lengsernya Soeharto pada Mei 1998 juga menyeret masa depan Arseto.
Arseto resmi bubar pada 29 Mei 1998. Harapan besar berkandang di stadion baru pun sirna seketika.
Eks pemain Arseto, Joao Bosco Carbal, masih mengingat jelas momen saat skuad Arseto diajak melihat progres pembangunan Manahan pada 1997.
“Saat kami datang rumputnya baru ditanami, tapi bangunan tribun sudah sangat megah. Saya memegang rumputnya dan bilang, tunggu musim depan kami akan berkandang di sini. Tapi setahun kemudian Arseto malah bubar,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo pada 2017.
Tidak sedikit masyarakat yang mengira Stadion Manahan dibangun khusus untuk Arseto.
Wajar, sebab proyek ini erat dikaitkan dengan keluarga Cendana. Bahkan legenda Arseto, Ricky Yakobi, pernah menegaskan bahwa sejarah Manahan tak bisa dilepaskan dari era tersebut.
“Stadion Manahan itu sebenarnya hadiah dari Pak Harto untuk PSSI zamannya Kardono, karena Indonesia juara SEA Games 1987. Banyak orang Solo berharap itu jadi kandang Arseto, tapi nyatanya Arseto sama sekali belum merasakan manisnya Manahan,” ujar Ricky Yakobi dalam wawancara 2014 silam.
Musim 1998 memang menjadi periode kelam bagi Arseto. Sebelum kompetisi dihentikan pada 25 Mei 1998, Arseto terpuruk sebagai juru kunci Grup Tengah.
Dari 14 laga, mereka hanya mencatat tiga kemenangan, dua imbang, dan sembilan kekalahan.
Setahun setelah Arseto bubar, Manahan akhirnya digunakan sebagai venue pertandingan profesional. Persis Solo, yang saat itu berkompetisi di Divisi I (kasta kedua), resmi menggelar laga kandang di sana pada 1999.
Menariknya, Persis tidak sendirian. Stadion Manahan juga menjadi rumah Pelita Jaya yang pada 2000 pindah markas ke Solo dan berganti nama menjadi Pelita Solo.
Klub tersebut hanya dua musim bertahan sebelum digantikan Persijatim Jakarta Timur pada 2002–2004, yang kemudian berganti nama menjadi Persijatim Solo FC.
Setelah hengkang dari Solo, klub itu berpindah ke Palembang dan kini dikenal sebagai Sriwijaya FC. (nik)
Editor : Niko auglandy