RADARSOLO.COM - Tendangan Kungfu di Liga 4 DIY Berujung Sanksi Seumur Hidup, PSSI DIY Ambil Sikap Tegas
Asosiasi PSSI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengambil langkah tegas menyusul insiden kekerasan yang kembali mencoreng kompetisi Liga 4 Indonesia, tepatnya pada ajang Piala Gubernur DIY 2025/2026.
Keputusan tersebut diumumkan secara resmi melalui akun Instagram @pssidiy, Rabu malam (7/5/2026) dan langsung menyita perhatian publik sepak bola nasional.
Dalam Keputusan Panitia Disiplin Liga 4 Piala Gubernur DIY Nomor: 005/Pandis_Liga4DIY_PSSI_DIY/1/2026, pemain KAFI FC bernomor punggung 2, Dwi Pilihanto Nugroho, dinyatakan terbukti bersalah melanggar Pasal 48 jo Pasal 49 jo Pasal 10 jo Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025.
Atas pelanggaran tersebut, Panitia Disiplin menjatuhkan hukuman berat berupa denda Rp1 juta serta larangan beraktivitas dalam dunia sepak bola seumur hidup.
Tak hanya menjatuhkan sanksi kepada pemain, Komite Wasit PSSI DIY juga turut mengambil langkah evaluatif.
PSSI DIY memutuskan untuk memberikan evaluasi dan pembinaan kepada perangkat pertandingan yang bertugas, serta melakukan penyegaran ulang penerapan Laws of the Game dan regulasi pertandingan secara menyeluruh bagi seluruh perangkat pertandingan di lingkungan PSSI DIY.
Kejadian Begitu Miris
Seperti diketahui, insiden ini bermula dari laga KAFI FC Jogja melawan UAD FC yang digelar di Lapangan Sitimulyo, Selasa (6/1/2026).
Pertandingan awalnya berlangsung kompetitif, hingga pada menit ke-73 terjadi momen yang kemudian viral di media sosial. Dalam perebutan bola, Dwi Aan—sapaan Dwi Pilihanto Nugroho—melakukan sapuan dengan kaki terangkat tinggi, yang justru menghantam wajah pemain UAD FC, Amirul (nomor punggung 24).
Benturan keras tersebut membuat Amirul langsung terkapar di lapangan sambil memegangi wajahnya. Informasi terbaru menyebutkan korban mengalami luka di bagian mulut dan merasakan nyeri hebat saat membuka rahang.
Namun, wasit yang memimpin pertandingan, Nopendi, hanya memberikan kartu kuning kepada pelaku, keputusan yang kemudian menuai kritik tajam dari publik dan netizen.
KAFI FC Beri Klarifikasi Usai Laga
Video insiden tendangan kungfu pemain Kafi FC tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu kecaman. Menyadari situasi yang berkembang, manajemen KAFI FC Jogja merilis pernyataan resmi pada Selasa malam.
Dalam klarifikasinya, manajemen menyampaikan permohonan maaf, namun menegaskan bahwa insiden tersebut murni terjadi karena kecerobohan teknis, bukan kesengajaan.
“Pemain kami tidak memiliki niatan untuk mencederai lawan. Insiden terjadi akibat kecerobohan saat berusaha menyapu bola dengan mengangkat kaki terlalu tinggi,” tulis manajemen KAFI FC melalui pernyataan resmi di media sosial.
Selain permintaan maaf, manajemen KAFI FC juga menyatakan komitmennya untuk bertanggung jawab dengan memberikan teguran internal kepada pemain bersangkutan, merencanakan silaturahmi langsung dengan keluarga Amirul dan manajemen UAD FC, serta memantau perkembangan kondisi cedera pemain lawan.
Tendangan Kungfu Juga Terjadi di Liga 4 Jatim
Insiden di Yogyakarta ini menambah daftar panjang sorotan negatif terhadap Liga 4 Indonesia. Sehari sebelumnya, publik juga digemparkan oleh kasus serupa di Liga 4 Jawa Timur, yang melibatkan pemain Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi.
Dalam laga tersebut, Hilmi melakukan tendangan keras ke dada pemain Perseta Tulungagung, Firman Nugraha, yang dinilai sangat membahayakan keselamatan lawan dan berujung pada sanksi berat.
Rentetan kasus ini menjadi alarm keras bagi
penyelenggara kompetisi sepak bola level bawah. Ketegasan PSSI DIY diharapkan menjadi titik balik untuk menegakkan disiplin, menjaga sportivitas, serta memastikan keselamatan pemain tetap menjadi prioritas utama di setiap pertandingan. (nik)