RADARSOLO.COM - Klub Ferroviário asal Mozambik resmi menginjakkan kaki di Jakarta pada 22 Desember 1955.
Rombongan juara bertahan Liga Distrik Lourenco Marques itu tiba melalui penerbangan dari Bangkok, melanjutkan rangkaian tur Asia yang mereka jalani sejak awal Desember.
Laga pertama Ferroviário di Indonesia langsung menyita perhatian publik sepak bola Tanah Air. Bertempat di Stadion Ikada, Jakarta—yang kini menjadi kawasan Monumen Nasional—Ferroviário menantang Tim Nasional Indonesia pada 24 Desember 1955.
Pertandingan berlangsung sengit dan berakhir imbang 2-2, setelah Ferroviário unggul lebih dulu 2-1 di babak pertama.
Timnas Indonesia menurunkan skuad terbaiknya dengan Saelan (Makassar) di bawah mistar, didukung Rashid (Medan), Dia Tjiang (Jakarta), dan Ramlan (Medan) di lini belakang.
Lini tengah diisi Kiat Sek dan Liong Hew, sementara sektor depan dipercayakan kepada Witarsa, Poa Sian Liong, Ramli, Djamiat, dan Hamdani.
Pada menit ke-20, San Liong masuk menggantikan Poa Sian Liong.
Sementara itu, Ferroviário menurunkan Da Conceição sebagai penjaga gawang, dengan barisan pemain seperti Pontes, Franco, Onofre, Hernani da Silva, Campelo, Do Vale, Senra, Pires, Low, dan Teixeira.
Pada awal babak kedua, Campelo ditarik keluar dan digantikan C. Ferreira.
Ferroviário tampil agresif sejak awal. Mereka membuka keunggulan lewat gol Campelo pada menit ke-8, sebelum menggandakan skor melalui Pires pada menit ke-30.
Tim tamu unggul 2-0 dan sempat mengendalikan tempo permainan.
Namun, Timnas Indonesia menunjukkan daya juang tinggi. Ramli memperkecil ketertinggalan pada menit ke-38, menjaga asa tuan rumah tetap hidup hingga turun minum.
Kebangkitan Indonesia berlanjut di babak kedua. Pada menit ke-53, Djamiat sukses memaksimalkan peluang dan mengubah skor menjadi 2-2.
Setelah itu, kedua tim saling melancarkan serangan, namun tak ada gol tambahan tercipta hingga wasit meniup peluit panjang.
Hasil imbang ini menjadi catatan penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Timnas mampu menahan laju klub Afrika yang saat itu dikenal tangguh dan sarat pengalaman internasional, sekaligus menandai awal rangkaian laga Ferroviário yang penuh warna selama tur mereka di Indonesia. (bersambung ke part #3)
Editor : Niko auglandy